Miss Jinjing : Media Asing Salah Soal Gaya OKB

816

Sekelompok sosialita di Jakarta mengadakan acara arisan secara rutin. Uang arisan bulanannya bervariasi dari Rp 1 juta sampai Rp 100 (Foto: BBC).

Beberapa waktu lalu media Inggris BBC menuliskan laporan tentang gaya hidup sosialita dan orang kaya baru di Indonesia. Laporan tersebut menyebutkan bagaimana gaya hidup mereka, para sosialita yang tergabung dalam kelompok-kelompok arisan mahal, memakai tas branded dan mengendarai mobil mewah.

BBC juga menulis tentang kesenjangan di Indonesia. Betapa ironinya harga sewa tas mahal yang dikenakan di acara pesta sosialita bila dibandingkan dengan dua pertiga penduduk Indonesia yang hidup dengan hanya US$ 2 per hari, mendekati garis kemiskinan. 

"Ada kesalahan analisis BBC tentang gaya hidup orang kaya baru alias OKB. Sebetulnya, subtansi tulisan BBC ingin memaparkan masalah kesenjangan di Indonesia. Akan tetapi, dia membuat analisis gaya hidup orang kaya dan sosialita dengan salah," kata pengamat gaya hidup, Amelia Masniari, pada Rabu, 6 Agustus 2014. (Baca: Tas Hermes Atut, Pengamat: Bahasa Jati Diri)

Wanita yang biasa disapa Miss Jinjing ini mengatakan acara yang diliput BBC merupakan acara buka puasa bersama bertajuk “Jakarta With Love” di salah satu restoran ternama di Senayan City.

"Itu event yang biasa didatangi para sosialita yang sebenarnya juga enggak kaya-kaya banget," ujar dia. Miss Jinjing mendefinisikan orang kaya adalah mereka yang tidak lagi bisa menghitung duit atau kekayaannya dan tidak mempedulikan kekayaannya.

"Nah, di tulisan itu BBC menceritakan para tamu yang datang di acara tersebut menyewa tas Hermes lalu membawa pulang dengan sumringah uang hasil kocokan arisan. Sangat aneh, katanya, kaya tapi masih kemaruk uang," kritik Amel.

Wanita yang sudah menerbitkan tujuh buku: Miss Jinjing Belanja sampai Mati, Miss Jinjing Rumpi sampai Pagi, Miss Jinjing Pantang Mati Gaya, Miss Jinjing Belanja sampai Mati di China, Miss Jinjing Siapa Takut Cerai? Takut Banget!, Miss Jinjing belanja Sampai Mati di Tokyo, serta Miss Jinjing Girl’s Guide ini menjelaskan banyak sosialita yang bangga saat menenteng tas Hermes sewaan, mengendarai mobil mewah sewaan, mengenakan pakaian perancang ternama secara sewa, lalu berdandan ke salon terkenal dengan program voucher dan gratisan serta diundang makan dan berkunjung gratis di sebuah kafe atau restoran ternama.

"Yang begini namanya sosialita ala social climber. Semuanya serba numpang, nyewa. Aduh, kasihan, deh. Katanya orang kaya, tetapi segalanya serba sewa. Yang begini yang banyak dan paling eksis unjuk diri alias banci tampil di media sosial dan media gaya hidup," ujarnya.

Oleh karena itu, Miss Jinjing merasa tidak setuju dengan tulisan BBC yang menggunakan parameter OKB seperti itu. "Saya enggak sependapat kalau menyamaratakan orang kaya dengan gaya seperti yang ditulis BBC," kata Miss Jinjing. (Baca : Miss Jinjing: Jakarta Great Sale Kurang Menarik)

Dari pengalamannya mendirikan komunitas Miss Jinjing yang beranggotakan orang-orang kaya baru, ia mengetahui bagaimana gaya hidup mereka. "Mereka adalah orang kaya yang memiliki bisnis dan tinggal di daerah-daerah pedalaman, tetapi cash oriented. Kemana-mana mereka belanja atau bayar tunai untuk membeli tas Louis Vuitton, Hermes, bahkan mobil mewah. Membayarnya dengan tunai, bukan pakai kartu kredit seperti kebiasaan para sosialita yang diulas BBC," kata Miss Jinjing.

Ia menceritakan para orang kaya baru dari daerah di pedalaman Indonesia ini ketika ikut tur dan belanja ke beberapa negara tanpa ragu-ragu membawa dan mengeluarkan uang dolar tunai untuk transaksi pembayaran.

"Menariknya, mereka bukan banci tampil dan enggak suka mempublikasikan diri. Bahkan, ketika mengincar atau menginginkan sebuah barang branded, mereka minta tolong saya yang membelikan dengan pembayaran tunai," ujar dia.

Miss Jinjing ini menegaskan bila melihat dan mengamati penampilan para OKB ini, mereka terlihat sangat biasa bahkan terkesan culun. "Tetapi jangan khawatir duitnya enggak berseri atau kekayaannya enggak culun," kata Miss Jinjing sambil tergelak.

Penulis :
Editor   :