Ahok Sayangkan, SDM dengan SDA Indonesia Belum Seimbang


MEMAPARKAN : Ahok saat menjadi narasumber di acara Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Leaders Forum, Jumat (13/05). Foto: Ernawaty

SALATIGA, WAWASANCO. Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (BTP) menyayangkan belum seimbangnya Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia. 

Hal ini dilontarkan BTP atau biasa disapa Ahok saat menjadi narasumber di acara Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Leaders Forum, Jumat (13/05). 

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyebut, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah namun kemampuan masyarakat untuk mengolah dirasanya masih sangat kurang.

Terbukti, PT Pertamina dimana permintaan untuk memasok minyak dunia sangatlah tinggi namun kapasitas yang mampu disediakan sangat terbatas.

"Persoalan kembali merujuk pada ketertinggalan SDM Indonesia. Guna memacu semangat SDM Indonesia pihaknya berkeinginan untuk menggandeng sejumlah partner strategis," ungkapnya. 

Ahok juga memberikan pandangannya mengenai proyeksi energi Indonesia ke depan. Meski Pertamina masuk ke petrokimia tergolong terlambat, namun ini jadi salah satu langkah strategis yang menentukan keberhasilan misi pemerintah melaksanakan transformasi ekonomi dari berbasis komoditas ke industri pengolahan bernilai tambah tinggi. 

Sehingga saat ini dikatakannya dibutuhkan banyak tenaga terlatih dan terdidik untuk dapat mengolah sumber daya alam yang tersedia. Dirinya tak ragu untuk mendorong pemerintah menyediakan lembaga pendidikan khusus, sehingga mesin-mesin berteknologi tinggi tidak lagi dikuasai oleh pihak asing.

Terkait gelaran Leaders Forum UKSW menjadi wadah diskusi guna mengawal visi Indonesia Maju 2045, Basuki mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan sejak 10 Mei lalu ini. Melaui forum ini menurutnya peserta dapat saling belajar, termasuk dirinya yang banyak mendapat tambahan pengatahuan dari para dosen, pimpinan dan para peserta.

Komisaris Utama PT Pertamina Basuki Tjahaja Purnama (BTP) menyayangkan belum seimbangnya Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia dengan Sumber Daya Alam (SDA) yang tersedia. Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah namun kemampuan masyarakatnya untuk mengolah dirasanya masih sangat kurang.

Hal tersebut turut dirasakan PT Pertamina dimana permintaan untuk memasok minyak dunia sangatlah tinggi namun kapasitas yang mampu disediakan sangat terbatas.

Menurutnya persoalan tersebut kembali merujuk pada ketertinggalan SDM Indonesia. Guna memacu semangat SDM Indonesia pihaknya berkeinginan untuk menggandeng sejumlah partner strategis.

Dalam kesempatan itu, Ahok juga memberikan pandangannya mengenai proyeksi energi Indonesia ke depan.

"Meski Pertamina masuk ke petrokimia tergolong terlambat, namun ini jadi langkah strategis yang menentukan keberhasilan misi pemerintah melaksanakan transformasi ekonomi dari berbasis komoditas ke industri pengolahan bernilai tambah tinggi," ujarnya.

Sehingga saat ini dikatakannya dibutuhkan banyak tenaga terlatih dan terdidik untuk dapat mengolah sumber daya alam yang tersedia. 

Dirinya tak ragu untuk mendorong pemerintah menyediakan lembaga pendidikan khusus, sehingga mesin-mesin berteknologi tinggi tidak lagi dikuasai oleh pihak asing.

Di tengah paparannya berlangsung santai, Ahok tak pelit berbagi pengalaman selama terjun ke dunia politik. 

Ahok menyebut hal yang mendasarinya adalah panggilan hati. Dirinya juga meminta kampus sebagai penghasil akademisi tidak menutup diri.  
"Terkait hal-hal yang bersifat politis, kampus harus berani sampaikan kebenaran, keadilan. Jika kita mudah dipecah-belah, politik nantinya akan hanya diisi orang-orang tertentu saja sehingga itu adalah kemunduran," tegasnya.

Pria kelahiran Manggar 55 tahun silam ini menganggap dirinya adalah seorang profesional di bidang politik. Bahkan di salah satu bukunya, Basuki menuliskan bahwa dalam berpolitik dirinya memilih melakukan prophetical voice bukan political voice.

Hal-hal itulah mengajarkan dirinya untuk melakukan fungsi seperti nabi yang menyuarakan kebenaran dan keadilan sekalipun dengan hasil ditolak. 

Dirinya juga menentang political voice karena prinsip ini tidak memedulikan apakah hal yang dilakukan itu halal atau haram yang penting menang dalam pemilu. Orang seperti itu dilihatnya hanya menjujung prinsip menang atau kalah dan tidak peduli yg dilakukan halal atau haram.

Dirinya meminta kampus sebagai penghasil akademisi tidak menutup diri.  
"Terkait hal-hal yang bersifat politis, kampus harus berani sampaikan kebenaran, keadilan. Jika kita mudah dipecah-belah, politik nantinya akan hanya diisi orang-orang tertentu saja sehingga itu adalah kemunduran", tegasnya. 

Terkait gelaran Leaders Forum yang menjadi wadah diskusi guna mengawal visi Indonesia Maju 2045, Basuki mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan sejak 10 Mei lalu ini.

Melaui forum ini menurutnya diakuinya peserta dapat saling belajar, termasuk dirinya yang banyak mendapat tambahan pengatahuan dari para dosen, pimpinan dan para peserta.

 

 

Penulis : ern
Editor   : edt