Sekda Kota Salatiga Wuri Pujiastuti Siapkan Langkah dari 'Serangan' Mantan 'Bosnya' Yuliyanto


Sekda Kota Salatiga Wuri Pujiastuti. Foto : ist/Ernawaty

SALATIGA, WAWASAN.CO - Sekda Kota Salatiga Wuri Pujiastuti tengah menyiapkan langkah atas 'serangan' bertubi-tubi dilontarkan mantan bosnya, Wali Kota Salatiga dua periode  

2011-2016 dan 2016-2022, H. Yuliyanto, S.E., M.M. 

Kepada wartawan, Wuri Pujiastuti mengaku tidak akan tinggal diam. Saat ini, Wuri Pujiastuti tengah berkoordinasi dengan sejumlah pihak terkait dan akan menyampaikan sepenuhnya dihadapan wartawan di waktu yang tepat. 

"Akan ada waktunya saya bicara. Semuanya, secara gamblang akan saya beberkan," tandas Wuri Pujiastuti saat dikonfirmasi, Selasa (2/8). 

Apakah akan menggandeng Pengacara/ Advokat, Wuri tidak secara terang membenarkan. Hanya saja, jika itu diperlukan akan ia tempuh upaya itu. 

Sementara, mantan Wali Kota Salatiga H. Yuliyanto, S.E., M., kembali mengungkapkan kekesalannya. 

Kepada wartawan, Yuliyanto menilai tunjangan yang diterima Wuri Pujiastuti yang sangat besar berasal dari uang rakyat sebagai Sekda saat ini tidak sebanding dengan kinerja kerjanya. 

"Terus terang saya kecewa terhadap Sekda dengan reward Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) setiap bulan Rp 30 juta dari uang rakyat, tapi tidak memberikan timbal balik tugas pokok fungsinya. Jadi gak setimpal dengan tunjangan yang besar dengan kinerja hasil kerjanya," sebutnya. 

Secara gamblang, Yuliyanto mengaku merasa bersalah kepada seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) serta masyarakat Kota Salatiga dengan mengangkat Wuri  Pujiastuti menjadi Sekda. 

"Terus terang saya merasa bersalah kepada seluruh ASN dan masyarakat Kota Salatiga dengan Wuri Pujiastuti menjadi Sekda, karena selepas saya tidak menjadi Wali Kota selalu membuat ketidaknyamanan dan kegaduhan di lingkungan jajaran ASN Salatiga," tutur Yuliyanto. 

Yuliyanto juga menuding, jika Sekda Wuri Pujiastuti menebar informasi yang menyesatkan dan selalu mencari kambing hitam setiap kali melakukan kesalahan. 

Tak hanya itu, ia menilai Sekda tidak mampu mengayomi pegawai dan memberikan kenyamanan bekerja ke seluruh OPD di lingkungan Pemkot Salatiga.

Buntut kekecewaan Yuliyanto ini , karena tidak segera mendapatkan balasan dari pengajuan tukar guling aset Pemkot Salatiga bagi 
Yayasan Karantiy Tahfizh Al-Qur'an Nasional (YKTAN) Salatiga yang ia kelola dengan Ketua Dwi Cahyono. 

Ia menyinggung, jika memang belum memenuhi syarat Sekda Wuri Pujiastuti diminta memberikan jawaban ke pihak pemohon dengan rincian secara gamblang apa saja termasuk persyaratannya dalam tukar guling aset Pemkot Salatiga. Sehingga, tidak ada kesan pembiaran. 

"Wong sudah dua kali bersurat tidak juga dibalas suratnya," sindirnya, tegas. 

Yuliyanto menganggap Wuri Pujiastuti tidak mampu menjalankan roda administrasi Pemerintah Kota Salatiga. 

"Kalau tidak paham soal tukar guling, 
gak usah jadi Sekda saja, lebih baik mundur dari jabatannya. Mosok dibayar oleh uang rakyat dengan TPP sampai Rp 30 juta 'gak mau' melaksanakan proses pelayanan publik dengan baik dan benar. 
Semua ada aturannya jelas cuma gak pernah mau membaca dan belajar
Kelemahannya karena gak faham dan gak mau belajar. Karena setahunya Sekda, pelayanan publik itu bukan urusannya melainkan urusan perijinan," sebut Yuliyanto, dengan terang benderang. 

Pencopotan Sekda Wuri Pujiastuti dengan penggantian (Sekda yang baru) dianggapnya jalan terbaik saat ini. 

Penulis : ern
Editor   : edt