Benarkah Takdir Bukan Hukuman?

283

foto ilustrasi
Tak pernah aku bayangkan, sesuatu yang menjadi bagian takdir, rencana Ilahi, didudukkan di pundakku sebagai sebuah kesalahan. Dan, dalam kesedihan kehilangan, aku mendapatkan bencana lain, dicap sebagai "pembunuh".

Aku Risma (30), menikah, guru di sekolah swasta. Suamiku Farhan (31), bekerja di perusahaan kontraktor. Kemampuannya dalam desain interior dan gambar membuat kariernya cepat melesat. Ini berdampak langsung pada kemampuan finansial kami. Karena itu, jika semula kami berencana tak memiliki momongan saat menikah 6 tahun lalu, tapi di tahun kedua, rencana itu kami batalkan. Di tahun ketiga pernikahan, aku telah memberinya kado mungil yang luar biasa, seorang bayi perempuan yang cantik. Bayi itu kami namakan Farhis, gabungan namanya dan namaku. Dan, jadilah hari-hari kamu bergembira dengan bayi kami yang tumbuh subur, cantik. Tak ada hari libur yang tidak kami habiskan bersama. Tak ada gerak sedikit pun dari Farhis yang tidak kami ketahui. Farhan apalagi, setelah ada anakku, barangkali aku jadi wanita kedua di hatinya. Kasihnya melimpah luar biasa. Dan aku senang, aku bangga.

Farhis usia setahun, kami sudah memiliki rumah, dan kutinggalkan rumah ayah-ibu di Pedurungan. Kami tempati rumah tipe 45 di perumahan Semarang Atas. Mobil pun segera dibeli Farhan, meski dengan cara kredit. Alasannya, ia selalu tak tega membawa Farhis jalan-jalan dan kepanasan. Aku pun setuju. Apalagi, kalau sudah menyangkut urusan Farhis, tak ada yang dapat membantah Farhan. Ia bahkan sudah menabung untuk keperluan anakku, mulai rencana sekolah, sampai urusan-urusan yang menurutku masih akan berpuluh tahun lagi akan kami hadapi. Tapi semua aku setujui saja, karena aku tahu, barangkali itulah wujud kasih sayangnya. Oh ya, Farhan anak tunggal, sehingga kehadiran Farhis membuat dia segara mendapatkan kesempatan punya "adik". Mertuaku pun sayang luar biasa pada cucunya ini.

Namun, rencana manusia memang hanya sekrup kecil dari rencana Tuhan. Di balik kegembiraan kami, tersimpan duka yang luar biasa besar, yang tengah menanti. Tepatnya setahun lalu.

Usia Farhis sudah 2,5 tahun. Ia sedang nakal-nakalnya, dan sedang menggemaskan. Farhan jangan ditanyakan lagi besarnya cintanya pada anak kami ini. Dan, tak ada liburan yang tidak kami habiskan bertiga. Tapi, hari itu, bencana memang tengah dipersiapkan untuk kami. Kini aku dapat sadari hal itu.

Minggu, dan kami dapat undangan pernikahan di Demak. Kenalanku semasa kuliah menikah. Dan aku sudah menjanjikan akan datang. Farhan pun yang kebetulan kenal, juga sudah memberi lampu hijau. "Sekalian, membawa Fehis jalan-jalan," katanya. Kembali, soal Farhis dia tak lupa. Tapi, malam Minggu itu, Farhan panas. Flu dan demam menyerangnya. Ketika pagi, meski dia sudah agak mendingan, tetap saja tubuhnya terasa lemah. Aku pun tak tega mengajaknya pergi. Maka, kuberanikan diri untuk pergi sendiri. Farhan menolak. Dia meminta aku menunggu sampai jam 10 siang, menunggu kondisi tubuhnya lebih baik. Aku setuju.

Nyatanya, Farhan tetap saja lemah. Untuk menyetir, jelas dia tidak mampu. Dia pun usul untuk membatalkan memenuhi undangan itu. Tapi aku menolak. Setelah "berdebat" sedikit, dengan agak berat, dia mengizinkan aku pergi. Sendiri. Aku protes lagi. Aku ingin Farhis ikut, karena nanti siapa yang akan mengurus dia. Lagi pula, dengan tubuh ayahnya yang masih lemah, aku tak ingin merepotkan suamiku. Belum lagi kalau Farhis nanti buang air atau menangis, kasihan Farhan. Kami berdebat lagi, dan aku kembali "menang". Dengan sebal, Farhan mengizinkan. Dia pun ikut mengantar kami sampai gerbang, sebelum aku pergi dengan Farhis di samping kiriku.

