Ya Tuhan, Pernikahan Kami Diakadi dengan Kebohongan

2.4K

ilustrasi

MENIKAH dan hidup berbahagia bersama pasangan  adalah mimpi yang ingin diwujudkan banyak orang. Tapi  hal itu akan selamanya cuma jadi mimpi bagiku :(

Aku mencintai dia dengan sepenuh hati. Dan sedari awal berpacaran, komitmen kami cuma satu: saling jujur dan percaya. Dan itu kami jaga terus, sampai 2 tahun hubungan itu. Dan karena kami sudah sama dewasa, tak ada halangan apa-apa dari orang tua, ketika setahun lalu kami pun menikah. Semua berjalan indah. Hari-hari menuju pernikahan, seperti berjalan di mega-mega, dada berbuncah bahagia. Siapa sangka, di malam pertama, semua runtuh. Aku merasa, semua kejujuranku di balas dengan dusta yang panjang.

Aku mengenal Wita ketika perusahaan tempat aku bekerja berhubungan dengan perusahaannya. Aku memprogram beberapa software yang dibutuhkan kantornya, dan dari percakapan sederhana, kami menjadi dekat. Dan, karena kami sama-sama sudah tak muda, aku 30 dan dia 27, kami pun cepat merespon kedekatan itu menjadi sebuah hubungan yang serius. Aku suka dia, Wita suka aku: klop sudah. Kecocokan akan diciptakan terus, begitulah kesepakatan kami.

Semua berjalan baik. Masa lalu Wita, sepanjang yang dia bicarakan, tak ada yang bertentangan dengan prinsipku. Jujur saja, aku tak terlalu peduli dengan masa lalu, sepanjang hal itu jujur dia akui, dan tak ingin dia ulangi lagi. Sedangkan aku, tak ada masa lalu yang kututupi padanya. Aku lelaki yang biasa, tak bergaul aneh-aneh, sehingga tak ada yang aku tutupi. Karena itu, saat berkenalan dengan keluarganya pun, aku rileks saja. Apa adanya. Modalku adalah diriku, bukan sesuatu yang melekati diriku. Sosok pribadi. Watak, karakter, itu yang aku "jual", dan itu yang aku ingini mereka "beli". Harapanku tidak sia-sia. Keluarganya menerima, dan kami pun kian dekat dengan rencana besar, pernikahan.

Dan begitulah. Kami merencanakan menikah. Seminggu sebelum menikah, aku bertanya padanya, pernahkan dia berhubungan seks dengan lelaki lain. Wita diam, lama. Dan kemudian menggeleng. "Aku tak pernah sampai ke sana.." katanya. Nada bicaranya tak jelas, mengambang. Tapi cukuplah bagiku. Jujur saja, aku siap jika dia berkata, "Ya, aku pernah..." karena bagiku tak penting hal semacam itu. Yang kuinginkan adalah dia jujur, sehingga aku tak kecewa. Dan dia telah jujur, dan aku beruntung. Agaknya Tuhan memberikan jodoh yang sama. Aku perjaka, dan dia sama: klop-lah!

Kami pun menikah. Dan, di malam kedua, karena malam pertama kelelahan membuat kami tak sempat "melakukan" apa-apa, kami pun bercinta. Wita sangat pasif. Dia tak seperti yang aku bayangkan. Dengan gaya busananya yang cenderung seksi, sulit mengira dia demikian pasif. Waktu kucumbu, dia sangat dingin. Tapi, saat dia mulai terbawa cumbuanku, aku yang kaget-kaget. Wita seperti lupa pada kedinginannya, dia menjadi begitu liar, ganas, panas, dan ini yang paling mengagetkan: mahir. Dia bahkan yang menuntunku, dengan "teriakan-teriakan" yang terasa aneh di telingaku. Lalu semua terjadi. Dia tergolek kelelahan di sisiku. Sementara aku kehilangan kata-kata. Ada serasa yang aneh, aku tak merasakan "kejutan" malam pertama. Sungguh, aku tidak naif. Aku bukan mencari bukti setitik darah. Karena aku tahu, darah itu bukan tanda. Tapi, masih ada tanda yang lain, dan batinku berkata, Wita tak memberikan tanda kalau dia masih pemula. Erangnya, geraknya, tuntunannya, membuat aku bertanya-tanya. Tapi, malam itu, aku simpan semuanya. Dan, kami bercinta lagi...

Seminggu setelah itu, barulah aku bertanya padanya: "Wita, benar kamu belum pernah berhubungan dengan lelaki lain, sebelumnya?" Dia diam lagi, dan lebih asyik menikmati tehnya. Aku tanya lagi. Dan dia mengakui, tidak pernah. Lalu, mengapa aku tidak merasakan "halangan" ap apun di malam itu? "Mungkin karena kita terlalu bersemangat," katanya. Aku percaya. Aku mencintainya...

