Dia Mencemari Kebanggaanku

510

SELAMA 11 tahun menikah, tak pernah sekalipun aku mengecewakan suami. Layanan lahir batin aku usahakan surgawi. Hubungan dengan keluarganya, relasi, bahkan warga, selalu sempurna.

Ia sosok yang dikagumi keluarga, disukai warga, dan semua itu karena andilku. Tapi, balasan dari suami, sungguh menyakitkan. Justru ketika kehidupan kami sudah demikian mapan, ia memberikan "hadiah" yang sangat sakit untuk aku tanggungkan.

Ia telah tercemar, semua kemudian jadi hambar. 

Kehidupan kami boleh dikatakan menjadi contoh baik di dalam keluarga besar Mas Santoso. Keluargaku pun sangat bangga padanya, terutama ayah. Ia menjadi rujukan untuk adik-adikku kalau mencari jodoh. Hal yang sangat biasa bagi ayah untuk mengatakan, "Contoh kakakmu, pintar memilih jodoh," kepada adik-adik perempuanku. Dan, hal itu membuat aku kian hati-hati menjaga image Mas Santoso di mata keluarga. Tak ada "cerita" tak baik yang aku bagi kepada keluarga. Karena itu, tak ada cela yang diketahui keluarga.

Di lingkungan pun, Mas Santoso bersinar. Pernah menjabat Ketua RT termuda di kompleks perumahan kami, karena keaktifannya berbaur dengan warga.

Kariernya juga cukup bagus. Ketika menikah, ia hanya staf biasa di sebuah bank swasta. Tapi, seiring waktu, kariernya melesat. Kini, ia menangani bagian kredit, sebuah lahan yang cukup basah.

Seiring karier yang baik itu, perubahan sikap Mas Santoso juga kian baik. Ia tambah betah di rumah, kian perhatian sama Kikan dan Arsya, dua anak kami, dan selalu menyempatkan akhir pekan bersama. Kadang main ke rumah mertua, kadang ke luar kota. Yogya adalah kota yang acap kami datangi untuk berakhir pekan.

Intinya, tak ada yang layak aku cemaskan. Kemesraan kami pun tak berkurang. Meski, jujur saja, untuk urusan ranjang, Mas Santoso tidak sangat aktif. Ia termasuk lelaki konvensional, tidak meminta macam-macam, dan jika pun ada variasi, itu lebih karena keinginanku. Hal itu terjadi karena komunikasi seks antarakami pun cukup terbuka. Aku ingin apa, ia akan memberi. Ia minta apa, akan aku usahakan. Sepanjang masih tidak aneh-aneh.

Namun, setahun yang lalu, sesuatu yang menyakitkan hatiku terjadi. Aku tak ingat persis tanggalnya, tapi sekitar bulan April, sewaktu dia ditugaskan ke kantor pusat, di Jakarta. Ya, dia pamit selama dua minggu, pelatihan dan acara kantor, yang aku tak tahu detil. Ini bukan kepergian yang pertama, meski baru kali ini dengan waktu yang cukup lama. Dan, jika Mas santoso pergi, anak-anak yang paling kehilangan. Meski, sebagai ibu rumah tangga --aku memilih tak bekerja-- waktuku cukup untuk mengambilalih "ketakhadiran" Mas Santoso.

Dua minggu, dan tak ada kejadian apa-apa. Ia kemudian kembali, seperti biasa. Bercengkrama dengan anak-anak, menanyakan kabar bapak-ibu, dan tidur. Malamnya, karena lama tak bersama, kami pun bermesraan. Mas Santoso tampak haus, dan aku pun mengimbangi. Dan semua berjalan dengan baik. Keesokan paginya, ternyata Mas santoso masih "ingin", aku pun memenuhinya. Dia tampak sangat menikmati hubungan kami. Aku bangga.

Tapi, empat hari setelah itu, kurasakan ada yang tak nyaman di tubuhku. Badanku panas, meriang. Bahkan, kalau, pipis, terasa sekali perih dan panas. Ini tidak wajar. Tidak pernah aku mengalami hal seperti ini. Meski sudah kucoba menelan obat sakit kepala, panas tubuhku tak juga hilang. Bahkan, keesokan harinya, keputihan menyerangku.

Perih, panas, dan keputihan? Aku panik. Mau memberitahu Mas Santoso, aku takut dia menduga yang bukan-bukan. Tapi mendiamkan saja, rasanya aku tak tahan. Kepadanya, aku hanya mengaku demam, dan kurang enak badan.

Tapi, di hari kelima, saat dia berangkat kerja, dan anak-anak bersekolah, meluncurlah aku ke dokter kulit dan kelamin. Kuceritakan semua masalahku. Dan, pertanyaan dokter itu sungguh menyinggung perasaanku. "Apakah ibu pernah berhubungan dengan lelaki lain selain suami?"

Ingin rasanya aku segera pergi, keluar dari ruang periksa, terhina dengan pertanyaan itu. Aku bahkan tak menjawab. Tampaknya, dokter itu menyadari ketersinggunganku. Ia cepat menukas, "Maaf, bukan apa-apa, ini hanya pertanyaan standar. Baiklah, mari saya periksa saja, untuk hasil yang lebih jelas," pintanya.

