ASN Diimbau Pakai Batik Magelang Tiap Kamis


Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina ( kiri) berkesempatan membatik saat mengikuti kegiatan “Blusukan Humas Pemkot Magelang dan wartawan ke UMKM” yakni di Iwing Batik yang ada di Kampung Wates Tengah, Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, Kota

MAGELANG- Untuk menggairahkan kembali para perajin batik yang ada di Kota Magelang,  Walikota Magelang mengeluarkan Surat Edaran penggunaan batik khas Magelang bagi para pegawai di wilayah tersebut memakai baju batik setiap Kamis.

“Dalam Surat Edaran nomor 510/096/121 tertanggal 14 Maret 2018 disebutkan  ketentuan memakai baju batik khas Magelang tersebut tidak hanya berlaku bagi aparat sipil negara (ASN ) di lingkungan Pemkot Magelang saja, melainkan juga bagi pegawai negeri instansi vertikal, ASN Provinsi Jateng yang  bertugas di UPTD di Kota Magelang, pegawai BUMN/BUMD dan pegawai PT ( Persero),” kata Wakil Wali Kota Magelang Windarti Agustina di sela-sela kegiatan “Blusukan Humas  Pemkot Magelang dengan wartawan ke UMKM” di sentra batik Iwing, Kebonpolo, Kelurahan Wates, Kecamatan Magelang Utara, Selasa  (10/4).

Windarti mengatakan, sebenarnya beberapa tahun lalu Pemkot Magelang telah mengedarkan Surat Edaran tentang penggunaan batik khas Magelang  bagi ASN di lingkungan Pemkot Magelang dan instansi vertikal yang ada, tetapi terjadi penurunan  penggunaan batik khas Magelang tersebut.

Menurutnya, diedarkannya surat edaran tersebut juga bertujuan untuk kembali mengangkat  para perajin batik di Kota Magelang untuk dapat bersaing dengan batik- batik yang berasal dari daerah lainnya. Selain itu, adanya surat edaran Walikota Magelang tersebut bertujuan dalam rangka pemberdayaana masyarakat dan pembinaan usahan mikro kecil dan menengah (UMKM) khususnya batik , sekaligus melestarikan batik Indonesia yang telah diakui oleh Unesco sebagai budaya nonbenda warisan manusia. “Batik khas Magelang ini mempunyai daya saing yang cukup tinggi dengan batik dari luar daerah,” ujar Windarti.

Ia menambahkan, untuk menambah daya saing tersebut para pengrajin batik di Kota Magelang diharapkan bisa lebih berinovasi dengan warna dan corak batik yang telah ada saat ini.

Windarti juga mendorong kepada para perajin batik yang ada di Kota Magelang untuk memberdayakan  tenaga lokal dan masyarakat setempat, agar terjadi penyerapan tenaga kerja.  "Usaha kecil dan menengah yang berkembang dan banyak pesanan akan menyerap banyak tenaga kerja," katanya.

Batik khas Magelang yang mempunyai banyak motif seperti, Bayeman, Water Torn, Nanom dan lainnya mempunyai warna yang cukup menarik dan sangat cocok untuk seragam kerja di kantor.

Terpisah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Magelang Sri Retno Murtiningsih mengakui, menurunnya penggunaan batik khas Magelang di kalangan ASN dan instansi vertikal yang ada di Kota Magelang sangat mempengaruhi produksi dari para perajin batik yang ada. “Bahkan dari puluhan pengrajin batik yang ada di Kota Magelang tersebut ada yang hampir tutup dan beralih usaha lain,” kata Sri Retno.

Ia menambahkan, dengan adanya Surat Edaran Wali Kota Magelang yang menghimbau bagi kalangan ASN dan instansi vertikal lainnya, dinilai akan menggairahkan kembali para pengrajin batik yang ada di Kota Magelang.

Menurutnya saat ini di Kota Magelang terdapat 12 perajin batik khas Magelang yang masih eksis mengembangkan batik tersebut.

 

Penulis : widias
Editor   : wied