Tapi, tak cukup tiga bulan, berita buruk sampai ke telingaku. Waktu aku kembali ke kantornya, menginstal beberapa software lagi, di bagian lain, Rudy yang kukenal akrab menyalamiku. "Wita beruntung mendapatkan kamu, Hen. Kalau lelaki lain, barangkali akan kecewa." Kira-kira, seingatku, begitulah dia berkata. Aku merasa kaget juga. Ada apa? kenapa dengan Wita, dan kenapa aku harus kecewa. Kebingungan ini membuatku berlaku diplomatis, dan berusaha memancing. "Di zaman ini Rud, kita tidak perlu kaget. Semua sudah berubah kan?"

"Betul Hen, tapi kan tidak semua lelaki seperti kita-kita. Banyak yang munafik. Menuntut istri masih asli, diri sendiri sudah dedel-dowel, hahaha..." dia tertawa. Dan, mulailah aku menangkap cerita itu. Kami bersenda-gurau lagi, sebelum dia pergi. Aku merasa begitu sendiri. Wita... Wita... kenapa kamu merahasiakannya?

Kembali ke rumah, kutanyakan hal itu pada Wita. Dan jawabannya sungguh mengagetkanku. Dia mengakui, memang telah berhubungan seks dengan pacar-pacarnya. Bayangkan, pacar-pacarnya. Aku kaget. "Kata kamu tidak jadi masalah masa laluku? Kata kamu, tidak penting apakah aku perawan atau tidak? Kenapa sih kamu selalu menanyakan hal itu?" Teriaknya sebelum dia membanting pintu, dan mengunci diri di kamar. Meninggalkanku yang terdiam, tak tahu harus bicara apa.

Ahh, aku kecewa sekali, sungguh. Percayalah, aku kecewa bukan karena dia tidak perawan. Aku kecewa bukan dengan masa lalunya. Aku kecewa dan sakit, karena dia tak mau mengatakan hal itu secara jujur. Kenapa sebelum menikah, dia tidak mengatakannya? Kenapa? Kenapa setelah pernikahan ini? Kalau dia mengatakannya, aku tidak akan meninggalkannya, tetap menikahinya. Kenapa? Aku hanya ingin jujur, itu saja. Hanya ingin, semua hubungan ini, pernikahan ini, dimulai dan dilandasi oleh kejujuran, bukan kebohongan, bukan kemunafikan, bukan penyembunyian rahasia.

Tiba-tiba aku merasakan semua jadi sia-sia. Aku jadi ragu, sungguhkan Wita mencintaiku? Sungguhkah dia menikahiku karena memang merasa cocok? Tidakkah pernikahan ini bagian dari kebohongannya juga? Duhh, sakit sekali kepalaku saat itu. Apa ada cinta tanpa kejujuran? Apa aku bisa hidup dengan dia yang ternyata berbohong, bahkan di saat aku mempersiapkan ruang untuk menerima segala masa lalunya? Kenapa Wita, kenapa? Tidakkah kamu yakin padaku?

Setelah itu, komunikasi kami seperti hambar. Aku tak semangat lagi di ranjang. Berkali-kali, aku gagal menjadi suami, karena tak mampu setiap kali bayangan kebohongan itu menderaku lagi. Aku menjadi sulit percaya. Bahkan, kalau dia pulang kerja terlambat pun, cukup membuat segala pikiran buruk memasuki benakku. Berkali-kali aku mencoba melupakan hal itu, tapi tak bisa. Pelan, kusadari, rasa sayangku yang demikian besar dulu, tanggal satu-satu. Kini aku bersama dengan dia, semata-mata karena dia istriku, itu saja. Tak ada lagi usahaku untuk membangun rencana-rencana kami sebelum menikah dulu. Semua selesai... aku merasa kian tak berarti, sia-sia. Apalagi, Wita seolah-olah menganggap hal itu bukan masalah, tak pernah menjadi masalah. Aku sendiri yang merasa kebohongan dia menjadi masalah. Bagi dia, hal itu wajar saja. "Aku berhak menyimpan masa laluku, aku berhak untuk tak menceritakannya, kepada suamiku sendiri!" begitulah dia pernah berkata, yang membuatku kian tak mengerti. "Aku berhak punya rahasia, Mas..."

Aku tak tahu, apalagi rahasia dia di masa lalu. Aku percaya, kalau itu sampai aku ketahui, mungkin aku tak akan pernah sanggup melanjutkan pernikahan ini. Terlalu sakit rasanya, menikah dan merasa masih menjadi orang asing bagi dia, sehingga dia masih merasa harus punya rahasia. Pernikahan ini kurasakan hanya menjadi bencana saja...

(Pengakuan Hendry Setiawan - Semarang Selatan)

Penulis : Administrator