Papa Telah Membukakan Mataku

0.9K

Tak ada yang kurang dalam keluarga kami. Ekonomi berkecukupan, rumah termasuk mewah, dan papa punya posisi yang cukup terpandang di kantornya. Sejak kecil kami anak-anaknya telah diajari berdisiplin, mengedepankan kejujuran dan keterbukaan, dan saling menghargai. Ibu pun menanamkan cinta dan ketulusan. Tak heran, sebagai anak tertua dari tiga bersaudara, di rumah aku seperti menemukan surga.

Sebagai anak perempuan satu-satunya, Aku, panggil saja Intan (22) sangat dekat dengan papa. Dan kedekatan itu kadang membuat adik-adikku iri, Rendy (20) dan Tyo (17). Dengan papa juga aku selalu terbuka, seperti papa juga terbuka padaku. Masalah apa pun kalau aku komunikasikan ke papa, pasti kelar. Mama hanya geleng kepala kalau melihat kami di sofa, dan bercanda, atau papa menemani aku belajar di ruang baca. Kebetulan hobi kami sama, suka buku-buku sastra, meski aku sendiri kuliah di teknik, seperti papa juga, dulunya.

Papa juga suami yang baik. Dan Mama istri yang berbakti. Dulu mama bekerja, tapi setelah karier papa membaik, mama memilih di rumah saja, mengasuh kami. Meski, dengan karier papa yang meningkat, mama tetap saja "bekerja" mendampingi papa jika ada acara-acara resmi di kantor atau kumpul-kumpul antar-pegawai dan istri mereka.

Kadang, acara "arisan" itu juga berlangsung di rumah. Dan aku suka. Dibandingkan bapak-bapak yang lain, papa tampak paling gagah dan masih muda. Mungkin karena keterbukaannya itu, papa pun disenangi atasan dan bawahannya. Mama pun selalu mendapat godaan, "Hati-hati Mbakyu..." dari para ibu-ibu. Kalau digoda begitu, mama hanya tertawa. Ya, mama percaya papa setia. Aku juga, juga adik-adik. Papa adalah idola pertama kami, baru kemudian mama. Tiap akhir pekan, kecuali dinas, kami selalu sempatkan pergi bersama. Papa dan mama satu mobil, bersama sopir. Kami bertiga satu mobil. Makan di luar atau sekadar ke toko buku bersama, pasti selalu kami jalani.

Jadi panjang lebar ya? Intinya begitulah, keluarga kami sangat harmonis, dan papa menjadi titik sentralnya, setidaknya di mataku. Sampai kejadian petang itu, setelah Lebaran lalu.

Kuliahku memang tak lagi sepenuh biasa. Makanya, seusai bermaaf-maafan dengan teman-teman, sore itu aku dan dua teman berencana nonton film. Sayang, kami datang terlambat. Dua temenku memilih pulang, sementara aku dan Adri, temen cowokku, memilih ke sebuah hotel di Simpanglima. Bukan, kami bukan mau ngamar, tapi Adri menemaniku untuk makan sop buntut yang kunilai sangat enak di hotel itu. Lokasi resto di lantai 5 pun membuat suasana jadi nyaman. Sore itu sepi. Hanya ada beberapa pengunjung. Aku duduk dan pesan segera, demikian juga Andi. Dari tempat aku duduk itulah, aku dapat melihat para tamu yang masuk, sementara Adri membelakangi. Dan mataku segera kagum pada perempuan dewasa di dekat pintu, duduk menyamping. Cantik dan matang, bergaun panjang. Mungkin seperti Mama saat muda. Dengan sepatu bertali, dia kelihatan seksi dan anggun. Aku menyenggol kaki Adri, dan dia tersenyum saat kutunjukkan perempuan itu. Mungkin karena risih denganku dia tak mau menatapi berlama-lama.

Pesananku datang. Dan segera aku akan menyantap sop kesukaanku itu, jika ekor mataku tidak melihat Papa. Aku nyaris berdiri dan memanggil, namun kemudian kusadari, papa ke situ bukan untukku. Dia menghampiri perempuan cantik itu, dan mereka kemudian pergi. Dadaku panas. Mau ke mana mereka? Ada apa papa dengan perempuan cantik itu? Segera aku bangkit. Kubilang mau ke WC pada Adri. Dan kulihat lift yang membawa mereka, turun. Bergegas aku lewat tangga, menyusul. Mereka berhenti di lantai bawah, dan tidak ada arah untuk keluar. Papa tampak mengikuti perempuan itu, yang mengeluarkan kunci dari dalam tas kecilnya. Dadaku panas, ngapain Papa mengikutkan perempuan itu ke kamar. Kuikuti, dan ketika mereka masuk, kutunggu sebentar. Barangkali Papa mengambil sesuatu di kamar perempuan itu. Barangkali papa menemani dia ngobrol sebentar. Barangkali Papa punya urusan kantor. Barangkali...

