Longsor, Duh….Sifaul Jadinya Batal Dikhitan


 Rumah Solikhin (45) warga Dusun Pule RT 3 RW 4 Desa Jingkang Kecamatan Karangjambu, Purbalingga luluk lantak diterjang longsor. Empat orang tewas dalam bencana tersebut. Insert Bupati Tasdi menghibur keluarga korban longsor   saat pemakaman korban tewas.

PURBALINGGA-Bencana tanah longsor yang terjadi di Dusun Pule RT 3 RW 4 Desa Jingkang Kecamatan Karangjambu menjadi kisah sedih bagi Solikhin (45). Pasalnya satu dari empat korban meninggal yaitu Sifaul Umam (8) adalah anaknya. Karena musibah itu  pula anaknya batal dikhitan.

Solikhin bercerita Kamis (22/3) malam dia berkumpul dengan kerabat-kerabatnya. Mereka menggelar doa bersama. Pasalnya dia hendak punya hajat. “Anak saya yang paling besar, Puji Safangat (19) akan dinikahkan dengan Nur Azizah (18). Sedangkan anak kedua yaitu Sifaul Umam (8) akan dikhitan,” katanya, Jumat (23/2).

Tawa gembira menghias wajah keluarganya hari itu. Mereka semua berkumpul di rumah Solokhin.  Setelah doa bersama atau tahlilan selesai. Sebagian keluarga ada yang pulang ke rumah, namun sebagian lagi ada yang masih bercengkrama bersama.

Sementara  Sifaul Umam beserta tiga saudara yang lain masing-masing Abdul Rouf, Al Taromi  dan Safangatun Isnain masuk ke kamar. Mereka merasa mengantuk dan hendak tidur. Suasana malam itu memang gelap karena listrik padam serta hujan deras dan petir sesekali menyambar.  “Tiba-tiba terdengar suara keras dan tembok rumah kami roboh katena tertimpa tanah. Kamar yang ditiduri anak saya dan saudaranya tertimpa runtuhan tembok. Rumah kami roboh, kami lalu mencoba menyelamatkan diri. Namun empat anak anak yang tertidur di kamar tertimbun,” ujarnya mencoba tabah.

Keluarga yang ada di rumah lalu mencoba menyelamatkan anak-anak tersebut. Namun suasana yang gelap membuat evakuasi sulit dilakukan. Solikhin lalu memberi tahu tetangga bahwa rumahnya roboh. Tetangga lalu berdatangan dan mencoba memberikan pertolongan. “Empat orang anak yang tertimpa longsor ditemukan telah meninggal dunia. Jenazah mereka lalu disemayamkan di balai desa. Warga yang tinggal di lokasi tersebut juga mengungsi ke balai desa,” ungkapnya.

Empat korban meninggal keesokan harinya langsung dimakamkan. Isak tangis keluarga mengiringi pemakaman korban yang masih anak-anak tersebut. Kepala Desa (Kades) Jingkang Bambang Hermanto mengatakan rumah Solikhin sebenarnya tidak berada di zona rawan longsor. Sehingga mereka tetap tinggal di sana. “Namun kondisi alam sulit diprediksi. Apalagi hujan turun dengan deras,” imbuhnya

 

 

Penulis : Joko Santoso
Editor   : wied