Peran Nakes Dukung Derajat Kesehatan Masyarakat di Salatiga


ARAHAN : Wali Kota Salatiga Yuliyanto saat memberikan arahan ditengah Pembukaan Pembelajaran Audit Maternal Perinatal (AMP) pada kasus kematian ibu dan bayi Kota Salatiga, di Ruang Plumpungan Setda Kota Salatiga, Rabu (05/01). Foto :ist/ Ernawaty

SALATIGA, WAWASANCO - Peran tenaga kesehatan (Nakes) pada pelayanan kesehatan ibu dan anak serta kesehatan reproduksi sangat mendukung derajat kesehatan masyarakat. 

Penekanan ini disampaikan Wali Kota Salatiga, Yuliyanto SE., MM saat Pembukaan Pembelajaran Audit Maternal Perinatal (AMP) pada kasus kematian ibu dan bayi Kota Salatiga, di Ruang Plumpungan Setda Kota Salatiga, Rabu (05/01). 

Ia mengungkapkan, Nakes di Kota Salatiga dituntut untuk terus mengembangkan kompetensinya dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan anak. 

"Sehingga derajat kesehatan masyarakat meningkat," ujar Wali Kota. 

Hal ini, diakuinya, sejalan dengan apa yang akan dicapai Pemerintah Daerah dalam pembangunan kesehatan. Baik untuk mencapai Indikator Kinerja Utama (IKU) yaitu Angka Kematian Ibu, Angka Kematian Bayi, Prevalensi Gizi Buruk dan prevalensi stunting.

"Ini harus dilakukan dengan baik karena untuk mewujudkan kewajiban pemerintah daerah dalam mencapai  Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan," paparnya. 

Oleh sebab itu, Nakes dituntut untuk terus mengembangkan kompetensi yang berkualitas dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak. 
"Sehingga diharapkan bisa berinovasi dalam pemberian layanan," imbuhnya. 

Secara pribadi, dirinya akan memastikan akses pelayanan kesehatan bagi ibu hamil di puskesmas dan posyandu tetap berlangsung tidak berhenti di tengah pandemi dan terus menggencarkan aspek promotif berupa edukasi.

Sementara, dalam kesempatan itu dibeberkan pula data angka kematian ibu sebanyak 10 kasus dan 8 diantaranya karena Covid-19 selama 2021 lalu. 

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat DKK Kota Salatiga, Suparli, SKM., M.Kes juga menjelaskan, kematian ibu sebanyak 10 kasus merupakan situasi Kesehatan Ibu dan Anak di Kota Salatiga sampai dengan akhir tahun 2021. 

"Dari target 2 kasus, Kesehatan Ibu dan Anak di Kota Salatiga sampai dengan akhir tahun 2021 sebanyak 10 kasus dan 8 diantaranya karena Covid-19," kata Suparli. 

Sedangkan, lanjut dia, untuk jumlah kematian bayi mencapai  29 kasus  (target 26 kasus). Kemudian untuk prosentase balita stunting di Tahun 2020 sebesar 9,59% (target <14%) dan tahun 2021 sebesar 10,54% (target <12%),” jelasnya.

Sementara itu, data kematian ibu, bayi dan balita, mengupas dan menganalisa kematian, ketersediaan tenaga kesehatan, dan prosedur pemberian layanan kesehatan.

Terkait kegiatan Pembelajaran Audit Maternal Perinatal (AMP) pada kasus kematian ibu dan bayi Kota Salatiga ia menegaskan dapat menghasilkan apa saja yang menjadi prioritas. 

"Dimana yang mempengaruhi faktor-faktor terhadap kejadian kematian ibu dan anak, sebagai bentuk diseminasi informasi prosedur layanan dan upaya meningkatkan kemampuan SDM kesehatan di Kota Salatiga," tandasnya.

Adapun peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah perwakilan dari oganisasi IDI dan IBI, komunitas pelayanan kesehatan ibu dan anak di Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik Ibu dan anak, praktek mandiri bidan, dan tim dari DKK Kota Salatiga. 

Penulis : ern
Editor   : edt