Bengawan Solo Stabil, Warga 3 Kecamatan di Blora Lega  


 Kondisi Sungai Bengawan Solo yang membelah perbatasan Jateng-Jatim di Cepu, Jumat (23/2) pukul 16:30 WIB masih terlihat tinggi tapi aman. Foto: Wahono  

BLORA – Sempat meninggi, membuat waswas warga, dan khawatir air meluber ke perkampungan, merendam rumah serta lahan pertanian, debit air Bengawan Solo pada Jumat (23/2) petang mulai ada penurunan perlahan.

Turunnya air sungai Bengawan solo, membuat warga yang rumahnya berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) perbatasan Jawa Tengah dengan Jawa Timur di Blora, merasa lega, terlebih ketinggian air tampak stagnant dan cenderung menurun.

Sejumlah penduduk desa/kelurahan di Kecamatan Cepu, Kedungtuban, Kradenan (Kabupaten Blora) Jateng, Padangan dan Batokan (Kabupaten Bojonegoro) Jatim, sebelumnya memang sempat waswas dengan  meningginya permukaan air sungai terpanjang di Pulau Jawa itu..

“Warga memang sempat waswas, tapi sejak Jumat sore permukaan air Bengawan Solo sedikit menurun,” jelas Lukman Sumitro, warga Cepu.

Menurut Lukman, warga memang sempat gelisah air sungai Bengawan Solo meluber, karena tiga Kecamatan  Kradenan, Kedungtuban, Cepu, adalah wilayah rawan bencana alam banjir.

Penduduk yang rumahnya di daerah rawan banjir dari Bengawasan, antara lain Desa Menden dan Ketuwan, termasuk warga di beberapa desa di Kecamatan Kedungtuban.

Tanggul

Saiful (52) dan tetangganya di Kelurahan Balun, Cepu, saat ini mengaku merasa tenang dan aman setelah melihat ketinggian air Bengawan Solo tetap aman stagnan. Meski aman dan stagnant, pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora melalui Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD setempat, Hj Sri Rahayu, menghimbau agar warga selalu waspada.

 “Bengawan Solo aman, kami tetap imbau warga sepanjang DAS selalu waspada,” tandas Kalakhar Badan Penanggulangan Bencanan Daerah (BPBD) Blora Hj Sri Rahayu.

Pantauan di Cepu perbatasan Jateng-Jatim,  melihat air Bengawan Solo masih agak tinggi. Air juga masih tampak keruh, banyak sampah terbawa air.

Lukman menambahman, sebelum dibangun tanggul pengaman, setiap musim hujan sering membawa bencana besar, ribuan rumah warga di perbatasan Jateng-Jatim terendam air.

 

Penulis : wah
Editor   : wied