Program 'Pak Rahman' Pemkot Semarang Raih Penghargaan dari TPID Jateng dan Bank Indonesia


SEMARANG WAWASANCO - Komitmen Pemerintah Kota Semarang dalam menggelar pasar murah di 16 kecamatan mendapat penghargaan dari TPID Jawa Tengah.

Pemerintah Kota Semarang dinilai berhasil menyediakan akses bahan pangan yang terjangkau masyarakat sekaligus berhasil menekan angka inflasi. 

"TPID Jawa Tengah bersama Bank Indonesia memberikan apresiasi untuk program Pak Rahman (Pasar Pangan Rakyat Murah dan Aman), yang tentu ini juga menjadi salah satu pendorong bagaimana inflasi di Kota Semarang ini bisa terkendali dan juga kita masuk 10 besar tingkat inflasi terendah se-Indonesia," terang Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Hal tersebut disampaikan pada acara Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan atau GNPIP yang digelar Bank Indonesia di Alun-alun Pasar Johar, Jumat (14/4/2023).

Mbak Ita, sapaan akrab wali kota perempuan pertama di ibu kota Jawa Tengah tersebut bahkan memastikan jika pihaknya akan menggelar roadshow pasar murah hinggal 18 April 2023.

Dirinya juga menjelaskan bahwa jajarannya telah memberikan bantuan beras sebanyak 580 ribu ton kepada keluarga penerima manfaat di Kota Semarang. 

Dalam acara yang sama, Bank Indonesia juga mengukuhkan Mbak Ita sebagai Bunda QRIS.

Apresiasi ini diberikan karena Mbak Ita dinilai memiliki komitmen dan secara konsisten mengenalkan akselerasi penggunaan QRIS kepada masyarakat luas dengan menjadikannya metode pembayaran selama kegiatan Pak Rahman berlangsung. 

"Saya matur nuwun kepada Bank Indonesia, Pak Rahmat beserta jajarannya yang telah memberikan (penghargaan) kami menjadi Bunda QRIS. Kota Semarang adalah Kota Besar sehingga ya memang digitalisasi ini harus berjalan," tutur Mbak Ita. 

Menurutnya, pemakaian QRIS sebagai metode pembayaran selaras dengan konsep Smart City yang diusung oleh Pemerintah Kota Semarang.

Ia menghimbau agar masyarakat ke depannya menjadi cashless society dengan lebih sering menggunakan QRIS dalam melakukan transaksi sehari-hari. 

"Kita juga mengajarkan pada masyarakat dan pelaku usaha bahwa mereka tidak perlu punya susuk (uang kembalian) karena harga-harga ini kan pasti tidak genap sehingga salah satu solusinya ya melakukan (pembayaran lewat) QRIS," tandas Mbak Ita.

Penulis : rls
Editor   : edt