Meski sudah agak malas dan marah, kuikuti juga. Dan, setelah selesai, ia mengulang lagi pertanyaan itu. "Jika ibu tak pernah berhubungan dengan lelaki lain, barangkali Bapak yang berhubungan dengan wanita lain, dan menularkannya ke ibu," katanya, datar.

Sebelum aku marah, ia lalu menjelaskan bahwa aku terkena infeksi, dari sejenis penyakit "kotor" yang biasa diidap perempuan nakal. Aku pucat. Bayangan Mas Santoso segera datang. Tapi, apa mungkin? Apa mungkin Mas Santoso berselingkuh? Rasanya tidak masuk akal.

Aku pulang dengan gontai. Di mobil, aku menangis. Sakit sekali. Aku cuma berdoa, penyakit "kotor" ini bukan karena Mas Santoso berselingkuh. Sampai di rumah, kubersihkan semua kamar mandi, dan kujauhkan anak-anak dari bekas pakaianku. Aku tak membayangkan, jika sampai mereka tertulari penyakit ini.

Malamnya, dengan menangis, aku tanyakan ke Mas Santoso, apakah dia berselingkuh sewaktu di Jakarta. Dan dia mengelak, dia marah. Dia bersumpah bekerja, tak main dengan wanita manapun. Tapi, saat kukatakan bahwa aku tertulari penyakit "kotor", dia terdiam. Dia tak bersuara, dan pergi meninggalkan kamar. Waktu kususul, dia ternyata terpekur di ruang tengah. Dan, dengan menghembuskan rokok, dia mengakui, selama seminggu terakhir di Jakarta, dia "main" dengan beberapa wanita. Ohh Tuhan...

Tubuhku lunglai. Mas Santoso? Lelaki yang sangat disayangi ayah berselingkuh? Tuhan... Tak ada yang dapat aku katakan. Bahkan, ceritanya, bahwa dia merasakan perih di kelaminnya saat mau pulang, dan telah menenggak antibiotik, dan merasa sembuh, tak begitu aku dengarkan. Permintaan maafnya bahkan tak aku hiraukan. Aku merasa seolah dia kotor sekali, menjijikkan sekali. Suamiku melacur? Ya Tuhan....

Kesakitan batin itu masih aku tanggungkan, ditambah sakit fisik. Selama seminggu kemudian, aku masih sakit, demam dan perih saat buang air kecil. Bahkan, keputihanku kian parah. Lewat dua kali pengobatan, barulah tubuhku sehat, meski perih itu tak segera hilang. Sebulan kemudian aku benar-benar bebas dari penyakit itu. Padahal, Mas Santoso yang menulariku, sembuh lebih dulu. Ya, kami berobat bersama. Tapi, tak ada maaf yang aku berikan. Rasanya semua sudah hancur. Aku tak bisa lagi percaya dengan dia...

Setelah aku sehat, tak ada lagi hubungan seks yang harmonis. Aku selalu menghindar. Selama tiga bulan aku bertahan. Bahkan, di saat dia menyakinkan sudah sehat dan tak akan berbuat hal itu lagi, aku belum bisa melayaninya. Namun, di bulan ke empat, aku kasihan juga. Dengan separuh ikhlas, aku biarkan saja dia melakukannya, aku tak merespon. Tapi, aku memekik!

Tiba-tiba aku merasakan kesakitan yang luar biasa. Perih yang sangat. Sampai menangis aku mencoba bertahan, dan akhirnya menyerah.

Aku tak bisa.

Aku tak bisa melayaninya, sakitttttt sekali.

Mas Santoso sampai bengong melihat aku merintih dan menangis. Ia tak percaya. Tapi, setiap kali kami mencoba, kembali kesakitan itu menderaku, sangat sakit. Anehnya, ketika aku kembali ke dokter, tak ada yang aneh dan tak ada penyakit di vaginaku. Semua normal dan sehat. Dokter hanya menyarankan aku memaafkan, dan berkonsultasi ke psikolog.

Kini telah setahun, dan telah beberapa kali aku ke psikolog, tak ada hasilnya. Tiap kali Mas Santoso mencoba menjamahku, kurasakan kesakitan yang luar biasa. Kurasakan kembali penghianatannya. Penyakit yang dia berikan, datang ke ingatanku. Hasilnya, aku hanya terguguk menahan sakit.

Aku mungkin sudah memaafkan dia, tapi sungguh, aku tak tahu, kenapa sakit itu tak juga mau pergi. Ada apa? Mengapa begini? Apakah alam sadarku masih menolak kehadian Mas Santoso? Aku tak tahu lagi, aku kian tak berminat pada hubungan intim ini. Seperti juga kepalaku yang sudah lelah dengan ingatan perselingkuhannya. :( :(

 

 

(Seperti yang dituturkan Laksmi Santoso kepada Langit Shiva Nyala-Aulia)

Penulis : Administrator