Di Pernikahan Anakku, Haruskah Rahasiaku Terungkap?

835

ilustrasi

TAK pernah kubayangkan, masa laluku harus terbuka sekarang. Masa lalu yang telah kututupi lebih dari 20 tahun. Dan ketika semuanya kuanggap clear, masa lalu itu memintaku untuk mengakuinya, kepada orang-orang yang aku cintai.

Aku bimbang, antara berlaku jujur dan menjadi "cacat" di mata anak-anak, atau berbohong dengan resiko yang harus siap aku hadapi. Huhh.. hidup memang tidak pernah sempurna sesuai yang aku rencanakan....

Dua puluh enam tahun lalu. Barangkali, tak semua ingatan kita akan dapat menjangkau detil peristiwa lebih seperempat abad itu. Tapi tidak bagiku, peristiwa itu masih sangat jelas, seperti layar yang memutar. Meski, beberapa hari lalu baru kenangan itu hinggap lagi. Tepatnya, setelah anakku, Mayang (25) memastikan tanggal pernikahannya, dua bulan lagi. Aku panik, karena bagaimana pun, saat menikah nanti, atau sebelum menikah nanti, dia harus tahu masa lalu ibunya. Masa lalu yang mungkin akan membuat kebanggaan Mayang padaku, akan terbuang...

Ya, 26 tahun lalu, aku menikah dengan Fandi (51), suamiku sampai saat ini. Fandi bukanlah kekasihku. Dia cuma teman kakakku, yang sering main ke rumah. Dari seringnya bermain di rumah dan kadang sampai menginap, dia kemudian akrab denganku. Kami sering main bersama, pesiar, dan lainnya.

Kebetulan, aku lahir dari keluarga yang cukup terpandang dan mapan secara ekonomi. Keluarga Fandi juga, dan itu yang membuat ayah-ibu senang dengan pergaulan kami. Tapi, tidak pernah mereka ketahui, Fandilah yang justru menjadi pelindungku. Ia kakak yang baik, dan selalu membantuku. Jika nyaris setiap minggu kami pergi berdua, itu sebenarnya hanya akal-akalanku, untuk bertemu Satria, kekasihku. Bahkan, kadang, kalau sore kami pergi, itu semua karena aku memang butuh bertemu Satria. Aku tak pernah tahu, saat itu, mengapa Fandi mau melakukan semua itu. Bagiku, dia "kakak" yang baik, dan melindungiku, itu saja.Hubunganku dengan Satria memang tidak disetujui Ayah-Ibu. Sebabnya satu, Satria miskin, dia anak yatim, dan ibunya memburuh di rumah-rumah. Barangkali, ayah merasa Satria tak pantas menjadi teman atau kekasihku. Tapi aku mencintai Satria, dan cinta itu dahsyat, kian ditekan, kian dia menunjukkan perlawanan. Begitulah, kami pun berpacaran secara sembunyi. Sampai, akhirnya hal itu diketahui Ayah. Habis, geger seluruh rumah. Fandi bahkan kena marah, dan aku didamprat habis-habisan di depan Fandi, meskipun lelaki itu yang mengaku salah. Kakakku hanya diam saja, sedangkan ibu sepertinya setuju dengan ayah, ikut mencibiriku.

Seminggu aku dikurung di rumah, tak boleh ke mana pun. Dan saat aku mendapat izin untuk kuliah, Satria sudah tak ada. Rumahnya kosong, dia dan ibunya tak ada.

Saat aku pulang, ayah sudah berada di rumah, dan mencibiriku. Dari ayah juga aku tahu, kalau dia sudah datang ke rumah Satria, dan menghina habis keluarga itu. Bahkan, ayah memaksa pemilik rumah kontrakan Satria untuk mengusir mereka. Ahh.. airmataku tumpah mendengar hal itu. Satriaku yang malang... Apalah dayanya yang belum bekerja dan ibunya menghadapi ayah... Dalam hatiku, kukutuk ayah yang membuatku sakit sedemikian itu. Aku berjanji, jika ayah membuat malu keluarga Satria, aku pun akan membuat malu keluarga ayah, ya keluargaku.

