Risiko dalam “Ruang Tanpa Ruang”


Keakraban jarak jauh yang dinikmati berkat perkembangan teknologi ternyata tak gratis. Pengguna harus membayar dengan semakin kaburnya konsep ruang. Kekaburan ruang menggerus batas urusan publik dan urusan pribadi. Kondisi itu telah menjadi ladang konflik yang produktif.

Lihat sekarang, betapa mudahnya urusan perselingkuhan menjadi urusan “bangsa”. Dengan mengunggah foto dan caption saja, masalah rumah tangga bisa mematut perhatian warga dunia. Ketika urusan privat masuk ke ruang tanpa sekat, ia berubah jadi urusan masyarakat. Hanya karena urusan itu tampak menarik, urusan itu berubah seolah penting.

Perbincangan antarpribadi yang mestinya rahasia pun kini demikian gampang muncul sebagai urusa publik. Dengan teknologi tangkap layar (screenshot) perbincangan dalam ruang pribadi segera menyebar. Urusan sepele bisa segera menjadi urusan bersama yang menyedot energi banyak orang. Hal remeh-temeh menjelma menjadi urusan yang tampak mendesak.

Ruang adalah area yang terbentuk berkat adanya pembatas. Pembatas dalam ruang menciptakan jarak dan jangkauan.  Dengan sifat fisik yang demikian, ruang membuat sebuah urusan dapat dipilah, dipisah, dan diorganisasikan secara tertib. Dalam sebuah rumah, misalnya, ruang tamu terpisah dengan ruang masak (dapur) karena peruntukannya yang berbeda. Keduanya harus dipisahkan agar aktivitas di dua ruang itu tak bercampur.

Dalam konsep yang ebih luas, ruang bisa diartikan sebagai bidang urusan. Agar tertib, sebuah urusan harusnya dilakukan pada ruang tertentu yang tepat. Dengan cara begitu, urusan itu menjadi lebih optimal, tidak mengganggu urusan pada bidang yang lain.

Pun demikian dalam kategori urusan pribadi dan publik, kedua hal itu mestinya tetap terpisah. Yang pribadi dituanikan di ruang pribadi, yang publik ditunaikan di ruang bersama dan melibatkan banyak orang. Jika keduanya mencampur atau tertukar satu sama lain, ada begitu banyak kekacauan yang bakal terjadi.

Tanpa Sekat

Dalam komunikasi digital, konsep ruang menjadi semakin lebur. Urusan pribadi dan publik saling berinteraksi, bahkan campur. Akibatnya, komunikasi menjadi begitu riuh oleh kesalahpahaman. Adapun kesalahpahaman adalah pemantik lahirnya aneka konflik.

Dalam ruang digital, orang dari berbagai latar belakang bisa masuk dalam ruang yang sama. Di grup Facebook, WhatsApp, Intagram dan media sosial lainnya mereka seperti duduk satu meja, memungkinkan satu orang mengawasi orang lain. Orang-orang dengan latar pengetahuan dan kultural berbeda menafsir apa yang dilihatnya sesuka-suka.

Di Facebook, orang-orang dari berbagai latar belakang bisa terhubung. Konservatif berteman dengan moderat dan liberal. Islam bersahabat dengan Katolik. Pemabuk berjumpa guru moral. Orang miskin kota bisa pula jumpa kelas menengah perkotaan hedonis.

 Keterhubungan di Facebook tidak cuma terjalin melalui pertemanan. Ada grup yang anggotanya ratusan ribu orang. Ada fasilitas “mengikuti”. Juga ada fasilitas “berbagi” yang membuat kiriman dari satu orang bisa sampai di beranda orang yang sama sekali belum pernah ia dengar kabarnya. Fasilitas itulah yang membuat ruang tergerus dan nyaris hilang. Akibatnya, orang bisa mengintip satu sama lain (stalking).

 Pertemuan-pertemuan lintas kelas dan ruang semacam itu mustahil terjadi secara fisik karena keterbatasan ruang dan waktu. Secara fisik orang menjalin hubungan dengan cara lama: domba berkumpul dengan domba, harimau berkumpul dengan harimau. Guru berjumpa dosen di ruang seminar. Pedagang bertemu makelar di pasar. Santri bertemu kyai di pesantren. Demikian seterusnya.

 Dalam pergaulan yang relatif homogen, keyakinan dan pengetahuan orang-orang yang terhubung itu relatif sama. Guru dan dosen bicara tentang cara mendidik yang baik. Peternak sapi dan blantik bicara tentang harga daging yang naik. Meski keyakinan dan pengetahuan mereka tetaplah unik dan berbeda, mereka hidup dalam ruang sosial yang jelas aturan mainnya.

