Penyandang Difabel Terima Alat Batik


  NU Care-LAZISNU menyaluran bantuan alat produksi batik kepada usaha kecil menengah (UKM) Difabel Blora Mustika (DBM), Rabu (21/2). Wahono

BLORA –  NU Care-LAZISNU, satu organisasi Nadhlatul Ulama (NU) yang bergerak di bidang sosial dan kesehatan, Rabu (21/2),  menyalurkan bantuan alat produksi batik kepada usaha kecil menengah (UKM) Difabel Blora Mustika (DBM). Tidak hanya memberikan batuan,  para perajin yang tergabung dalam komunitas DBM juga menerima program pelatihan khusus pewarnaan, dan pemasaran, jelas Ketua DBM, Ghofur.  

Pelatihan marketing menghadirkan Solihin, pengusaha dan pengrajin batik asal Pekalongan. Di forum itu,  Solihin mengenalkan cara menjual produk melalui media sosial, dan internet. 

 

Sedangkan dalam pelatihan pewarnaan, dikenalkan cat warna alami sebagai media batik, seperti pewarna yang banyak digunakan perajin batik di Pekalongan dan Solo. “Warna ini berasal dari getah daun dan kulit tumbuhan, ada daun tom atau nila yang menghasilkan warna biru,” jelas Solihin.

Sedangkan kulit kayu tingi, jelasnya,  menghasilkan warna merah kecoklatan, biji jolawe menghasilkan warna kuning. Keunggulan cat warna alami ini, selain ramah lingkungan, juga memiliki warna yang khas. 

786 Orang

Selain dilatih dalam hal pewarnaan, para difabel yang bermarkas di Desa Kamolan (timur SMP Negeri 3 Blora), menerima bantuan alat-alat produksi kain sutra, kain prima, malam, cat warna dan beberapa bahan-bahan produksi lainnya.

 “Pemkab sangat mendukung kegiatan ini demi kemajuan difabel Blora, semoga bisa menginspirasi banyak kalangan untuk bisa terus maju di tengah keterbatasan fisik,” ungkap Wakil Bupati Blora H. Arief Rohman.

Menrurut Arief, sebagai bentuk dukungan pengembangan batik difabel, Pemkab dalam pelaksanaan Musrenbang mengenakan pakaian batik produk komunitas DBM, sekaligus mempromosikannya. 

Perlu diketahui, DBM adalah kelompok yang anggotanya menyandang disabilitas dan kusta. Didirikan pada tahun 2011, UKM ini dipimpin oleh Ghofur dan Kandar. Ghofur (33) adalah warga Kamolan, Kabupaten Blora. Kedua kakinya diamputasi karena tertimpa musibah sengatan listrik. Sementara Kandar (58) diamputasi pada kedua tangannya. Kini DBM berhasil mendata 786 orang warga difabel Blora tergabung dalam DBM.

Beranjak dari pengelolaan yang serba sederhana, kini batik DBM memproduksi sekitar 20 motif batik tulis dan 25 motif batik cap.

 

 

 

Penulis : wah
Editor   : wied