Kesadaran Bahasa dan Akal Budi

1.4K

Manusia ternyata sangat sadar akan posisi. Bagi yang tidak paham terhadap hal itu, akan tersesat dan berperilaku tidak pantas di masyarakat. Termasuk pula dalam berbahasa dan bertutur kata.

MEMULAI tema ini, mari kita tarik garis Psikoanalisa yang diperkenalkan Sigmund Freud pada tahun 1869. Berkali-kali ia melakukan propaganda, bahwa “kesadaran” dalam diri manusia merupakan sebagian kecil saja dari psikis manusia. Yang paling bervolume besar adalah ketidaksadaran itu sendiri, karena di sana akan terkandung kekuatan fundamental yang mendorong kepribadian seseorang.

Di dalam ketidaksadaran terdapat nafsu, hasrat dan keinginan-keinginan. Manusia mengangankan cita-cita, idealitas dan upaya-upaya yang kelak akan mengagungkan dirinya. Dari keadaan nyata, secara fisik bisa mengolah, memberdayakan kemampuan dan ketidakmampuannya, sehingga memperoleh posisi sosial sesuai yang diharapkan. Dari semua itu, berhadapan pula proses pengendalian diri secara instingtif yang merupakan filter dari hasrat liar yang tidak mampu diraih oleh situasi tertentu. Freud mengutip buku George Groddeck, The Book of the It, ia meyakini masih tersimpan hal-hal paling dahsyat di alam bawah sadar,yang belum terlihat.

Kehebatan dan jasa besar Freud dalam memetakan alam bawah sadar ke dalam kesadaran penuh, harus pula dikomparasi oleh von Hartmann dalam bukunya, Philosophy of The Unconscious. Celakanya, buku itu telah terbit 30 tahun sebelum teori Freud booming. Von Hartmann merujuk butir filsafat Schopenhauer dimana proses pembangkitan bawah sadar ke alam kesadaran akan membentuk pribadi hebat seseorang.

Bahasa memang mencerminkan akal budi paling ekstrem yang dapat dilihat manusia. Bagaimana cara membuka interelasi dengan individu lain, melakukan negosiasi dan bertransaksi secara verbal. Bahasa dengan kata-kata ataupun tubuh dan ekspresi mimik muka, semuanya menyimpan bobot luar biasa.

Jika peradaban lama mengenal kasta melalui garis keturunan, kekayaan dan kemuliaan asal-usul, maka diskriminasi itu diyakini masih tetap berlangsung, meski idiomnya bergeser. Kasta kekinian ditentukan oleh strata pendidikan, tahta dan derajad kapital yang mengemuka. Seorang CEO sebuah perusahaan besar akan sedikit menggunakan kata-katanya ketika berhadapan dengan karyawan papan bawah, kecuali bahasa mata dan gerak-gerik yang akan dipahami dengan cepat oleh bawahannya.

Seorang kreator jenius ketika bernegosiasi langsung dengan owner perusahaan, akan mengalami kendala hebat. Harus memanfaatkan mediator yang telah dipercaya mampu mengantar maksud masing-masing di meja perundingan. Ini contoh paling tajam, bagaimana kesadaran berkata-kata harus melalui penerjemah yang dipercaya.

“I'm OK, You're OK”

Tahun 1969 terbit buku yang menggemparkan Amerika. Judul buku itu, “I'm OK, You're OK.” Terkesan buku ini semacam simulasi perilaku keseharian yang ringan dan datar saja. Namun penulisnya, Thomas Anthony Harris MD (1910-1995), menyebut karya ini sebagai buku Self - Help. “I'm OK, You're OK.” mencapai bestseller karena isinya sangat tidak biasa.
Buku itu menjelaskan bagaimana cara ber-Analisa Transaksional (Transactional Analysis) dalam berbagai format. Format-format yang diperkenalkan antara lain “Im OK, Youre OK,” “Im OK, Youre Not OK,” “Im Not OK, Youre Not OK” dan “Im Not OK, Youre Not OK.” Rekomendasi yang paling ideal adalah format pertama, dimana dicontohkan pembicaraan antara dua individu yang masing-masing mencapai kata sepakat karena diawali dan diakhiri dengan transaksi “OK.”

Simulasi paling mudah dari format tersebut sebagai berikut:
Seorang gadis dan pemuda tengah melakukan pertemuan di sebuah tempat, dan membicarakan hal-hal paling awal dari hubungannya yang belum lama. Kata si gadis, “Kau terlalu sopan malam ini, aku menyukai hal-hal yang seperti ini.”

Sang pemuda membalasnya, “O ya? Sungguh aku senang mendengar kau bahagia karena itu.”

Format sebaliknya adalah, “Im Not OK, Youre Not OK.”Inilah contohnya:
Tokoh pelaku dan situasi adegannya tidak berubah. Kata si gadis,”Tidak adakah cara lain yang lebih menyebalkan kecuali bertemu dalam suasana seburuk ini?”

Lantas sang pemuda membalas, “Selalu kata-kata busuk yang keluar dari bibir bengismu terhadapmu. Aku sangat muak melihatmu.”

Pilihan bahasa dan kata-kata bisa tidak berpengaruh terhadap keinginan dan kata hati. Bisa saja ujaran “tak sedap” merupakan pseudo dari kata hati yang sebaliknya. Ada kebiasaan seseorang selalu mengumpat setiap kali bertemu sahabatnya. Dan umpatan tersebut tidak mencerminkan sikap kebencian atau pelecehan bagi si lawan bicara.

Namun dalam konteks fragmen di atas, menabrakkan kontradiksi yang jelas, perbincangan pertama saling membuka jalan, perbincangan di bawahnya menutup segala kemungkinan.

Membaca bahasa akal budi memang perlu referensi. Paling tidak, referensi bacaan, pendidikan dan pengalaman perjalanan di banyak tempat. Di negara-negara maju yang peradabannya terbentuk lama, akan sulit ditemui kata-kata kasar dan langsung seperti yang sering kita lihat di negara berkembang.

Namun bukan berarti itu cermin dari bahasa hati yang sepadan dengan yang ia katakan. Mereka memiliki lipatan lidah yang luar biasa lihai, sehingga amat sulit ditangkap bahwa mereka sedang berkelit lidah.

Kata-kata yang digunakan variasinya cukup banyak. Misalnya dalam bahasa bisnis, mereka biasa hemat menggunakan kata-kata bersayap. Paling saling memuji, setelah itu berbicara tentang angka dan logika. Selebihnya strategi yang akan dirancang bersama. Sia-sia mempersiapkan banyak kalimat yang menghibur lawan bisnis, jika data yang dikemukakan tidak meyakinkan.

Format yang ditawarkan Thomas Anthony Harris MD sebenarnya tidak merekomendasikan mana yang paling baik di antara jenis format yang ditulisnya. Masing-masing memiliki kekuatan dan kegunaan. Masing-masing bisa dipakai sesuai peruntukannya. Itulah yang menarik para penggemar buku, sehingga judul “Im OK, Youre OK” menjadi tawaran yang paling bisa diterima di dunia.

Posisi memang menentukan harus seperti apa kita menghadapi lawan bicara. Jika tidak ingin digunjing aneh dan dianggap tidak terdidik, maka belajarlah membaca peradaban dan antropologi sebisanya. Bukankah kita tak ingin dituduh menjadi tokoh Michael J dalam film "Crocodile Dundee” yang diputar pada tahun 1986?

Penulis adalah pengelola Ezzpro Media.

Penulis : htm
Editor   : awl