Gandeng Hijra Bank, Ekonomi Islam Undip Gelar Webinar Ekonomi dan Keuangan Islam Digital


MEMAPARKAN : Paparan materi yang disampaikan oleh Ketua FORDEBI Jateng sekaligus Kaprodi Ekonomi Islam FEB Undip Darwanto, S.E., M.Si., M.Sy, (kiri atas), Ketua Co-Founder HeyLaw.id sekaligus peneliti INSEFD, Andi Tri Haryono,  dan Wachid Asad Muslimin selaku Direktur dari ALAMI Institute.

SEMARANG, WAWASANCO - Program Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis  (FEB)Universitas Diponegoro, menggelar webinar bertajuk Digital Economy & Finance Prospect, yang digelae secara daring, pada Selasa (19/4/2022).

Kegiatan ini berkolaborasi dengan Hijra Bank yang merupakan elemen dari ALAMI Group, dan didukung oleh FORDEBI Jawa Tengah dan Institute of Social, Economics, Finance, and Digital (INSEFD).

Acara dibuka dengan sambutan dari Dekan FEB, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si. Kegiatan selanjutnya merupakan pemaparan materi yang disampaikan oleh  Co-Founder HeyLaw.id sekaligus peneliti INSEFD, Andi Tri Haryono,  dan Wachid Asad Muslimin selaku Direktur dari ALAMI Institute.

Dalam paparannya, Andi Haryono menjelaskan tentang tantangan dan kesiapan Indonesia terhadap transformasi ekonomi digital. 

“Terdapat peralihan sektor bisnis dunia yang mulanya dikuasai oleh sektor minyak dan gas pada tahun 2009, berubah menjadi sektor teknologi dan pelayanan konsumen pada sembilan tahun berikutnya, tahun 2018," terangnya.

Dijelaskan, peralihan ini juga didukung oleh efek pandemi Covid-19 yang menuntut transformasi digital, pada berbagai aspek ekonomi.

"Perubahan-perubahan tersebut menunjukkan besarnya potensi ekonomi digital yang harus segera mendapatkan eksekusi dari pelaku ekonomi”, tutur Andi.

Sementara pembicara lainnya, Wachid Asad Muslimin membahas terkait dengan peluang dan tantangan digitalisasi keuangan syariah di Indonesia.

“Potensi keuangan syariah di Indonesia sangat besar, didukung oleh beberapa fakta seperti jumlah muslim yang mencapai 231 juta orang, terdapat 69,5% pelaku usaha mikro yang belum mendapatkan kredit perbankan hingga membaiknya perekonomian global pasca pandemi, " terangnya.

Selain itu, fakta jika Indonesia memiliki pasar konsumen halal yang amat besar, yang diiringi dengan pasar digital yang kuat.

Hal tersebut juga sejalan dengan potensi penggunaan financial technology syariah, yang merupakan pengunaan teknologi untuk memberikan produk dan layanan yang berdasarkan kepatuhan syariah dengan pengalaman yang inovatif bagi pengguna.

"Meski demikian, dibalik potensi dan keunggulan penggunaan fintech syariah, masih banyak hambatan yang terjadi, " lanjutnya.

Wachid menjelaskan, bahwa pengembangan keuangan digital cenderung mendapatkan pendapatan yang rendah dan berfluktuasi, serta terbatasnya literasi dan kepercayaan masyarakat.

"Selain itu, keuangan digital membutuhkan biaya operasional yang besar serta inovasi dan kompetisi yang terbatas. Ini yang menjadi tantangan bersama," tandasnya.

 

Seusai pemaparan materi, webinar ditutup dengan sesi tanya jawab teraktif, antara pemateri dan peserta webinar.

Sementara Ketua Forum Dosen Ekonomi dan Bisnis Islam (FORDEBI) Jawa Tengah sekaligus Kaprodi Ekonomi Islam FEB Undip Darwanto, S.E., M.Si., M.Sy, selaku tuan rumah kegiatan, berharap dengan adanya kegiatan webinar tersebut, dapat memberikan pengetahuan baru kepada para peserta.

"Terutama terkait potensi dan tantangan dari ekonomi dan keuangan digital yang tengah berkembang saat ini, " tandas Darwanto. ***

Penulis : arr
Editor   : edt