Dan malu itu tak lama kemudian datang. Hanya dua minggu kemudian, keluargaku panik. Sebabnya apalagi, aku hamil. Ya, tentu dengan Satria. Aku hanya diam ketika mereka kalang-kabut memaki-makiku. Aku menikmati kepanikan mereka. Seluruh Semarang mereka ubek untuk mencari Satria. Nihil. Dalam paniknya, ayah bahkan memukulku untuk memberitahu di mana Satria, dan aku menggeleng. Aku memang tidak tahu di mana Satria. Ia memang punya keluarga di Solo, tapi di bagian mana, aku pun tak tahu. Tapi aku tak sepanik mereka, aku siap memiliki anak dari cintaku dengan Satria.

Dan untunglah, meskipun marah dan panik, ayah-ibu tak pernah berani memintaku menggugurkan kandungan. Agaknya, meskipun akan mendapat malu, mereka lebih memilih itu daripada menggugurkan bayiku. Aku senang. Rasanya puas sekali membuat mereka begitu terpukul.

Namun, akhirnya hal itu gagal. Tanpa aku sangka, Fandi menawarkan diri menjadi suamiku. Ia menghadap ayah dan mengaku salah. Katanya, karena dialah aku hamil. Karena dialah yang membuat aku bisa bertemu dan bermesraan dengan Satria. Ia mau menjadi suamiku, karena dia mencintaiku. Tuhan.... Aku tak bisa menolak. Kami pun menikah. Itu 26 tahun yang lalu.

Kini, telah lahir Mayang, Faisal (22), Ibrani (19), dan aku perlahan mencintai Fandi. Apalagi, dia tak pernah membahas persoalan Satria. Tak pernah membedakan Mayang, dan kasihnya sungguh luar biasa. Ia sangat mengalah, sehingga aku perlahan menjadi begitu cinta, mungkin lebih besar dari cintaku pada Satria dahulu. 26 tahun ini juga, aku tak pernah tahu kabar Satria, apalagi berjumpa. Tapi, beberapa hari kemarin, aku ingin berjumpa dengannya. Ya, setelah Mayang berencana menikah.

Lewat media, aku pernah bertanya tentang status Mayang kepada seorang ustaz. Dan jawaban dia sungguh memukulku. Kata ustaz itu, aku tak boleh memutus nasab seseorang. Dan, katanya, tidak akan sah pernikahan itu jika aku tidak mengatakan nasab Mayang yang sebenarnya. Jadi, dalam pernikahan nanti, Mayang harus memakai binti Satria, dan menanggalkan nama ayahnya selama ini, Fandi. Artinya lagi, aku sudah harus menceritakan semua itu kepada Mayang, jauh sebelum dia menikah. Tuhan....

Kucoba mencari pendapat lain. Hasilnya sama. Aku panik.

Ketika hal itu kukatakan ke Mas Fandi, dia lebih panik daripada aku. Dia bahkan yang tidak lebih siap jika Mayang tahu bahwa dia bukanlah ayahnya. Kami bahkan nangis berdua, tak tahu harus berbuat apa. Apakah aku harus menceritakan masa lalu itu, yang pasti tidak akan hanya kepada Mayang, tapi juga adik-adiknya? Juga, bahkan kepada semua orang yang pasti akan bertanya, mengapa Mayang memakai binti yang berbeda? Tuhan... berat sekali beban ini. Kenapa aib yang sudah aku lupakan, sudah tak menjadi batu ganjalan, kini bahkan harus memurukkanku? Apakah tidak ada cara lain? Apakah harus sekarang karma ini harus aku tanggung?

Sampai kini, belum juga ada keputusan antara aku dan Mas Fandi tentang ini. Jujur, kami tak siap. Jujur, kami tak mampu membuat Mayang terluka. Jujur kami tak yakin, apakah suasana rumah akan sama setelah semuanya tahu hal ini. Jujur aku ingin saja semua ini tidak pernah terjadi. Tapi...

 

(Seperti yang dituturkan Maharani kepada Aulia)

Penulis : Administrator