Menumbuhkan Karakter Peduli Lingkungan Melalui Literasi Sains


Bermula dari keprihatinan penulis akan kondisi alam atau lingkungan terutama alam Indonesia. 

Sebagaimana kita ketahui, bahwa kondisi alam Indonesia sangat mengkhawatirkan. Kerusakan alam terjadi di hampir setiap daerah. 

Kerusakan alam tersebut disebabkan oleh faktor alam itu sendiri maupun oleh kegiatan atau aktivitas manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup.

Upaya manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, sering kali tidak disandingkan dengan upaya untuk menjaga kelestarian alam. 

Manusia tidak lagi berpikir untuk menjaga alam, yang ada hanyalah bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kita sering lupa, bahwa dalam lingkungan tempat tinggal atau sebuah ekosistem, komponennya tidak hanya manusia saja. 

Jika kita lihat dari pengertian ekosistem itu sendiri yang artinya  suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh sistem timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. 

Ekosistem dapat tercipta apabila terpenuhi 2 komponen yang membentuknya, yaitu komponen biotik ( makhluk hidup ) dan komponen abiotik ( benda-benda mati ).

Aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab berdampak negatif pada ekosistem. 
Sebagai contoh kejadian Harimau di beberapa daerah Indonesia yang ke luar dari habitatnya dan memasuki pemukiman penduduk. 

Hal tersebut akibat dari rusaknya tempat hidup Harimau itu.

Selain rusaknya habitat hidupnya, ketersediaan makanan juga semakin berkurang, sehingga satwa Indonesia yang dilindungi ini pun berusaha mencari makan di tempat lain. 

Salah satunya dengan memasuki daerah pemukiman.

Fenomena tersebut memunculkan sebuah pertanyaan tentang siapa yang salah dalam hal ini. 

Tentu saja jawabnya adalah manusia. 

Tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab itulah, yang menyebabkan kerusakan alam dan berakibat pada kerusakan ekosistem. 

Melihat hal tersebut,dipandang sangat perlu untuk menumbuhkan pemahaman dan karakter peduli lingkungan pada peserta didik, terutama peserta didik usia Sekolah Dasar. 

Karakter pada peserta didik sangat penting bagi tercapainya tujuan pendidikan nasional. 
Pengertian pendidikan karakter tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 

Pengertian pendidikan karakter adalah memiliki tujuan membentuk kepribadian tangguh sesuai dengan identitas bangsa Indonesia.

Pengertian Pendidikan Karakter Menurut Edgar Dalle adalah usaha sadar yang dilakukan oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat.

Ini untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat mempermainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tetap untuk masa yang akan datang.

Dengan penanaman karakter sejak dini, diharapkan akan tumbuh pemahaman dan karakter bertanggung jawab untuk peduli pada lingkungan dan melestarikannya.

Mengingat usia peserta didik Sekolah Dasar adalah kategori usia operasional konkret. 
Hal ini mengacu pada teori perkembangan kognitif Jean Piaget atau teori Piaget menunjukkan bahwa kecerdasan berubah seiring dengan pertumbuhan anak.

Perkembangan kognitif seorang anak bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, anak juga harus mengembangkan atau membangun mental. 

Menurut Jean Piaget, anak usia 7 – 11 tahun masuk dalam tahap Operasional Konkret.
Perkembangan kognitif anak di tahap ini ditandai dengan perkembangan pemikiran yang terorganisir dan rasional.

Piaget menganggap tahap konkret sebagai titik balik utama dalam perkembangan kognitif anak, karena menandai awal pemikiran logis. 

Pada tahapan ini, anak cukup dewasa untuk menggunakan pemikiran atau pemikiran logis, tapi hanya bisa menerapkan logika pada objek fisik.

Anak mulai menunjukkan kemampuan konservasi (jumlah, luas, volume, orientasi). 

Meskipun anak bisa memecahkan masalah dengan cara logis, mereka belum bisa berpikir secara abstrak atau hipotesis.

Mengingat hal tersebut, maka penulis berinovasi melalui literasi sains menggunakan video yang diambil dari youtube.

Video tersebut adalah video asli hasil rekaman dari warga/ penduduk sekitar yang berkaitan dengan pembelajaran dan menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi saat ini.
Literasi sains (Scientific Literacy) adalah kemampuan mengidentifikasi memahami dan memaknai isu terkait sains yang diperlukan seseorang untuk mengambil keputusan berdasarkan bukti-bukti saintifik. 

Literasi sains merupakan tujuan utama dari pendidikan sains (Wenning, 2006). 
Menurut Cheppy Riyana (2007) media video pembelajaran adalah media yang menyajikan audio dan visual yang berisi pesan-pesan pembelajaran baik yang berisi konsep, prinsip, prosedur, teori aplikasi pengetahuan untuk membantu pemahaman terhadap suatu materi pembelajaran. 

Dengan menyaksikan video hasil rekaman langsung dari seseorang ( asli tanpa rekayasa ), diharapkan peserta didik mampu memahami dengan benar kondisi sebenarnya di lapangan.

Penulis:  Yunianti, S.Pd, 
Guru UPTD SPF SDN Bandung 2 Kota Tegal

Penulis : arr
Editor   : edt