Keluarga Menolak Asif Ahany Diautopsi, Mahasiswa IAIN Salatiga Meninggal Usai Diksar Mapala di Gunung Telemoyo


MEMERIKSA : Anggota Porles Salatiga saat memeriksa jasad korban di RS Dr Asmir Salatiga, usai dinyatakan meninggal, Jumat (14/1) dini hari. Foto: Ernawaty

SALATIGA, WAWASANCO. Seorang mahasiswa IAIN Salatiga bernama Asif Ahany (19) meninggal dunia usai mengikuti pendidikan dasar (Diksar) Mapala di Gunung Telomoyo, Kabupaten Semarang.

Korban sempat dilarikan menggunakan sepeda motor dalam kondisi tak sadarkan diri, dibawa ke RST DR. Asmir Salatiga untuk mendapatkan pertolongan. Namun, pihak RS menyatakan korban telah meninggal dunia. 

Dokter jaga RS Dr Asmir Salatiga melalui Porles Salatiga memastikan, tidak ada tanda-tanda penganiaya tubuh korban. Dugaan kuat Asif Ahany meninggal karena kelelahan. 

Kapolres Salatiga AKBP Indra Mardiana melalui Kasi Humas AKP Slamet Hari Trianto saat dikonfirmasi mengatakan, atas berpulangnya korban pihak keluarga menerima dan tidak bersedia dilakukan autopsi. 

"Pihak keluarga diwakili ayah korban Faizin warga Dusun Gamolan RT.010 RW.03 Kelurahan Segiri, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang sudah menerima meninggalnya Almarhumah dan tidak bersedia dilakukan autopsi pada jasad korban," kata AKP Slamet Hari Trianto, Jumat (14/1). 

AKP Slamet Hari Trianto mengatakan, setelah mengetahui kejadian menimpa putrinya tersebut Faizin telah membuat dan menandatangani Surat Pernyataan Penolakan dilakukan Autopsi. 

"Surat Pernyataan Penolakan dilakukan autopsi terhadap korban diketahui oleh Ketua RT, Kepala Dusun serta Kepala Desa di Dusun Gamolan RT.010 RW.03, Kelurahan Segiri, Kecamata Pabelan, Kabupaten Semarang," tandas Hari. 

Kasi Humas menuturkan kronologis kejadian menimpa Asif Ahany.  Korban bersama 19 orang telah selesai dari kegiatan Mapala di Gunung Telomoyo Kab Semarang mulai tanggal 7-12 Jan 2021 dalam rangka kegiatan mahasiswa pecinta alam atau Mapala di Gunung Telomoyo, Kabupaten Semarang bersama rombongan Mapala IAIN Salatiga. 

Pada tanggal 13 Januari 2021 rombongan sudah sampai di basecamp yg beralamat di Kalibening. 

Sampai di basecamp, korban tidak mau makan. Sampai akhirnya tanggal 13 Januari malam, korban dibuatkan bubur oleh rekan-rekannya tapi muntah dan akhirnya di bawa ke RS DKT Salatiga, dan korban dinyatakan MD di RS DKT Salatiga.

Namun, lanjut dia, sepulang dari kegiatan tanggal 13 Januari 2022 rombongan MAPALA istirahat serta pemulihan di SPPQT Kalibening Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga. 

Sebelumnya, informasi dari pihak panitia kegiatan MAPALA akan dilanjutkan dengan seminar di tempat tersebut. 

Sewaktu di SPPQT terlihat kondisi korban sudah lemah. Kemudian pada pukul 22.00 WIB oleh rekan rekan dilarikan ke RS dr Asmir Salatiga. 

Namun setelah dilakukan pemeriksaan dan tindakan medis oleh dr. Koesworo (Dokter Jaga RST. Asmir Salatiga) pada pukul 22.30 WIB korbam dinyatakan meninggal dunia. 

Saat tiba di IGD RS Dr Asmir Salatiga, dengan kondisi tidak sadarkan diri mengendarai sepeda motor. 

"Korban diantar oleh temannya, setelah sampai di IGD pasien langsung diturunkan dari sepeda motor, lalu dibawa masuk ke IGD dalam kondisi tidak sadarkan diri," ungkap AKP Slamet Hari Trianto. 

Bahkan, lanjut AKP Slamet Hari Trianto, dari keterangan dokter yang bertugas pada saat masuk IGD kondisi korban seluruh tubuh sudah dingin, pucat, nafas tidak ada, nadi tidak teraba. 

Oleh pihak dokter yang berjaga saat itu sempat dilakukan RJP 3 siklus serta masuk injeksi Eprineprin 1 amp. 
"Namun respon tidak ada. 
Selanjutnya Korban dinyatakan meninggal Pukul 22.30 WIB," tegasnya. 

Sesaat setelah kejadian, jajaran Polres Salatiga pada pukul 03.00 WIB melakukan penanganan. 
"Diduga karena mengalami kelelahan dan lemah jantung, serta tidak diketemukan adanya tanda-tanda kekerasan," ungkapnya. 

Polres Salatiga sendiri telah memeriksa saksi - saksi termasuk WaRek I IAIN Salatiga. 

"Sejauh ini kita telah memeriksa saksi diantaranya Muhammad Azis (23) warga Dusun Kalisari RT. 08 RW. 03 Kelurahan Nyamat, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang dan DR. Muh Saerozi MAg (55) Pegawai Negeri Sipil (WaRek I IAIN Salatiga) beralamat di Genuk RT. 02 RW. 03 Kelurahan Genuk, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang," imbuhnya. 

Anggota Polres Salatiga seketika mendatangi TKP, mengumpulkan bahan keterangan dari para saksi, melaksanakan koordinasi dengan piket Identifikasi Polres Salatiga. 

Termasuk, menghubungi pihak keluarga korban dan berkoordinasi dengan perangkat desa korban. 

Lebih jauh Kasi Humas menandaskan, pada hari Jumat (14/1) korban telah dimakamkan setelah sempat dilarikan ke RS dr Asmir DKT Salatiga dan dinyatakan meninggal dunia Kamis (13/1) malam. 

Sementara, pihak Kampus IAIN Salatiga diwakili Humas Zidnie saag dikonfirmasi wartawan menyebutkan belum dapat memberikan keterangan kepada kepada awak media karena pimpinan (Rektor IAIN Salatiga) tidak berada di Salatiga. 

"Sore mba, maaf mba, aku belum mendapatkan pressrilis tentang kejadian itu karena posisi pimpinan sedang di luar mba," ujar Zidnie melalui pesan singkat WhatsApp. 

Zidnie juga menyebutkan, saat ini pihaknya tetap menunggu dari pimpinan.
"Secepatnya akan di buatkan pressrilis mba, maaf nggih," pungkasnya.

Penulis : ern
Editor   : edt