Mengenal Omah Panggung Hidrolis Karya Tim Peneliti Unika Soegijaparanata, Peraih Sertifikat Paten Sederhana


TIM PENELITI : Tim peneliti rumah pangung hidrolis dari Unika Soegijapranata, dari kiri Dra B Tyas Susanti MA PhD , Ir Etty Endang Listiati MT dan paling kanan Ir IM Tri Hesti Mulyani MT

SEMARANG, WAWASANCO - Dilatar belakangi keprihatinan dengan kondisi masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di kawasan rob, akibat naiknya permukaan air laut ke daratan di wilayah pesisir, tim peneliti Unika Soegjapranata memperkenalkan ide rumah panggung hidrolis.

Penelitian rumah panggung hidrolis dengan judul ‘Metode Menaik dan Menurunkan Rumah Panggung Dengan Dongkrak Hidrolis Pada 4 Sudut’, yang dilakukan tim Unika Soegijapranata yang terdiri dari Ir Etty Endang Listiati MT, Ir Widija Suseno Widjaja MT IPU, Ir IM Tri Hesti Mulyani MT dan Dra B Tyas Susanti MA PhD tersebut, bahkan mendapatkan Sertifikat Paten Sederhana dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

"Latar belakang penelitian kami adalah adanya rob yang terjadi di daerah Kemijen Semarang Timur. Sedangkan untuk mengantisipasi rob, biasanya masyarakat melakukan pengurugan tanah, namun cara tersebut ternyata justru menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu kita tim inventor mempunyai ide untuk membuat bangunan yang adaptif untuk menanggulangi banjir rob tersebut,” papar Ir Etty Endang Listiati MT, saat dihubungi, Rabu 20 April 2022.

Dijelaskan, penelitian dilakukan sejak bulan Juni 2016, saat itu banjir rob di daerah Kemijen sangat tinggi.

Meski sudah ditanggulangi dengan pompa air untuk selanjutnya di buang ke sungai Banger, tapi langkah tersebut dinilai masih belum menjawab permasalahan.

Terutama karena di area RW IV, rumah warga masih tergenang banjir rob.Berdasarkan kondisi tersebut, maka pada tahun 2017, tim peneliti Unika mencoba membuat konsep rumah panggung yang dilengkapi dengan hidrolis, pada rumah salah satu warga.

"Kita lakukan di rumah pak Hariyanto,  atas seizin Ketua RW dan Lurah setempat," lanjutnya.

Seiring penelitian yang dilakukan, pada 2018, design rumah panggung sudah mulai dibangun dalam jangka waktu sekitar tiga bulan.

Hasilnya pun sesuai dengan harapan, setelah sebelumnya melalui uji coba.

“Bahan yang kita pakai untuk bangunan adalah dari bambu, dengan prinsip bebannya ringan dan dengan moduler tipe tiga,” terang Ir Etty.

Dari penelitian tersebut, pihaknya pun menerbitkan buku tentang Ompalis (Omah panggung hidrolis) yang menjadi solusi baru untuk menanggulangi masalah banjir rob, lanjutnya.

Sementara Tyas Susanti PhD sebagai salah satu tim peneliti menyampaikan, tentang ide Ompalis, yang ternyata sudah ada pihak yang tertarik untuk membuat prototype-nya dan ditawarkan untuk bangunan pos polisi.

"Namun karena ada pandemi covid-19 maka rencana tersebut menjadi tertunda dan harus di jadwal ulang," terangnya.

Sementara peneliti lainnya, Ir Tri Hesti Mulyani juga menambahkan, bahwa di periode tahun 2022 ini, tim peneliti akan mencoba mengevaluasi bagaimana prototype yang kita usulkan sudah digunakan oleh Pak Heriyanto sekeluarga.

“Kita akan mencoba melihat pola pemanfaatannya seperti apa, kemudian kelemahannya seperti apa, atau dengan kata lain kita akan melakukan Post Occupancy Evaluation (POE) supaya kita mengetahui apakah desain yang kita buat, secara psikologis sudah menjawab kebutuhan penghuni atau belum,” tutur Ir Hesti.

"Utamanya POE yang kita lakukan lebih berfokus pada fungsi ruang dan menyertakan mahasiswa yang masih menempuh seminar, dengan harapan semoga para mahasiswa bisa melanjutkan proyek ini atau melalui spirit proyek ini mereka bisa mengusulkan judul baru di proyek akhir, supaya penelitian ini bisa memberikan kontribusi di dalam pembelajaran, pungkasnya. ***

Penulis : arr
Editor   : edt