MBG Punya Makna Mendalam Soal Kemanusiaan, Kok Bisa?


PROGRAM makan bergizi gratis atau MBG bagi anak-anak sekolah belakangan ini menjadi salah satu pergunjingan publik yang cukup ramai. Sebagian masyarakat menyambutnya sebagai langkah konkret negara dalam memperhatikan generasi muda, terutama anak-anak dari keluarga rentan. Namun di sisi lain, tidak sedikit yang memandang program ini sekadar pencitraan politik, membebani anggaran Negara, bahkan dianggap tidak menyentuh akar persoalan pendidikan yang sebenarnya.

Perdebatan itu menunjukkan bahwa Bangsa ini belum sepenuhnya sepakat tentang apa yang sesungguhnya paling penting dalam membangun manusia Indonesia. Padahal jika direnungkan lebih dalam, menurut Saya, persoalan makan bergizi tidak bisa dipisahkan dari hakikat pendidikan itu sendiri. Pendidikan bukan sekadar soal nilai rapor, ujian, atau prestasi akademik. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, di sinilah pemikiran Ki Hajar Dewantara dan Dr. Driyarkara menjadi sangat relevan untuk membaca situasi hari ini.

Ki Hajar Dewantara melalui ajarannya; Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani, mengingatkan bahwa pendidikan harus menghadirkan keteladanan, membangun semangat, sekaligus memberikan dorongan. Negara, dalam hal ini pemerintah sebagai pemimpin Bangsa, semestinya hadir bukan hanya melalui pidato tentang masa depan generasi muda, tetapi juga melalui tindakan nyata yang menyentuh kebutuhan dasar anak-anak. Sebut saja, bagaimana mungkin seorang anak diajak bermimpi besar tentang masa depan apabila ia datang ke sekolah dengan perut kosong? Bagaimana mungkin pendidikan karakter dapat tumbuh subur ketika tubuh dan pikirannya tidak mendapatkan asupan yang layak?

Di titik inilah, menurut Saya, program makan bergizi gratis sebenarnya memiliki makna kemanusiaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar pembagian makanan. Program ini bisa menjadi simbol keberpihakan Negara terhadap martabat anak-anak. Sebab lapar bukan hanya persoalan biologis, tetapi juga persoalan keadilan sosial. Anak-anak yang kekurangan gizi sering kali kehilangan konsentrasi belajar, mudah lelah, sulit berkembang, bahkan perlahan kehilangan rasa percaya diri. Mereka tertinggal bukan karena malas, tetapi karena tubuhnya tidak mendapatkan hak dasar untuk tumbuh.

Pendidikan Nilai

Namun demikian, kritik masyarakat juga tidak boleh diabaikan. Sebab pendidikan yang memanusiakan manusia tidak cukup hanya memberi makan. Jika program makan bergizi gratis dijalankan tanpa integritas, tanpa pengawasan, tanpa kualitas gizi yang baik, atau bahkan dijadikan alat kepentingan politik, maka program ini justru kehilangan roh Pendidikan yang sebenarnya. Justru yang terjadi hanyalah proyek administratif tanpa sentuhan kemanusiaan.

Dr. Driyarkara menegaskan bahwa pendidikan adalah upaya mengangkat manusia muda ke taraf insani. Pendidikan berarti menghadirkan nilai dalam kehidupan nyata. Maka program makan bergizi gratis seharusnya tidak berhenti pada urusan distribusi makanan, tetapi menjadi ruang pendidikan nilai. Anak-anak diajak belajar tentang hidup sehat, rasa syukur, solidaritas, kedisiplinan, bahkan penghargaan terhadap petani dan para pekerja yang menyiapkan pangan mereka. Sekolah bukan hanya tempat menerima makanan saja, tetapi tempat membangun kesadaran akan rasa kemanusiaan.

Paling penting lagi, menurut Saya, program ini seharusnya menjadi cermin kepemimpinan pelayan, bukan kepemimpinan penguasa. Pemimpin pelayan adalah pemimpin yang hadir mendengarkan kebutuhan rakyat kecil, bukan sekadar sibuk menjaga popularitas. Ketika seorang pemimpin sungguh memperhatikan kualitas hidup anak-anak sekolah, sesungguhnya ia sedang membangun pondasi peradaban Bangsa. Sebab masa depan Indonesia tidak dibangun pertama-tama lewat gedung megah atau slogan besar, melainkan lewat anak-anak yang sehat, bahagia, dan merasa diperhatikan martabatnya.

Ironisnya, di tengah polemik yang ada, publik sering kali terjebak pada perdebatan angka dan kepentingan politik semata, kita lupa bahwa inti pendidikan adalah manusia. Bangsa ini terlalu sering berbicara tentang generasi emas, tetapi kadang lupa memastikan apakah generasi itu sudah makan dengan layak hari ini. Kita sibuk menuntut anak-anak berprestasi, tetapi lalai menyediakan kebutuhan dasar agar mereka mampu bertumbuh secara utuh.

Pada akhirnya, program makan bergizi gratis bukan soal setuju atau tidak setuju semata. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana program itu dijalankan dengan hati nurani, integritas, dan visi pendidikan yang memanusiakan manusia. Sebab pendidikan sejati tidak hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menjaga kehidupan. Ketika Negara mampu memastikan anak-anak belajar tanpa rasa lapar, sesungguhnya Negara sedang menanam harapan tentang masa depan yang lebih manusiawi.

Dalam perspektif dan pandangan inilah, makna terdalam pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dan Driyarkara, yaitu “menghadirkan manusia merdeka yang bertumbuh bukan hanya dalam pengetahuan, tetapi juga dalam martabat dan kemanusiaannya” terwujud, demi generasi penerus Bangsa yang berkarakter unggul.

 

Ditulis oleh: Chr. Danang Wahyu P, S.Or., M.M

Penulis merupakan: Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Penulis : holy
Editor   : Daniel