Luncurkan Dua Buku, Cara Rektor Unnes Maknai Dinamika Pendidikan dan Kepakaran sebagai Gubes Sosiolinguistik


BUKU : Dua buku terbaru karya Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum, berjudul Pendidikan untuk Peradaban , serta Ujaran Kebencian: Kajian Pragmatik, Linguistik Forensik, dan Analisis.

SEMARANG, WAWASANCO - Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum. meluncurkan dua buku sekaligus pada awal Ramadan 1443 H.

Kedua buku tersebut berjudul Pendidikan untuk Peradaban dan Ujaran Kebencian: Kajian Pragmatik, Linguistik Forensik, dan Analisis.

Dalam paparanya,  Prof Fathur menilai pendidikan di Tanah Air berkembang sangat dinamis. Aneka gagasan dan kebijakan lahir agar pendidikan nasional terus maju sesuai yang diidamkan masyarakat.

Merespons dinamika tersebut, ada sejumlah gagasan yang ingin disampaikannya, yang tertuang dalam buku berjudul Pendidikan untuk Peradaban.

Buku tersebut berisi sejumlah gagasan Prof Fathur yang ditawarkan kepada masyarakat dan pemerintah agar pendidikan di Indonesia makin cemerlang.

“Kita tahu, pendidikan adalah salah satu bidang kehidupan yang sangat dinamis. Hampir setiap hari, minggu, bulan, dan tahun ada pemikiran baru di bidang tersebut. Saya ingin mengambil hikmah dari dinamika tersebut sehingga dapat menemukan makna di balik perubahan yang terus berjalan,” katanya dalam acara peluncuran buku bersama awak media, di Semarang, Kamis (7/4/2022).

Salah satu contoh dinamika dalam dunia pendidikan adalah lahirnya kebijakan progresif yang diinisiasi oleh Mendikbudristek Nadiem Makarim yaitu Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Kebijakan itu, menurutnya, merupakan terobosan besar karena menyodorkan sudut pandang baru dalam tata kelola pendidikan di Tanah Air.

“Terobosan itu tak hanya memengaruhi praktik belajar tetapi juga menawarkan paradigma baru yang membuat pendidikan dilihat dengan kacamata berbeda. Karena  itu kebijakan tersebut juga melahirkan perubahan besar dalam praktik pendidikan di Tanah Air,” katanya.

Menurut Prof Fathur, dinamika dalam dunia pendidikan merupakan gejala yang sangat menarik dikaji, didiskusikan, dan direfleksikan. Dengan mengkajinya, kita akan memperoleh pengalaman intelektual yang seru dan bermakna.

“Kita tidak hanya punya pedoman melaksanakan kebijakan tersebut tetapi juga bisa menemukan makna filosofisya,” lanjutnya.

Buku Pendidikan untuk Peradaban terdiri dari tujuh topik yang meliputi pendidikan tinggi, pendidikan dan sumber daya manusia, pendidikan dan agama, bahasa, budaya, kebangsaan, dan kepemimpinan.

Luasnya topik pembahasan, lanjut Prof Fathur, menunjukkan luasnya resonansi pendidikan di berbagai bidang kehidupan.

“Hampir semua bidang kehidupan terkait pendidikan. Sebagai akademisi, saya mencermati bagaimana meningkatkan peran pendidikan di berbagai bidang tersebut. Dengan car aitu, kitab isa menemukan formula menjadikan pendidikan sebagai jalan memajukan peradaban,” pungkasnya.

Ia berharap, peluncuran buku tersebut juga memotivasi mahasiswa dan dosen lain untuk terus menulis.

Sementara, untuk buku berjudul Ujaran Kebencian: Kajian Pragmatik, Linguistik Forensik, dan Analisis Wacana, merupakan buku kepakaran yang ditulis dalam kapasitasnya sebagai akademisi bidang bahasa.

Menurutnya, ujaran kebencian sudah menjadi persoalan krusial karena berdampak destruktif bagi masyarakat dan bangsa. Selain mengakibarkan kerusakan psikologis pada korbannya, ujaran kebencian juga terbukti merongrong kesatuan bangsa.

Ia melihat bahwa kemajuan teknologi informasi seperti media sosial belum diiringi kearifan dan literasi oleh Sebagian penggunanya. Kondisi membuat pengguna media sosial rentan melakukan ujaran kebencian, baik sengaja maupun tidak.

“Melalui buku ini saya menawarkan analisis dan rekomendasi supaya kita tidak terjebak pada persoalan ujaran kebencian. Kita belajar dari kasus hate speech di masa lalu untuk mengedukasi masyarakat sehingga lebih bijak mengekspresikan pendapat di muka umum,” kata professor sosiolinguistik ini.

Prof Fathur menaambahkan, pihaknya sengaja meluncurkan kedua bukunya pada awal Ramadan sebagai peneguhan bahwa Ramadan adalah bulan ilmu.

Makna Ramadan sebagai bulan ilmu, menurutnya, tersirat dari peristiwa diturunkannya Alquran pertama kali pada bulan Ramadan. Perintah pertama yang disampaikan kepada Rasulullah adalah membaca.

“Ibadah kita di bulan Ramadan, selain ibadah ritual juga ibadah sosial. Menulis, membaca, dan memperdalam ilmu pengetahuan adalah salah satu bentuk ibadah sosial tersebut,” katanya.

Melalui dua buku tersebut ia juga ingin mendorong mahasiswa dan dosen UNNES agar terus berkarya. “Karya keilmuan akan  membawa banyak kebaikan, bukan hanya bagi kita, tapi juga masyarakat. Semangat seperti ini harus dijaga sesuai dengan spirit UNNES sebagai Rumah Ilmu Pengembang Peradaban”, pungkasnya. ***

Penulis : arr
Editor   : edt