Pabrik Garam di Kedung Malang Mampu Produksi 30 Ton/Hari


Garam beryodium di KUB Mutiara Laut di Desa Kedung Malang, Kedung, Jepara, siap dikemas sebelum dipasarkan. Foto : Budi Santoso.

JEPARA- Di Desa Kedung Malang, Kedung, Jepara, sebuah usaha pengolahan garam berdiri sejak puluhan tahun lalu. Usaha ini mampu bertahan di tengah pasang surutnya pasar garam di tanah air. KUB (Koperasi Usaha Bersama) Mutiara Laut, demikian nama badang usaha ini, masih terus memproduksi garam beryodium dalam skala sederhana.

Ketua KUB Mutiara Laut, Syuhada menyatakan, usaha pengolahan garam di desa Kedung Malang, memanfaatkan rumah produksi sederhana. Ini adalah satu-satunya fasilitas yang bisa disebut sebagai pabrik garam di Kedung Malang. Meskipun sederhana, usaha ini masih mampu memproduksi garam beryodium sampai 30 ton setiap harinya.

Memanfaatkan hasil produski garam grosok dari para petani di seputar Kedung Malang, usaha ini masih terus eksis. Puluhan pekerja masih sabar memproses garam-garam grosok yang dipasok oleh para petani sekitar. Memproduksi garam beryodium memang memerlukan proses yang cukup rumit. Garam grosok pada awalnya harus dicuci lebih dulu, kemudian diremuk dengan cara digiling. Lalu garam yang sudah halus namun basah harus ditiriskan lebih duku sebelum kemudian dioven dalam suhu 200 derajat celcius.

“Pada suhu 200 derajat itulah, saat garam diberi zat iodium sehingga nantinya menjadi garam beryodium. Prosesnnya memang cukup rumit,” ujar Syuhada, Selasa (10/4).

Pemberian yodium harus sesuai dengan takaran yang diperbolehkan. Takarannya sendiri menurut Syuhada harus dalam angka 30-80 PPM (Per Part Million atau seperjuta bagian). Selain itu, dalam proses oven tidak cermat, maka garam akan gosong dan tidak bisa dikonsumsi. Karena itu, dalam proses ini pengawasannya benar-benar dilakukan dengan cermat.

Garam beryodium produk Kedung Malang sendiri sejauh ini sudah dipasarkan hingga ke Solo, Serang, Semarang dan bahkan Lampung. Sudah sekitar 33 tahun usaha ini dirintis hingga saat ini. Namun pada 2016 lalu, usaha ini sempat mandeg lantaran tidak ada pasokan bahan baku. Saat itu garam grosok mengalami kelangkaan, dan harganya melambung tinggi.

“Usaha kami memang rentan terhadap beberapa factor. Bahkan kadang juga bergantung pada cuaca. Karena pasokan bahan bakunya berasal dari petani garam tradisional,” tegas Syuhada.

 

Penulis :
Editor   :