Agustina Wilujeng Yakin Pandemi Kian Menguatkan Gotong Royong Kebhinnekaan


Agustina Wilujeng memberi pengantar dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di BLK Mahardhika Satria Nugraha, Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (31/7).

BERGAS, WAWASANCO --  Rasa persatuan, kesatuan, dan solidaritas warga terbukti mampu meredam risiko krisis sosial akibat pademi. “Saat ekonomi terkontraksi, bisnis melemah, daya beli menurun, saat itu pula muncul risiko krisis. Berprinsip Bhinneka Tunggal Ika dan kegotongroyongan, kemungkinan-kemungkinan risiko itu dapat dihadapi bersama,” kata Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP Agustina Wilujeng Pramestuti SS, MM.

Agustina mengatakan itu pada Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di BLK Mahardhika Satria Nugraha, Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (30/7). Hadir sebagai pembicara Muhammad Aulia S SS (Direktur Kuasa Kata Media), Gunawan Tri Rahmadi SE (legislator DPRD Kab Semarang), dan Sugeng Wibawa (Ketua LPM Bina Risan Cendekia).

''Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung selama 17 bulan ini telah sedemikian berdampak pada kehidupan masyarakat. Pandemi Covid-19 sekaligus membuktikan bahwa Indonesia memiliki benteng yang kuat menghadapi pandemi, yakni 4 Pilar Kebangsaan, khususnya pilar Bhinneka Tunggal ika.''

Agustina menandaskan, pandemi Covid-19 menghantam seluruh dunia. Namun, terlihat bahwa semangat solidaritas yang dibangun dengan 4 Pilar Kebangsaan memperkuat daya tahan masyarakat menghadapi pandemi. “Gotong royong dalam konsep keindonesiaan ini jauh melampaui konsep altruisme dan tindakan karitatif sebagaimana dikenal di negara-negara lain. Gotong royong merupakan tindakan holistik berdasarkan semangat Bhinneka Tunggal ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua,” tegasnya.

Pandemi sendiri belum usai dan tidak diketahui kapan berakhir. Meski demikian, rakyat dan pemerintah dapat bersikap optimistis pandemi ini akan terlewati dengan baik. Optimisme penting ketika semangat dan daya juang tetap harus dikobarkan dalam situasi sulit akibat dampak pandemi.

Terlihat dari lingkungan terkecil di wilayah Rukun Tetangga, sikap bahu-membahu dan saling mendukung dalam semangat gotong royong secara signifikan telah mengurangi beban masyarakat. “Saat warga terdampak pandemi merasa tidak mampu lagi bergerak, aksi gotong royong dengan cepat dilakukan membantu sesama warga. Tanpa kendala birokratis, tanpa sekat perbedaan, tanpa penghalang demografi. Itulah gotong royong dari prinsip Bhinneka Tunggal Ika,” kata kandidat doktor Antropologi Undip itu.

Sebagaimana diketahui, lanjut Agustina, 4 Pilar Kebangsaan terdiri atas UUD 1945, Pancasila, NKRI dan Bhinneka Tunggal ika yang merupakan satu jalinan tak terpisahkan. Internalisasi 4 pilar melalui beragam tindakan dan aksi bersama mengatasi pandemi sangat penting sebagai pembelajaran lintas generasi.

“Banyak yang khawatir, generasi muda kita mengalami lost of learning karena kegiatan belajar di sekolah ditiadakan. Harus diingat, belajar tidak hanya di ruang kelas tetapi juga dalam tindakan nyata. Melibatkan generasi muda dalam perjuangan gotong royong mengatasi dampak pandemi juga merupakan kegiatan pembelajaran yang tidak kalah pentingnya. Justru, melalui aksi gotong royong, akan tertanam lebih kuat konsep gotong royong dalam benak anak-anak muda,” paparny.

Ketua LPM Bina Risan Cendekia Sugeng Wibawa menambahkan, pandemi membawa hikmah bagi generasi muda untuk mengembangkan aksi gotong royong dalam tindakan nyata. “Terlihat, banyak anak muda dengan giat spontan menjadi relawan Covi-19, membuka dapur umum, membangun infrastruktur digital untuk membantu penanganan Covid-19. Semua itu memperoleh ruang kristalisasi selama pandemi dan semakin memperkuat semangat gotong royong,” kata dia.

Senada dengan itu, anggota DPRD Kab Semarang Gunawan Tri Rahmadi SE mengatakan, gotong royong dalam Bhinneka Tunggal Ika berakar sangat dalam dari tradisi dan kebudayaan adiluhung Indonesia. Tanpa 4 Pilar Kebangsaan, bencana massal seperti pandemi berisiko menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bangsa. “Gotong royong di sektor ekonomi, perdagangan,  sosial, politik dan semua lini mengubah kesulitan menjadi harapan,” ujarnya.(***)

Penulis : bs
Editor   : edt