Jembatan Bersejarah Sungai Progo di Kranggan Ambruk


Jembatan lama Progo di Kranggan sebelum ambruk. Insert jembatan yang ambruk. Foto: Widiyas Cahyono

TEMANGGUNG – Diduga karena hujan yang cukup deras  dan arus sungai mengikis bangunan pondasi jembatan lama  yang membentang di atas Sungai Progo, Kecamatan Kranggan, Kabupaten Temanggung, ambruk Rabu (21/2) sekitar pukul 22.00.

“Hujan yang mengguyur sekitar jembatan Progo sejak Rabu sore dan arus air sungai mengikis pondasi sebelah barat jembatan yang menyebabkan jembatan tersebut rubuh,” kata  Darmadi , salah satu pedagang buah durian yang ada di sekitar jembatan Progo, Kamis (22/2).

Darmadi mengatakan, saat itu, sekitar pukul 22.00 WIB terdengar suara gemuruh  dari dekat jembatan yang pernah menjadi saksi bersejarah di masa perang Kemerdekaan  RI  tersebut. Setelah didekati , ternyata besi penyangga jembatan yang membentang di atas Sungai Progo tersebut telah rubuh dan patah menjadi  dua bagian dan bagian tengahnya  melengkung ke dasar sungai.

Menurutnya, meskipun patah dan masuk ke dasar sungai tidak menimbulkan korban jiwa manusia. Karena,  jembatan yang pernah yang tempat pembantaian ribuan pejuang dan rakyat Indonesia saat mempertahankan Kemerdekaan RI pada tahun 1949 silam itu, sudah lama tidak digunakan.

“Jembatan ini sudah puluhan tahun tidak digunakan. Karena kondisinya, bagian kayu dasar aspal jembatan itu sudah banyak yang lapuk dan berlubang. Sedangkan, arus lalu lintas dari arah Temanggung ke Magelang atau sebaliknya juga sudah dialihkan ke jembatan yang ada di sisi utaranya,” kata Darmadi.

Ia menambahkan, pondasi jembatan sebelah barat sudah kelihatan terkikis gerusan arus Sungai Progo sejak empat bulan yang lalu. Karena, hujan yang cukup deras dalam beberapa waktu terakhir menambah lebar kikisan pondasi tersebut. Dan, pondasi jembatan  tidak kuat menahan bebanb  badan jembatan yang ada di atasnya.

Agresi  Belanda II

Pemerintah Kabupaten Temanggung, di tahun 2018 ini telah merencanakan akan membangun kembali jembatan tersebut dengan anggaran dari APBN.  Rencana pembangunan terseebut bertujuan untuk memperlancar arus lalu lintas dari arah Magelang menuju Temanggung.

Setiap tanggal 10 November bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan dan hari jadi Kabupaten Temanggung yang juga diperingati setiap 10 November, Pemkab Temanggung selalu melakukan tradisi tabur bunga di  atas Jembatan lama Progo tersebut.

Tradisi tabur bunga tersebut dilakukan, untuk mengenang ribuan jiwa pejuang dan rakyat Indonesia yang gugur , karena dibantai di atas jembatan tersebut oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Pada masa Agresi Belanda II tahun 1949 silam, para pejuang dan rakyat Indonesia yang ditangkap tentara Belandaa, kemudian diikat tangannya dan ditutup matanya, lalu ditembak dan ada juga yang dipenggal kepalannya.

Kemudian,  jasad para pejuang dan rakyat Indonesia tersebut diceburkan ke Sungai Progo yang ada di bawah jembatan tersebut. Akibat pembantaian massal tersebut, air Sungai Progo  berubah warnanya menjadi merah darah, karena banyaknya darah dari korban pembantaian tersebut.

Untuk mengenang kejadian tersebut, Pemkab Temanggung membangun  Monumen Bambu Runcing yang ada di ujung sebelah timur jembatan tersebut. Di  dekat monumen tersebut ada  makam salah satu pahlawan yakni, makam Mayjen TNI Bambang Soegeng yang pernah berjuang melawan penjajah Belanda . Dan, ia juga merupakan salah satu  anggota TNI yang pernah mengibarkan bendera Merah Putih di Alun-alun  Temanggung saat Kemerdekaan RI tahun 1945 silam.  

 

 

Penulis : widias
Editor   : wied