Keluarga Besar Tuntut Peristiwa Kecelakaan Suryati Marija Pelari Nasional Diungkap ke Publik 

  • Dianggap Banyak Kejanggalan

MENUNJUK : Sujan Aljoyo Murijan (85) beserta anak dan Kuasa Hukum saat menunjukkan foto Suryati Pelari Nasional, Kamis (12/5). Foto : Ernawaty

UNGARAN, WAWASANCO. Menganggap peristiwa menimpa Pelarih Nasional Suryati Marija bukan hal biasa, keluarga besar menuntut agar penegak hukum mengungkap kronologi tersebut hingga tuntas ke publik. 

Permintaan ini dilontarkan kelaurga melalui Kuasa Hukum, Mohammad Sofyan, SH dihadapan wartawan saat Press Conference di Balai Desa Gunung Tumpeng, Kacamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Kamis (12/5) siang. 

Turut hadir dalam kesempatan itu  ayah kandung Suryati Marija, Aljoyo Murijan (85) beserta dua adik kandungnya, salah satunya adalah Kades Gunung Tumpeng Sutriyono serta Supriyanto. 

Lebih jauh Sofyan menuturkan, kecelakaan terjadi di Jalan Tol menuju Pekanbaru, Riau pada 23 April 2022 tersebut merupakan perjalanan mudik almarhum dari Medan ke Salatiga. 

Dari peristiwa itu, hanya Suryati Marija yang meninggal dunia. Sedangkan, suami, anak, calon menantu, pengemudi diketahui bernama Ahmad dan seorang driver cadangan selamat. 

Sayangnya, sejak peristiwa hingga almarhum di makamkan keluarga di Medan seolah-olah menutupi sesuatu alias tidak terbuka. 

"Tidak transparasi, itu yang membuat kami keluarga di Salatiga dan Suruh Kabupaten Semarang bertanya-tanya. Terutama, si sopir diketahui bernama Ahmad tidak ada itikad baik minimal menghubungi untuk minta maaf," ujar Sofyan. 

Bahkan, terkait pemakaman almarhum pun oihak keluarga di Suruh, Kabupaten Semarang sama sekali tidak diajak musyawarah oleh keluarga yang di Medan terkait dengan beberapa wasiat Almarhumah. 

"Kami, mewakili keluarga besar Suryati Marija akan melakukan berbagai upaya hukum agar insiden kecelakaan tersebut dapat diusut tuntas kebenarannya apakah ada dugaan konspirasi/sabotase atau murni kecelakaan," tandasnya.

Ia juga menyebut, patut diduga peristiwa menimpa almarhum Suryati Marija adalah tergolong tindak pidana. Permintaan keluarga agar pengemudi dijerat hukum bukan tanpa alasan. Keluarga besar mengacu kepada peristiwa menimpa artis Vanessa Angel yang mengalami kecelakaan hingga meninggal dunia di Jalan Tol Ngawi. 

"Untuk itu, kami mewakili pihak keluarga menuntut sang Sopir diketahui bernama Ahmad diminta diproses hukum serta penegak hukum bertindak dan memprosesnya," terang Sofyan. 

Permintaan serupa diungkap sang adik, yang juga Kepala Desa Gunung Tumpeng Sutriyono. 

Dihadapan wartawan ia menghendaki agar peristiwa yang menyita perhatian media nasional itu diusut tuntas. 

Ia dan kelaurga besar baik di Salatiga maupun di Suruh, Kabupaten Semarang menilainya banyak kejanggalan.  

"Ganjalannya, tidak ada etikad baik minimal minta maaf dari pengemudi diketahui belakangan bernama Ahmad. Bahkan, satu Minggu tenggang waktu dari kejadian pun telah kami berikan juga tidak ada mengubungi sama sekali," kata Sutriyono. 

Kekesalan keluarga memuncak, saat Supriyanto sang adik, diutus untuk berkomunikasi dengan pihak keluarga di Medan. Hasilnya nihil.