Dan rencana Tuhan terjadi. Aku tak ingat pasti bagaimana ceritanya. Cuma, sewaktu dekat Sayung, perbatasan Demak-Semarang, ketika aku bermaksud memotong sebuah truk yang jalan terlalu lambat, ternyata ada bus yang tiba-tiba juga memotong dari arah berlawanan. Posisi mobilku yang sudah separo jalan memotong membuat aku panik. Untuk melalui nyaris tak akan dapat, untuk mengerem, aku juga tak yakin. Dan dalam kepanikan sepersekian detik itulah, aku nekat menambah kecepatan, bermaksud memotong truk itu. Berhasil, itulah yang kukira, tapi nyatanya tidak. Bus itu yang juga melaju kencang, menyentuh sisi kanan mobilku, meski tidak keras, benturan itu menimbulkan goncangan yang cukup kuat, dan aku tak tahu pasti, cuma tiba-tiba aku merasa seperti mendapat sorongan keras dari belakang, dan mobilku tanpa terhindarkan melesat meninggalkan badan jelan, melesak ke sisi trotoar, dan berhenti ketika menabrak pohon. Selebihnya, gelap. Aku pingsan.

Ketika sadar, aku di rumah sakit. Di sisiku hanya ada mertua, dan orang tuaku. Farhan tak ada. Dan ketika aku tanyakan, semua hanya diam. Mertua perempuanku yang menangis, meraung dan memeluki diriku. Ayahku hanya diam, juga mertua lelakiku. Tapi aku tahu, mereka juga menangis.

"Ada apa? Kenapa? di mana Farhan? Farhis, anakku? Gimana dia?" begitu pertanyaanku meluncur, dan tak ada jawaban. Tapi aku telah tahu sesuatu, aku telah merasa, dan benarlah. Ya, Allah.... Anakku...

Dari ayah, aku tahu, Farhis telah tiada. Aku pingsan lagi. Ketika sadar, aku hanya meronta-ronta, menjerit-jerit, dan hanya ayah yang ada untuk menenangkanku. Mertua dan Farhan mengurus pemakanan anakku, yang tak dapat kuhadiri, karena aku tak bisa bergerak. Rusukku retak, dan kakiku patah, juga memar yang parah di kepala dan pinggulku. Aku hanya bisa menangis, menangis. Dari cerita ayah kemudian, aku ternyata pingsan berkali-kali.

Kenapa Farhis meninggal, padahal benturan itu tidak keras, juga tabrakan dengan pohon itu pun perlahan, selalu itu yang jadi pertanyaanku. Tapi, kata ayah, anakku terlontar karena tak memakai sabuk pengaman. Dan, meski dokter telah berusaha, pendarahan di kepalanya membuat nyawanya tak tertolong. (Dulu, aku meraung saat mendengar cerita ini...)

Kini sudah setahun hal itu berlalu. Rasa kehilanganku belum juga sembuh. Masih terbayang semua tentang anakku, jelas, sangat jelas. Tapi, sakit karena kehilangan itu tak cukup, aku juga kehilangan Farhan. Begitu aku sembuh dan boleh pulang 3 minggu kemudian, aku tahu, sudah ada yang salah dengan suamiku. Dari dia yang tak menjemput, dan tak menungguiku di rumah sakit, aku tahu, Farhan menyalahkanku atas kejadian itu. Tapi, begitu sampai rumah, aku tahu lebih parah lagi, ternyata Farhan bahkan mengganggap aku sebagai "pembunuh" Farhis. Dia pernah marah dan membentak-bentakku, "Kenapa tidak kamu saja yang mati?! Kenapa harus Farhis, kenapa bukan kamu??" Ya Tuhan... aku menangis saat dia mengatakan itu. Aku kehilangan suamiku, aku telah kehilangan anak, suami, dan juga kebahagiaanku.

Aku telah minta maaf ke Farhan. Aku katakan, "Jika memang boleh memilih, aku akan bersedia menggantikan nyawa anakku. Aku yang akan ikhlas mati, bukan anakku. Tapi ini takdir. Tolong jangan salahkan aku, tolong... Aku pun kehilangan anakku, bukan Mas saja, kita punya kesedihan yang sama..."

Tapi nihil, aku tak pernah di dengar. Farhan hanya berucap, "Seandainya kamu tak pergi ke undangan itu... seandainya kamu patuh pada suamimu,..." Ohh.. untuk urusan takdir, dapatkah kita bicara "seandainya..."

Kini telah setahun, dan hubunganku kian kacau dengan Farhan. Ia jadi pemamun, dan kusut. Aku sering menemukan dia menangis. Dan aku tahu, lebih daripada menyalahkan aku, dia pun menyalahkan dirinya sendiri. Hubungan kami beku. Nyaris tanpa komunikasi. Hanya kehadiran mertua yang membuat kami bisa membuat rumah ini serasa hidup lagi. Selebihnya, aku telah sungguh-sungguh kehilangan anakku, suami, dan kepercayaannya. Aku tak tahu lagi, entah bagaimana cara bisa menjalani hidup ini....

 

(Cerita Ny Risma, Semarang)

Penulis : Administrator