 Dalam ruang sosial pendidikan, misalnya, aturan moral menempati porsi utama. Guru dan dosen yang bertemu berusaha mematuhi aturan itu. Ketika saling jumpa, aturan itu mengikat keduanya. Kalaupun harus terlibat perdebatan, mereka berdebat dengan “standar” nilai yang sama, yaitu nilai yang lazim berlaku dalam dunia pendidikan.

 Dalam ruang sosial bisnis, aturannya lain lagi. Di ruang ini keuntungan finansial menjadi tujuan bersama. Petani, makelar, dan calon pembeli berbicara dengan aturan main yang telah disepekati – meskipun tidak selalu disadari. Dalam ruang seperti ini, orang berusaha saling menghormati. Kalaupun terlibat tawar-menawar yang sengit, ada etika bersama: mengambil untung tanpa harus membuat pihak lain merugi.

 Keteraturan demikian tidak ada dalam media sosial. Kerumunan di Facebook seperti warga bumi yang dikirim secara acak dan massal ke planet lain. Pola keterhubungannya berantakan atau bahkan tidak berpola sama sekali. Si konservatif dan liberal bisa tiba-tiba duduk satu “meja”. Pelacur dan santri berbincang di “warung kopi”. Pebisnis dan pertapa berjumpa begitu saja di gua.

 Di satu sisi, perjumpaan yang random seperti ini indah karena menghadirkan kemungkinan-kemungkinan tidak terbatas. Persahabatan kian luas, informasi lebih mudah terdistribusi, dan keterikatan sosial semakin kental. Tetapi, di tengah lalu lintas gagasan yang overheterogen seperti itu, tabrakan sosial tak bisa dihindarkan. Seperti becak, kereta api, bus, tank tempur, dan pesawat yang berjalan dalam satu lintasan: tabrakan tak terhindarkan. Pengendara becak menghardik masinis kereta karena gerbongnya terlalu besar. Pengendara bus menghardik pesepeda karena lajunya terlalu lamban. Pilot memaki pengendara tank karena menghalangi ruang lepas landasnya.

 Analogi di atas – sebagaimana analogi pada umumnya – mungkin biasa dan tak tepat-tepat amat. Tetapi, memang itulah yang terjadi, setidaknya yang saya rasakan selama tujuh tahun menjadi warga Facebook

 Ada ustaz yang menganjurkan umatnya sedekah sebanyak-banyaknya. Anjuran ustaz ini mungkin ditulis khusus untuk umatnya, yaitu kelompok internal yang dengan proses sosial tertentu telah bersepaham bahwa sedekah memang niscaya. Tetapi karena anjuran itu ada di Facebook, dlihat oleh pebisnis yang frekuensi pengetahuan dan tata nilainya berbeda dari si ustaz, si pebisnis menertawakan ustaz dan menuduhnya sedang memperdaya.

 Ada pegawai rendah yang selalu patuh kepada bosnya agar bisa tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Niatnya sederhana dan mulia: berbahagia bersama keluarga yang dicintainya. Tetapi karena sikapnya itu ditulis di Facebook, akhirnya dibaca oleh aktivis megalomania yang menginginkan dunia harus sama seperti keinggiannya. Aktivis idealis megaloman lalu menuduh si pekerja munafik, oportunis, dan manusia tak berguna.

 Ada orang yang sedang belajar menulis bahasa Inggris dan memberanikan diri menggunakannya meski berantakan dan terbata. Tulisannya terpublikasi lalu dibaca orang yang kemahiran menulisnya sudah bintang lima. Tulisan orang yang sedang belajar dikatakan konyol dan memalukan. Dari situ, mengalirlah olok-olok, perdebatan, dan kemudian: konflik.

 Selain tiga contoh itu, ada begitu banyak pertengkaran di Facebook yang disebabkan karena ketidakhadiran ruang. Semua orang bisa saling intip, saling melihat, saling menghina, dan saling menista. Kondisi demikian diperparah oleh kepribadian narsistik yang diidap oleh sebagian besar pengguna media sosial. Pengidap kepribadian narsistik tak malu mendaku dirinya mulia, sembari mendegradasi liyan sebagai pihak yang hina.

 Gejala ini agak sulit dihindari, terutama karena keterbukaan telanjur menjadi nilai yang dijunjung tinggi. Tetapi sejauh keterbukaan hanya dimanfaatkan sebagai sarana saling mengintip, kita perlu bersiap-siap menyambut konflik yang lebih tajam.

 Untuk menghindarinya, keterbukaan dan kebebasan musti dimanfaatkan dengan akal budi. Keterbukaan dan kebebasan tidak diartikan sebagai ketiadaan aturan. Sebaliknya, kebebasan harus dimaknai sebagai pencapaian berpikir. Ada swasensor, swasunting dari para pengguna media sosial agar yang privat dan publik tetap terpisah. Hal  yang penting dan remeh temeh juga harus berada di “keranjang” yang berbeda.

 

Penulis adalah Pengajar  Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang

Penulis :
Editor   :