Literasi Digital Sumber Bahan Ajar


BELAJAR - Kegiatan Belajar Mengajar Siswa SMK

PEMALANG,WAWASANCO - Berdasarkan UNESCO Indonesia ternyata berada urutan kedua terbawah soal literasi dunia, artinya minat baca sangat rendah, sebab dari 1000 orang Indonesia ternyata cuma 1 orang yang rajin membaca. Namun disisi lain menurut We Are Social, jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai 213 juta orang per Januari 2023. Jumlah ini setara 77% dari total populasi Indonesia yang sebanyak 276,4 juta orang pada awal tahun ini.

Padahal bila dilihat lebih mendalam didalam penggunaan internet, orang tidak hanya melihat gambar atau video saja, akan tetapi dipastikan juga membaca setidaknya narasi yang ada dalam gambar atau video tersebut. Hal ini mengartikan minat baca digital sebenarnya masih tinggi, jauh terbalik dengan minat baca terhadap media lawas seperti buku dan lain-lain.

Sehingga disinilah literasi digital mempunyai peluang besar untuk melakukan penetrasi, khususnya terkait dengan bahan ajar yang akan digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Sudah barang tentu saat ini para siswa lebih senang dan bersemangat apabila diberikan tugas untuk mencari materi-materi pelajaran dari internet, jika dibandingkan dengan mencari melalui buku. Apalagi saat ini sejumlah buku juga sudah di wujudkan dalam bentuk digital, sehingga semakin jaranglah siswa yang mempunya buku.

Untuk meningkatkan literasi digital dikalangan siswa tentunya bisa berakibat positif maupun negatif, bisa menjadi positif apabila digunakan untuk kepentingan pendidikan seperti bahan materi pelajaran, materi tambahan selain dari sekolah, kunjungan industri secara virtual dan sebagainya, tetapi juga bisa menimbulkan akibat negatif jika digunakan tidak dengan benar. Hal ini disebabkan sensor atau pembatasan di dunia digital sangat longgar, sehingga materi yang belum semestinya untuk anak sekolah bisa dengan mudah diakses oleh para siswa.

Dengan literasi digital yang semakin mudah, maka siswa akan semakin mudah mendapatkan materi bahan ajar dan bukan justru berselancar dalam dunia media sosial. Ini tentunya akan berimbas pada meningkatnya rasa keingintahuan dari siswa, dan keingintahuan ini tentunya bisa langsung ditanyakan kepada guru. Hal ini karena melalui dunia digital sudah tidak ada lagi batasan jarak dan waktu, sehingga siswa dan guru bisa berinteraksi setiap saat.

Selain itu pengajar tentunya dituntut untuk lebih kreatif dalam pembelajaran kepada siswa, hal ini bisa dimulai dengan pemberi tugas kepada para murid untuk mencari bahan-bahan yang terkait pelajaran di internet kemudian merangkumnya dan lain-lain. Apabila dirasa memungkinkan guru dan muridpun bisa melakukan kunjungan industri ataupun obyek-obyek wisata yang dilakukan secara virtual bersama-sama, tentunya ini akan menjadikan pengalaman yang lebih menarik bagi siswa tanpa perlu untuk mengeluarkan biaya lebih.

Namun memang tidak menutup kemungkinan ada beberapa kendala yang bisa ditemui, semisal adanya guru-guru yang sampai saat ini masih kurang familiar dengan teknologi digital sehingga butuh pembelajaran, kedua masih adanya siswa-siswa yang tidak mampu untuk mengakses digital baik karena faktor geologis tempat tinggal berada di area blankspot maupun karena faktor ekonomi.  Namun demikian dengan adanya pemahaman dan niat yang sama untuk maju, maka hal tersebut tentunya bisa diatasi dengan mudah.

Penulis : Winarni, Guru Produktif SMKN 1 Randudongkal, Pemalang

 

 

Penulis : pw
Editor   : jks