PTM Terbatas dan Tantangan Yang Dihadapi


Sebuah dilema ketika peserta didik belajar dari rumah secara daring selama kurang lebih 1,5 tahun. Ketika sekolah diijinkan mengadakan Pembelajaran Tatap Muka  (PTM) Terbatas, masalah baru kembali muncul. 

Memang, PTM Terbatas ini merupakan angin segar bagi pelaku pendidikan dan yang berkaitan dengan hal tersebut, terutama bagi orang tua yang lega ketika anaknya sudah bisa berangkat sekolah kembali.

Namun, ternyata masalah baru kembali muncul terutama bagi guru. Setelah sekian lama peserta didik belajar dari rumah secara daring, banyak peserta didik yang kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah ketika PTM Terbatas. 

Hal tersebut membuat guru harus ekstra berpikir mencari solusi untuk mengatasinya. Sebagai contoh, selama belajar di rumah, peserta didik tidak membiasakan diri berhitung secara manual ketika pelajaran Matematika. 

Peserta didik lebih memilih menggunakan alat bantu hitung atau kalkulator dalam melakukan perhitungan. Hal tersebut sudah tentu semakin menumpulkan kemampuan peserta didik dalam menghitung.

Selain dalam hal berhitung, kemampuan peserta didik dalam hal lainnya pun semakin terkikis. 

Contohnya saja budaya membaca peserta didik menurun drastis, hal ini disebabkan karena kurangnya literasi di rumah. Sehingga ketika peserta didik diperhadapkan dengan bentuk soal yang memerlukan ketelitian membaca, peserta didik mengalami kesulitan.

Contoh-contoh di atas adalah sedikit dari banyaknya akibat yang timbul dari efek pembelajaran daring. Untuk mengatasi hal tersebut, tentu guru harus kerja keras kembali meningkatkan kemampuan belajar para peserta didik lagi. 

Salah satu cara yang dapat diterapkan oleh guru adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang menyenangkan. Sebagai contoh, guru dapat menggunakan video pembelajaran ataupun video dari youtube untuk mengajarkan materi.

Audio visual yang dipersembahkan oleh video atau youtube tentunya membuat peserta didik lebih antusias dalam mengikuti pelajaran.

Karena memang pada dasarnya, peserta didik usia Sekolah Dasar adalah peserta didik yang memiliki karakter belajar kontekstual learning.

Selain menggunakan media berupa video atau youtube, guru juga dapat menggunakan metode berhitung jarimatika untuk pelajaran berhitung atau Matematika. 

Jadi, guru mulai membiasakan peserta didik untuk kembali menghitung menggunakan cara manual, tidak lagi mengandalkan alat bantu hitung.

Untuk mengatasi masalah pada budaya atau minat baca peserta didik, guru kembali harus bisa menggalakkan literasi melalui sudut baca maupun taman baca. Guru mengalokasikan waktu untuk kegiatan literasi bagi peserta didik, sehingga peserta didik memiliki kesempatan untuk mulai membiasakan diri membaca lagi. 

Diharapkan dengan kegiatan literasi membaca tersebut, peserta didik mulai kembali terlatih memahami maksud bacaan maupun soal.

Guru bisa mengawali memberi tugas pada peserta didik untuk membawa buku bacaan dari rumah. Ketika peserta didik membaca buku atau bacaan yang mereka sukai, hal ini tentu akan semakin meningkatkan antusias peserta didik, sehingga lambat laun hal ini akan menumbuhkan minat baca pada peserta didik.

Apa pun kendala yang dihadapi guru dalam Pembelajaran Tatap Muka Terbatas ini, sebagai guru harus mampu menganalisa masalah dan kemudian mencari jalan keluar dari permasalahan tersebut.
 
Bagaimana pun juga, Pembelajaran Tatap Muka Terbatas ini merupakan hal yang sudah ditunggu-tunggu sejak lama.

Harapannya, ketika peserta didik sudah mengikuti kegiatan belajar mengajar secara tatap muka walau terbatas, peserta didik semakin semangat untuk belajar, yang tentunya hal tersebut akan membawa dampak positif bagi peserta didik, guru, sekolah, maupun orang tua.
 

Penulis:  Yunianti, S.Pd, Guru UPTD SPF SDN Bandung 2 Kota Tegal

Penulis : arr
Editor   : edt