‘Keponakan Kapolri’ Melahirkan, Sidang  Penipuan Ditunda


Terdakwa penipuan calon anggota polisi Titin Heniko (42) alias Trias saat sedang diinterogasi Kapolres Purbalingga AKBP Nugroho Agus Setiawan.  Dia mulai disidang Senin (22/1).Dalam aksinya dia mengaku sebagai keponakan Kapolri. (Foto :Dok)  

PURBALINGGA – Sidang kasus penipuan dengan terdakwa Titin Heniko alias Trias (42) yang sedianya dilaksanakan di Pengadilan Negeri (PN) Purbalingga terpaksa  ditunda. Pasalnya terdakwa yang  mengaku sebagai keponakan kapolri tersebut melahirkan.

Anggota majelis hakim, Ageng Priambodo, Kamis (22/2) mengatakan, sidang terdakwa Titin seharusnya dilakukan pada Selasa (20/2). Namun karena jaksa tidak bisa menghadirkan terdakwa karena terdakwa harus dilarikan ke RSUD dr R Goetheng Tarunadibrata Purbalingga untuk melahirkan.

"Setelah kami mendapat surat dari Rutan Purbalingga perihal itu (terdakwa yang akan melahirkan), majelis hakim lalu membuat surat hantaran kepada terdakwa selama tiga hari untuk melahirkan. Sehingga sidang pada Selasa kemarin ditunda dan rencananya akan dilanjutkan pekan depan sambil menunggu terdakwa sehat dengan agenda meminta keterangan saksi," terangnya.

Untuk diketahui, terdakwa Titin, warga Apartemen M Gold Tower Kamar 19 D Bekasi Barat, Jawa Barat mulai disidang Senin (22/1) lalu. Dia didakwa penipuan perekrutan calon anggota Polri dan PNS Ditjen Pajak. Adapun korban sebanyak tujuh orang dengan total kerugian mencapai Rp 1,9 miliar. Dalam kasus ini juga menyeret oknum anggota Polri dan istrinya.

Pada sidang awal, tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang terdiri atas Masmudi, M Nurachman Adikusumo dan David Soetrisno Marganda Simorangkir menyebutkan, terdakwa bertemu dengan para korban atas saran SR, warga Kecamatan Bukateja dan suaminya, AN yang ternyata adalah oknum anggota Polri.

Dijelaskan, awalnya terdakwa bertemu bertemu dengan SR dan AN pada Oktober 2016 dan mengaku keponakan Kapolri, mampu memasukkan orang menjadi anggota Polri dan pegawai Ditjen Pajak dengan memberikan uang Rp 180 juta. Oleh SR dan AN, jumlah itu dinilai kecil karena pasarannya di Purbalingga mencapai Rp 370 juta. Akhirnya disepakati keduanya setor ke terdakwa Rp 180 juta, sisanya untuk dua orang itu. Setelah itu mereka beraksi mencari korban.

Selama setahun dari Oktober 2016 sampai Oktober 2017, ada tujuh korban. Ada yang setor Rp 180 juta, Rp 375 juta, Rp 468 juta, Rp 110 juta, Rp 396 juta, Rp 227 juta dan 155 juta. Jika ditotal mencapai Rp 1,9 miliar lebih. Para korban menyerahkan uang secara bertahap kepada terdakwa atau kepada SN dan AN. Saat kejadian, terdakwa berdomisili di Desa Candinata, Kecamatan Kutasari.

Karena anak para korban tidak ada yang diterima menjadi anggota Polri dan merasa tertipu, mereka lalu melaporkan ke Polres Purbalingga. Terdakwa ditangkap oleh polisi pada akhir Oktober 2017. Jaksa menjerat dengan Pasal 378 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP sebagai dakwaan primer dan Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.Pada sidang kasus ini, majelis hakim dipimpin oleh Bagus Trenggono dengan anggota Ageng Priambodo Pamungkas dan Jeily Syahputra serta Panitera Pengganti (PP) Supriyanto.

 

 

 

Penulis : Joko Santoso
Editor   : wied