Buntut Penonjoban 8 ASN Salatiga, DPRD Sepakat Dahului Jalur Mediasi dengan Wali Kota


Rapat Paripurna Internal Wakil Rakyat Salatiga dalam pembahasan Hak Interplasi diajukan Fraksi PDIP Salatiga di Gedung DPRD Salatiga, Kamis (27/5). Foto : Ernawaty

SALATIGA WAWASAN.CO. Ontran-ontran dinonjobkannya 8 Aparatur Sipil Negara (ASN) oleh Wali Kota Salatiga berbuntut pengajuan Hak Interpelasi oleh Fraksi PDIP Salatiga akhirnya terjawab. 

 

Seluruh Anggota DPRD Salatiga sepakat jika mendahului jalur mediasi dengan Wali Kota Salatiga dan mengenyampingkan sementara Hak Interplasi.  

 

"DPRD Salatiga sepakat menempuh jalur mediasi terlebih dahulu. Pimpinan dewan serta perwakilan Fraksi akan diagendakan untuk berdialog serta memediasi dengan Wali Kota terkait dinonjobkannya 8 ASN," kata Ketua DPRD Salatiga Dance Ishak yang memimpin Rapat Paripurna Internal Wakil Rakyat Salatiga yang dihadiri hampir seluruh anggota DPRD di Gedung DPRD Lantai II, Salatiga, Kamis (27/5). 

 

Namun, lanjut dia, jika tetap pada pendiriannya (Wali Kota kekeh dengan keputusan terkait penonjoban 8 ASN Salatiga) tidak menutup kemungkinan jalur Interplasi akan ditempuh. 

 

Sebelumnya, Ketua Fraksi PDIP Salatiga Teddy Sulistio dalam forum menegaskan tidak masalah usulan Hak Interplasi ditolak. 

 

"Kalah Interpelasi ditolak tidak akan merasa kalah, atau diterima merasa menang. Perlu diingat, Interpelasi juga solusi terakhir. Tapi pimpinan (DPRD) ada inisiatif bisa berkomunikasi dengan Wali Kota Salatiga. Bayangkan kalau gugat-gugatan antara anak dan bapak. Kita ingin sekali ada komunikasi dengan internal. Saling gandeng bareng," sebut Teddy. 

 

Sedangkan Fraksi Partai Demokrat diwakili Agus Joko Setiawan menyebutkan, jika partainya sebelumnya sudah melayangkan Surat ke DPRD agar ada komunikasi terkait per non job kan 8 ASN. 

 

"Dan sudah saatnya mereka mendapatkan keadilan. Kami juga menilai jika tidak ada upaya mediasi kami sepakat digulirkan Interplasi," tandas Agus Joko Setiawan. 

 

*Terjebak

Pemikiran berbeda dilontarkan Anggota Fraksi Partai Gerindra Sarwono. Sarwono mengingatkan seluruh anggota dewan yang hadir tidak terjebak dengan 'drama' dinonjobkannya 8 ASN Salatiga oleh Wali Kota. 

 

"Jangan terjebak dengan mereka. Ini hubungan antara anak dan orang tua," ungkap Sarwono. 

 

Ia yakin, Wali Kota Salatiga tidak 'membunuh' sekian lama (karir 8 ASN Salatiga yang di 'non job'-kan). Ia meminta agar ada tenggat waktu agar ada penyelesaian. 

 

Perihal Hak Interplasi yang diajukan Fraksi PDIP Salatiga, Sarwono menilai tahapan tersebut wajar untuk ditempuh. 

"Interplasi wajar. Dan 'non job' juga bukan hal yang luar biasa. Kebijakan tentu ada pro kontra. Dan perlu menyikapi pemikiran yang jernih. Juga harus melihat dampak terbesar ke siapa. Saya juga yakin Wali Kota tidak akan menghukum sekian lamanya. Ini bagian dari koreksi diri, merefleksi diri. Dan tidak ada yang membunuh karakter," tandas Sarwono, ditengah-tengah forum. 

 

Ditambahkan anggota Fraksi dari Partai PKB Miftah. Interplasi dinilainya satu dinamika yang baik menanggapi isu-isu yang muncul. 

 

"Substansi soal pengguna Interplasi adalah wajar menanyakan kepada Wali Kota. Dari Fraksi PKB juga terkait beberapa isu yang muncul PDIP sudah memahami soal penonjoban 8 ASN. Kami gamang belum jelas. Kami mengusulkan agar lebih jelas 8 ASN di zholimi diundang dan sebagai penyeimbang juga hadir sebagai pemeriksa bisa ditanya secara terpisah," terang Miftah. 

 

Jika tidak ada upaya Interplasi, dianggapnya juga repot. Dan menggundang tim pemeriksa serta 8 ASN baru bisa diambil kesimpulan. 

 

"Baru seberapa penting penggunaan hak interpelasi. Tapi juga setuju ada ruang diluar pengadilan. Ketika terus bergulir cukup mengganggu antara eksekutif dan legislatif. Kami siap mengajukan hak interpelasi secara tertulis," imbuhnya. 

 

Sebelumnya, Fraksi Partai Gerindra lebih dahulu menyurati pimpinan DPRD Salatiga Dance Ishak Palit agar meminta klarifikasi perihal penonjoban 8 ASN Salatiga oleh Wali Kota Salatiga Yuliyanto. Hal ini disampaikan Diah Sunarsasih kepada wartawan beberapa waktu lalu.

Penulis : ern
Editor   : edt