 

Tapi kenapa setelah 15 menit, tak ada juga tanda papa akan keluar. Dadaku sesak sekali, airmata sudah mau tumpah rasanya. Dengan menguatkan diri, kembali aku naik, berlari. Di resto, kupinjam telepon, dengan alasan menghubungi temenku di kamar untuk mengajak makan. Dengan dada sesak, kuhubungi kamar yang tadi dituju papa. Aku berharap mendengar suara perempuan itu, tapi yang kudengar sebaliknya. papa yang mengangkat telepon itu, dengan suara yang.. Tuhan, benarkah suara Papa terdengar menderu? Tidakkah itu hanya perasaanku? Benarkah suara papa tampak seperti terengah... Ohhh....

Sambil menangis, aku seret Adri, yang tampak panik, untuk pergi dari tempat terkutuk itu. Sepanjang jalan aku menangis, tak menanggapi pertanyaannya, tak kuhiraukan hiburannya. Sampai di rumah, aku segera menghambur memeluk Mama. Kupeluk, kupeluk, kupeluk... aku menangis meraung-raung. Sampai Mama panik.

Tak kutahu kapan Adri pulang, aku cuma merasakan Mama memelukku, membelai pundakku, dan setengah menyeretku membawa masuk ke kamarnya. Berkali-kali mama bertanya, aku kenapa? Dan tiap kali mama bertanya, tangisku kian keras. Bukan aku Ma, bukan aku.. tapi Papa.. Papa telah menjahati kita, menjahati Mama... tapi tak pernah itu keluar dari dalam mulutku. Akhirnya Mama mengambil kesimpulan sendiri, kalau aku dan Adri ada masalah. Itulah sebabnya aku menangis dan tidak menghiraukan Adri. Mama salah, tapi aku membiarkannya.

Yang lebih sakit, malam papa pulang. Dan mama bercerita kalau aku menangis pulang dengan diantar Adri. Papa, ya Papaku yang bijak, yang baik dan terbuka itu, dengan santai mengelus rambutku.

"Kadang-kadang, lelaki itu melakukan kesalahan, Sayang. Dan kamu harus belajar memaafkan. Bisa jadi dia tidak ingin melakukan itu, tapi juga tidak bisa menghindarinya..." Aku menangis, dan berpindah duduk, memeluk Mama. Papaku yang bijak itu seharusnya tahu, nasihat itu cocok untuk dia... Dialah lelaki itu, bukan Adri. Aku benci Papa, aku benci.....

Pembaca, oohh.. nyaris sebulan aku memendam ini sendirian. Nyaris aku gak kuat lagi dekat-dekat dengan Papa. Ingin rasanya kuludahi muka penuh senyum itu, muka kurang ajar itu, muka yang telah mengkhianari mama, mamaku... dan kini aku benci sekali, karena semua nilai yang dia tanamkan, tidak pernah papa lakukan. Aku berasa bersalah sekali, betapa selama ini aku selalu menempatkan  mama di pihak kedua, padahal mama menderita, tanpa pernah dia sadari.

Mamaku, oohhh... bagaimana aku harus mengatakan ini?! Pernah aku ingin mengatakan semua itu pada papa, bahwa aku tahu "perbuatannya yang menjijikkan" itu, tapi mulutku terkunci, hanya airmataku yang menetes. Aku tak pernah lagi mau dekat papa, kamarku tak pernah lagi terbuka untuknya. Dan dengan santainya Papa bisa berkata, "Jangan karena satu lelaki, Papa ikut kamu benci..." Aku tidak membenci lelaki, aku membenci papa, tidakkah dia menyadarinya??

 Pembaca, tolong aku untuk menghadapi ini? Apakah harus aku beritahu mama, dan merusak semua kebahagiaan kami? Atau aku diamkan saja... dan berpura-pura bodoh? Tolonglah....

 

(Sebagaimana cerita Intan kepada Aulia A Muhammad)

Penulis : Administrator