Pintu Air Tuntang Akhirnya Dibuka Tiap Hari 4 Centimeter Hingga Juni 2022


DIBUKA : Pintu Air Sungai Tuntang saat dibuka disaksikan para pihak terkait, di Tuntang, Kabupaten Semarang, Selasa (10/5). Foto : Ernawaty

UNGARAN, WAWASANCO. akhirnya Pintu Air Sungai Tuntang dibuka kisaran 4 centimeter, Selasa (10/5). 

Keputusan ini terlihat saat Bupati Semarang Ngesti Nugraha, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Danau - Pemali Juana Adek Rizalsissrta perwakilan petani Rawa Pening menyaksikan langsung Pintu Air Sungai Tuntang dibuka. 

Turut hadir Forkopinda se-Kabupaten Semarang, Muspika 4 kecamatan termasuk Kepala Desa dan Lurah. 

Selanjutnya, Usai pembukaan Pintu Air Sungai Tuntang seluruh pihak terkait melakukan penandatanganan Berita Acara. 

Dimana, Berita Acara ini dimaksudkan sebagai kesepakatan bahwa Pintu Air Sungai Tuntang per hari dibuka kisaran 4cm.

"Kami batal menggelar unjuk rasa atau demo ke Gubernur, karena Pintu Air Sungai Tuntang telah dibuka sesuai keinginan para petani agar dapat kembali melakukan kegiatan bercocok tanam," ujar seorang pengurus Forum Petani Rawa Pening. 

Hal senada disampaikan Ketua Forum Petani Rawa Pening Suwastiono ditengah pembukaan Pintu Air Sungai Tuntang. Ia mengungkapkan, setelah kesepakatan tercapai perwakilan petani setiap hari akan mengecek pintu air hingga Juni 2022. 

"Nanti petani per hari akan 'ngecek' ke lokasi pintu air. Pada intinya, fokus petani itu bisa menanam lagi," ungkap Suwastiono.  

Ia menjelaskan, jika pada akhirnya petani Rawa Pening dibagian  bawah belum bisa bercocok tanam Forum Petani Rawa Pening akan tetap meminta lagi Pintu Air Sungai Tuntang diturunkan. 

"Kami akan fokus di menanamnya dulu. Itu memang yang atas bisa tanam, sampai yang tengah. Tapi yang bawah ini bagaimana. Jika dibatas 4160 ada yang belum tanam, maka petani Rawa Pening akan tetap minta diturunkan kembali Pintu Air Sungai Tuntang," ujarnya. 

Sehingga, ia bersikeras tidak hanya terpaku kepada 46130. Jika ketinggian air mencapai 461, namun yang bawah belum bisa tanam Forum Petani Rawa Pening minta kembali dibuka. 

Dengan kondisi 3 tahun terakhir petani Rawa Pening tidak dapat melakukan kegiatan bercocok tanam, menjadi dasar perjuangan agar bisa kembali 'hidup'. 

"Tiga tahun ini, 'senep kembung atau tidak tanam tidak bisa panen. Yang dulu kita tidak nempur sekarang nempur. Buntutnya, banyak petani selama Covid-19 hidupnya susah bahkan terjerat hutang," akunya. 

Ia menyayangkan, ketika proyek pengerukan Rawa Pening oleh PUPR dilakukan sekeyika itu juga dampaknya harus difikirkan. 

"Ini petani selaman 3 tahun dibiarkan tidak bisa bercocok tanam termasuk menuai hasil," tandasnya. 

Sementara, Bupati Semarang Ngesti Nugraha menambahkan pembukaan Pintu Air Sungai Tuntang memang buntut dari keinginan petani Rawa Pening akan menggelar demo ke Gubernur dab BBWS di Provinsi Jateng. 

Dari keinginan itu, pihaknya langsung mencoba berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait. Sampai akhirnya, ada kesempatan Pintu Air Sungai Tuntang dibuka tiap hari mulai Selasa (10/5) setinggi 4 centimeter hingga awal Juni. 

"Jadi nanti sampai dengan awal bulan Juni bisa terbuka 1,4 meter. Mengapa tidak bisa langsung dibuka karena bisa banjir yang daerah Demak. Jika sehari 4 cm, kan target tanam 1 Juni, cuma bisa 80 cm," tutur Ngesti. 

Sebagai informasi, wilayah yang terdampak tidak bisa bercocok tanam berada di 14 desa, 4 Kecamatan di Kabupaten Semarang. 

14 Desa diantaranya Bejalen, Tambakboyo, Asinan, Tuntang, Kesonggo, Lopait, Candirejo, Rowosari, Sraten, sebagian Jombor, Rowoboni, Kebondowo, Banyubiru dan Pojoksari. 

Sedangkan disebut sebagai wilayah atas itu merupakan patok merah sebagian hak milik, sedangkan yang tengah itu sudah sebagian hak milik sebagian lagi tanah patok merah. 

Sedangkan bagian bawah merupakan tanah negara. Namun klaim pada petani Rawa Pening selama Belanda hingga Presiden SBY, petani masih bisa bercocok tanam serta dimanfaatkan. 

Dan ketika tanah negara tidak dimanfaatkan akan muncul rumput, gulma hingga hama tikus yang menganggu hak milik yang bisa tanam. 

Sebelumnya, ratusan petani di Rawa Pening Tuntang bertahun-tahun memperjuangkan Pintu Air Sungai Tuntang dibuka agar petani tetap bisa bercocok tanam dan memetik hasil. 

 

Penulis : ern
Editor   : edt