Nikah Sirri Itu Menutup Masa Depanku

306

Barangkali aku mabuk. Atau hanyut. Aku terlena. Dalam percintaan itu, kuserahkan semuanya. Dan, dari ketidaksengajaan, hal itu kemudian jadi biasa. Kami semakin cinta, dan hubungan itu kian kuat.

Untuk berjaga, dalam berhubungan kami selalu memakai pengaman. Kecuali, di masa-masa tidak suburku. Dan dalam menghitung masa subur, Bagas bahkan lebih valid daripada aku. Jadi, dia yang menentukan, kapan lepas-pakai pengaman.

Panggil saja aku Rani. Sulung, dari 3 adik, lelaki semua. Usiaku saat ini 27 tahun. Bekerja, detailer, menawarkan obat-obat baru ke dokter dan apotik. Dari pekerjaan itu, hasilnya cukup lumayan. Aku bisa memenuhi kebutuhan sendiri, dan sisanya membantu ibu, yang janda, guru di sebuah sekolah swasta, di Jakarta.

 Ya, aku tinggal di Semarang. Kota ini telah lebih dari 8 tahun kuakrabi, sejak pertama kuliah. Ya, aku kuliah di Undip, komunikasi, angkatan pertengahan tahun 2000-an. Karena itu, aku tak lagi asing dengan kota ini. Sekarang, aku kos, di Semarang atas, wilayah yang cukup asri.

 Pertama ke kota ini, tujuanku satu, kuliah. Ayah yang hanya pegawai kecil di sebuah perusahaan otomotif di Jakarta, membuatku bertekat selesai kuliah secepatnya. Dan, nyatanya berhasil. Tiga tahun pertama kulewati dengan sukses, nilaiku di atas tiga. Tapi, menginjak tahun keempat, kuliahku mandeg. Sebabnya satu, aku jatuh cinta.

Ya, aku memang sulit jatuh cinta. Barangkali, seperti kata teman-teman, aku mengidamkan lelaki yang terlalu istimewa. Dan, dalam pergaulanku, tak ada yang sesuai dengan tipe idealku itu. Sampai, suatu waktu, saat nonton pementasan teater, seorang teman mengenalkanku pada Bagas. Ia tinggi gagah, berkulit coklat, dan ramah. Dan sejak perkenalan itu, rasa simpatiku melambung. Dan dia menanggapi. Aku pun seperti menemukan sosok idealku; lelaki yang simpatik, tak terlalu banyak omong, pintar, suka membaca, dan membanggakan. Aku jatuh cinta, tentu saja. Dan dia juga. Meski lain fakultas, kami selalu bertemu seusai kuliah. Serasi. Aku sintal-tinggi, dia besar-gagah. Wajar, jika aku mencintainya, sepenuhnya. Seperti juga dia.

 Barangkali aku mabuk. Atau hanyut. Aku terlena. Dalam percintaan itu, kuserahkan semuanya. Dan, dari ketidaksengajaan, hal itu kemudian jadi biasa. Kami semakin cinta, dan hubungan itu kian kuat. Untuk berjaga, dalam berhubungan kami selalu memakai pengaman. Kecuali, di masa-masa tidak suburku. Dan dalam menghitung masa subur, Bagas bahkan lebih valid daripada aku. Jadi, dia yang menentukan, kapan lepas-pakai pengaman.

Namun, Tuhan punya rencana lain. Saat skripsi, haidku tak datang. Aku panik, Bagas apalagi. Berbagai obat pelancar haid aku telan, hasilnya nihil.

Berbagai ramuan sinshe aku tenggak, perutku kian besar. Dalam panik, aku mengadu ke ayah. Tamparan keras menimpa pipiku, berkali-kali. Hanya ibu yang masih mau membela. Dan, dengan emosi, ayah menyeretku ke Kudus, menemui ayah Bagas. Tapi, tidak seperti yang kubayangkan, Bagas ternyata belum bercerita pada keluarganya. Ketika keluargaku datang, semua panik. Apalagi, ayah bicara meledak-ledak, emosi. Singkat kata, keluarga Bagas siap menikahkan kami, tanpa pesta. Sebabnya, tiga bulan kemudian, kakak perempuan Bagas akan menikah. Dan keluarga mereka tak berani menikahkan anak 2 kali dalam satu tahun. Ayah kalah posisi. Beliau lebih memikirkan menyelamatkan mukaku, dan menerima syarat itu.

Tapi, kenyataan bicara lain. Ternyata, yang dimaksud nikah tanpa pesta itu hanya nikah sirri. Aku tak bisa menolak, ayah juga. Ibu meneteskan airmata, tak bisa berkata-kata. Dalam tangis itulah, ijab-kabul terjadi. Hanya saksi dari kedua keluarga. Dan setelahnya, ayah menyerahkan satu amplop besar kepadaku, uang.

