TEGAL, WAWASAN.CO – Komitmen Bank Indonesia dalam pemerataan akses layanan keuangan kembali ditunjukkan melalui program Kas Keliling 3T (Terdepan, Terluar, Terpencil) yang kali ini menyasar Dusun Karangsari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jumat (29/8/2025).
Kegiatan yang digelar Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Tegal ini merupakan bagian dari upaya mendukung ketersediaan Uang Layak Edar (ULE) sekaligus memperluas literasi inklusif dalam mendukung kedaulatan Rupiah di wilayah 3T.
Kepala KPw Bank Indonesia Tegal, Bimala, mengatakan bahwa Dusun Karangsari secara geografis masuk dalam kategori wilayah terpencil. “Jaraknya sekitar 30,9 kilometer dari pusat pemerintahan Slawi, dan sekitar 10 kilometer dari akses layanan keuangan terdekat di Warureja,” jelasnya.
Bimala menambahkan, layanan ini merupakan kunjungan pertama mobil kas keliling BI ke wilayah tersebut yang harus ditempuh dengan melintasi hutan jati dan jalan berbatu. Dalam kunjungan itu, BI Tegal membawa modal kas sebesar Rp307,5 juta yang terserap 100 persen oleh masyarakat setempat.
“Antusias masyarakat sangat tinggi, terutama dalam menukarkan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) yang mereka miliki. ULE bagi warga sini menjadi sesuatu yang sangat langka,” ungkap Bimala.
Selain layanan penukaran uang, BI Tegal juga mengedukasi masyarakat melalui program Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah. Edukasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran warga dalam mengenali keaslian uang melalui metode 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang) serta menjaga fisik uang dengan prinsip 5J (Jangan dilipat, Jangan diremas, Jangan dicoret, Jangan distapler, dan Jangan dibasahi).
“Bangga terhadap Rupiah karena merupakan simbol kedaulatan bangsa, dan Paham Rupiah mengajarkan bijak dalam belanja, menabung, serta mendukung produk lokal dan UMKM,” imbuhnya.
Dusun Karangsari sendiri dihuni oleh sekitar 600 jiwa atau 178 Kepala Keluarga. Akses ke wilayah tersebut tergolong sulit, melewati jalan tanah berbatu, sungai, serta jembatan semi permanen hasil swadaya masyarakat. Wilayah ini baru teraliri listrik pada tahun 2016.
Anggota BPD Dukuh Karangsari, Andi Nurdiyansyah, mengungkapkan mayoritas warga bekerja sebagai petani jagung. Namun, untuk menjual hasil panen ke luar desa membutuhkan biaya transportasi yang besar.
“Seringkali hasil penjualan habis hanya untuk ongkos ojek. Makanya, kami sangat bersyukur dengan kehadiran Bank Indonesia di sini,” ujarnya.
Bank Indonesia Tegal menegaskan akan terus memperluas jangkauan layanan kas dan memperkuat implementasi clean money policy di wilayah eks Karesidenan Pekalongan, terutama bagi daerah-daerah yang belum terjangkau layanan keuangan formal.
Penulis : ero
Editor : edt