Partisipasi Semesta: Menenun Karakter, Menyemai Masa Depan


TEMA Hari Pendidikan Nasional 2026, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, bukan sekadar slogan seremonial. Akan tetapi panggilan kolektif bahwa pendidikan tidak bisa lagi dipikul oleh sekolah semata, melainkan harus menjadi gerakan bersama seluruh elemen bangsa: keluarga, masyarakat, pemerintah, hingga peserta didik itu sendiri. Dalam konteks ini, pendidikan bermutu tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi dari sejauh mana ia mampu membentuk manusia seutuhnya dengan berkarakter, berpikir kritis, dan mampu hidup dalam kebersamaan bagi generasi Z dan Alpha ini.

Gagasan tersebut sejalan dengan dasar utama yang perlu dimiliki peserta didik pada era saat ini, yaitu saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan utuh dalam proses pendidikan. Dimana era Society 5.0 (Super Smart Society), berpusat pada manusia (human-centered), yaitu teknologi AI dan robotika hidup berdampingan dengan manusia untuk mempermudah kehidupan. Singkatnya, teknologi bukan lagi sekadar alat kerja, melainkan bagian integral dari gaya hidup manusia.

Dalam dinamika pendidikan masa kini, pembentukan peserta didik tidak dapat dilepaskan dari upaya menumbuhkan pribadi utuh. Dimana ia mampu mengenali dan menjadi dirinya sendiri dengan prinsip serta identitas yang kuat dari pendidikan yang memerdekakan. Disini pendidikan sebagai subjek bukan sekadar objek yang diseragamkan, sehingga kepercayaan diri peserta didik tidak tercerabut dari jati dirinya di tengah arus globalisasi.

Pada saat yang sama, pendidikan juga harus menumbuhkan keberanian untuk menghadapi persoalan hidup dengan nalar kritis dan tanggung jawab moral. Sehingga peserta didik tidak sekadar mencari hasil yang menguntungkan banyak pihak, tetapi juga memahami kewajiban etis dalam setiap Tindakan. Sebuah kemampuan yang hanya dapat tumbuh jika pengalaman belajar melibatkan interaksi nyata dengan guru, masyarakat, dan dunia kerja. Lebih dari itu, kesadaran bahwa kehidupan modern menuntut keterhubungan menjadikan kemampuan berkolaborasi sebagai keniscayaan.

Keberhasilan tidak lagi ditentukan oleh kerja individual semata, melainkan oleh sinergi yang mampu membuka peluang, memperluas wawasan, dan mengembangkan potensi secara optimal. Pendidikan pada hakikatnya adalah sebuah ekosistem bersama yang mengandaikan keterlibatan aktif seluruh elemen; sekolah, orang tua, masyarakat, dan pemerintah dalam mewujudkan kualitas pendidikan yang inklusif, bermakna, dan berkeadilan bagi semua.

Lebih jauh, gagasan ini juga berakar pada pentingnya pembentukan karakter melalui nilai-nilai kebangsaan untuk mencetak generasi berintegritas. Salah satunya dengan reaktualisasi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) menjadi relevan dalam menjawab tantangan zaman. Dalam konteks ini, peran Badan Pembinaan Ideologi Pancasila sangat strategis untuk memastikan bahwa pendidikan tidak kehilangan arah ideologisnya. Nilai-nilai Pancasila bukan hanya diajarkan sebagai hafalan, tetapi dihidupi sebagai praktik sehari-hari dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang beretika.

Pendidikan karakter yang berlandaskan Pancasila tersebut, berkaitan erat dengan empat teori etika: utilitarianisme, deontologi, teori hak, dan teori keutamaan.  Utilitarianisme adalah pandangan etika yang menilai suatu tindakan sebagai baik apabila menghasilkan manfaat atau kebahagiaan terbesar bagi sebanyak mungkin orang. Deontologi adalah teori etika yang menilai benar atau salahnya suatu tindakan berdasarkan kewajiban moral dan prinsip yang harus dipatuhi, bukan semata-mata dari hasilnya. Teori hak adalah pendekatan etika yang menekankan bahwa setiap individu memiliki martabat dan hak dasar yang harus dihormati serta tidak boleh dilanggar demi kepentingan apa pun. Teori keutamaan adalah pandangan etika yang berfokus pada pembentukan karakter dan kebiasaan baik dalam diri seseorang sehingga ia secara konsisten bertindak secara moral.

Keempat teori etika tersebut saling melengkapi dalam membentuk cara berpikir dan bertindak yang utuh. Tidak hanya mempertimbangkan manfaat bagi banyak orang, tetapi juga berpegang pada kewajiban moral, menghormati hak setiap individu, serta membangun karakter yang baik, sehingga menghasilkan pribadi yang bijaksana, adil, dan berintegritas dalam mengambil keputusan. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam proses pendidikan, diharapkan lahir peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Pada akhirnya, tema “Menguatkan Partisipasi Semesta”, yang merupakan kalimat kunci dari tema Pendidikan Nasional 2026 ini, menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan adalah hasil dari proses panjang yang melibatkan banyak pihak. Tidak ada metode tunggal yang paling benar, karena setiap zaman memiliki konteksnya sendiri. Namun satu hal yang pasti, pendidikan harus tetap berakar pada pembentukan karakter, pengembangan potensi, dan penguatan nilai-nilai kebangsaan.

Jika proses ini dijalankan secara konsisten, maka cita-cita menuju Indonesia Emas 2045 bukanlah angan-angan. Ia menjadi keniscayaan yang dibangun dari ruang-ruang kelas, dari keluarga, dan dari kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Di sanalah partisipasi semesta menemukan maknanya untuk melahirkan peserta didik yang berprinsip, tangguh, dan mampu berjalan bersama membangun bangsa.

 

Ditulis oleh: Chr. Danang Wahyu Prasetio, S.Or., M.M

Penulis merupakan Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Penulis : -
Editor   : Daniel