"Untuk bekal hidupmu. Sekarang ayah lepas menanggungjawabimu," cium ayah sambil menangis.

Ibu meraung, memelukku. Adik-adikku, hanya terdiam. Mereka tahu, kakaknya telah berbuat dosa. Mereka hanya bisa iba, tidak membela.

Bersama Bagas, aku mengontrak rumah. Dan, saat bersama itulah aku mulai tahu kebiasaan Bagas. Ia ternyata hiperseks. Meski telah berhubungan denganku, ia masih sempat menonton film biru, dan onani. Aku merasa dilecehkan. Tapi biasa apa. Baru dua minggu, rumah tangga kami sudah penuh pertengkaran. Apalagi, Bagas tak pernah mau bersamaku tampil berdua di kampus. Ia barangkali malu. Ia memang cukup populer di kampusnya. Aktivis. Bermoral. Karena itu, kehamilanku adalah aib.

Dua bulan bersama, dalam sebuah pertengkaran hebat, Bagas meninggalkan rumah. Meninggalkanku yang menangis setelah puas membagi sumpah-serapah. Aku menangis keras. Dan, dalam tangis itu, kusadari betisku telah penuh darah. Dibantu tetangga, aku dibawa ke rumah sakit. Dan positif, kandunganku gugur. Tubuhku tak kuat mambawa calon janin itu. Dan, tanpa ditunggui Bagas, aku dikuret. Hanya dua teman dekatku yang menunggui, dan ikut menangis.

Ternyata, gugurnya janin itu, seakan membebaskan Bagas. Ia jadi seperti lajang lagi. Dan mulai jarang pulang. Namun, aku juga kian kebal. Dengan usaha keras, kuliah aku selesaikan. Tapi, sesalku kian bertambah. Tiga hari sebelum wisuda, ayah kena stoke, dan koma. Aku pun wisuda tanpa pendamping, tidak Bagas, juga ibu yang menjaga ayah. Dua hari kemudian, ayah berpulang, tanpa pernah sadar. Aku meraung. Setelah menikah, aku memang tak pernah berjumpa ayah, setengah tahun lebih.

Hubunganku dengan Bagas kian buruk. Dia bahkan pulang-pergi seenaknya, dan tak mau lagi menjamahku.

"Aku tak ingin kamu hamil lagi. Sekali saja sudah membuat aku sengsara!" demikianlah sumpahnya, jika aku mencoba bermanja.

Maka, hari-hari pun aku habiskan dengan bekerja, honorer sebagai operator telepon. Dan, kulupakan semua tingkah Bagas. Dia pacaran lagi, aku tak peduli. Dan, akhirnya, dia pun kembali ke rumah orang tuanya, dan tak tinggal di tempatku. Aku juga tak peduli. Kunikmati hari-hariku dengan bekerja, dari satu pekerjaan, ke pekerjaan lain. Aku hanya mendengar, Bagas kemudian tamat kuliah, dan ke Surabaya. Ia memang menghindariku. Dan, ketika kutanyakan alamatnya pada keluarga, mereka mengatakan tidak tahu.

Aku tak peduli.

Tapi, dua tahun setelah itu, aku mulai merasakan dampaknya. Ada seorang lelaki, yang serius denganku. Dan, sampai kini, hanya beberapa orang saja yang tahu aku pernah menikah. Lelaki ini pun, Irawan, tak pernah tahu masa laluku. Karena itu, dia menganggap aku masih gadis. Aku sendiri menyukainya, dan takut saat tahu bahwa keluarganya termasuk yang ketat dalam beragama. Aku tak ingin masa lalu memurukkanku lagi.

Tapi, aku juga ternyata tak bebas dari ketakutan itu. Pikiranku, seandainya Irawan mau menerima masa laluku, tapi bagaimana dengan Bagas? Bukankah dia suatu waktu bisa datang dan menyatakan kembali bahwa aku adalah istrinya? Juga, bagaimana sebenarnya dengan statusku? Secara hukum, bisakah aku menikah lagi? Apakah ada hak Bagas untuk mengakui hal itu? Aku bingung. Barangkali panik.

Aku mulai ragu melanjutkan hubunganku dengan Irawan. Aku takut ia kecewa jika aku berterus-terang. Tapi, jika bukan dengan Irawan pun, pasti masalah ini akan terjadi lagi. Cuma masalah waktu saja. Ahh-, entahlah. Kukira, masa depanku memang sudah tak ada lagi. Karena, ke mana pun aku melangkah, bayang masa lalu itu mengikuti, tak pernah dapat dihindari. Hhhh....

 

(Seperti yang diturutkan Rani Bagas P - Semarang)

Penulis : Administrator