Diakuinya Sutriyono, ia sempat mencoba berkomunikasi dengan pihak suami korban yang dalam periwisata kecelakaan itu turut didalam mobil. 

Bahkan, pihak keluarga juga telah menyiapkan pesawat serta mobil ambulans untuk membawa jenazah ke Jawa dan dimakamkan di daerah Kelahiran Suryati. 

Namun oleh keluarga di Medan seolah-olah tak menggubris dan menutupi semua informasi. 
 
Diketahui dari periwisata itu, kondisi sang suami, anak, calon menantu, pengemudi dan draiver cadangan dalam kondisi baik-baik saja meskipun syok. Namun yang membuat keluarga besar bertanya-tanya, 'justru tidak diberikan kejelasan apa pun perihal peristiwa tersebut. 

Sejumlah upaya sebenarnya telah ditempuh keluarga Suryati di Jawa. Baik meminta konfirmasi melalui telpon ke petugas Dishub dan diarahkan ke Satlantas dimana locus kejadian. Namun tidak berhasil karena kendala komunikasi. 

"Pada akhirnya, pihak keluarga menunjuk Pengacara agar dapat menindaklanjuti tuntutan keluarga tersebut," pungkasnya.

Sementara, Sujan Aljoyo Murijan (85), ayah kandung Suryati didepan awak media tak dapat berbicara banyak. Ia terlihat masih syok. 

Mulutnya keriput, terlihat sesekali bergetar. Ditemui wartawan di di Balai Desa Gunung Tumpeng, Kacamatan Suruh, Kabupaten Semarang, Joyo, panggilan Sujan Aljoyo Murijan banyak terdiam. 

Sambil mengenang masa-masa anaknya saat bersama di kampung halaman, Joyo menyebut jika ia jarang berkomunikasi dengan putrinya tersebut.
"Selama ini hanya lewat telpon kalau berkomunikasi dengan Suryati," ujar Joyo. 

Ia semakin terlihat tak dapat menahan tangis, ketika menyebut amanah sang anak yang ingin kembali ke pulau Jawa menetap serta membeli sebidang tanah untuk kemudian membangun rumah guna hidup di masa tuanya, urung terwujud. 

"Sempat almarhum ada pesan ke ibu kandungnya, amanahnya ingin beli tanah Rp 30 juta di sini terus mendirikan rumah dan pulang kampung," timpalnya. 

Sebagai yang dituakan, ia memohon keadilan agar sopir yang mengakibatkan kecelakaan anak saya diproses proses hukum sebagaimana mestinya. 

Termasuk, pihak berwenang  mengungkap kronologi serta status hukum pengemudi dan penumpang mobil yang terlibat kecelakaan. Apakah ini murni kecelakaan atau sabotasien termasuk hak-hak korban. 

Sebagaimana diketahui, Suryati Marija pelari nasional tewas dalam kecelakaan di Jalan Tol menuju Pekanbaru, Riau pada 23 April 2022 lalu. 

Ibu dua anak itu adalah mantan atlet Nasional yang berasal dari Dusun Krapoh, Desa Gunung Tumpeng, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang. Mengawali karir pada klub Dragon Salatiga.

Selanjutnya Suryati tercatat telah menyabet tiga medali dengan rincian satu emas (maraton), perak (3000m), dan perunggu (10.000m) pada SEA Games 1989 di Kuala Lumpur Malaysia. 

Kemudian pada SEA Games 1991 di Manila, Filipina, Suryati meraih perak pada nomor 10.000m. Pada tahun yang sama dia juga meraih perunggu nomor 1km pada Kejuaraan Asia. 

Lalu pada SEA Games 1993 di Singapura meraih satu emas (maraton) dan perunggu (3000m). Setelah pensiun sebagai atlet Suryati bekerja di Dispenda Medan dan melanjutkan karier sebagai pelatih yang sukses melahirkan atletik berprestasi seperti Edy Haryanto Harahap, Nyai Prima Agita Siregar, dan lainnya.

 

Penulis : ern
Editor   : edt