Setahun, 80 Ribu Sapi harus Bunting

150

HARUS BUNTING: Demi menambah ekonomi rahyat, Pemkab targetkan hamili 80 ribu sapi betina di kabupaten Grobogan. Foto: Felek

PURWODADI- Untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat melalui sektor perternakan, Pemerintah Kabupaten Grobogan pada tahun 2017 ini menargetkan membuntingkan  80 ribu sapi betina dewasa.

“Target 80 ribu sapi betina bisa bunting. Langkah ini dilakukan sebagai langkah untuk mensukseskan upaya khusus sapi indukan wajib bunting yang kita sebut Upsus Siwab,” ujar Riyanto, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Grobogan, Senin (14/8).

Riyanto menjelaskan, dalam Upsus Siwab meliputi penanganan gangguan reproduksi, Inseminasi Buatan (IB), PKB Hasil IB, bantuan pakan dan penyuluhan betina produktif. Dengan asumsi betina produktif mencapai 90 ribu ekor, tahun ini target perolehan IB mencapai 80.000 ekor dan kebuntingan 73 persen atau 58.400 ekor.

“Hingga akhir Juni 2017 lalu, perolehan IB baru mencapai 35 % atau 45.921 ekor. Kita kerahkan 43 petugas inseminator ditambah 9 pembantu. Mereka turun ke rumah-rumah penduduk untuk membuat sapi hamil. Target kegiatan gratis hingga 30 November 2017,” tambahnya.

Kabid Produksi Peternakan, Hadi Susianto, menjelaskan, program kawin suntik geratis, bertujuan untuk meningkatkan populasi sapi di Kabupaten Grobogan. “Tak hanya itu pendapatan peternak bertambah sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan mereka,” ungkap Hadi Susianto.

Hadi menambahkan, untuk memberikan pelayanan IB, petugas datang dari rumah ke rumah masyarakat. Dalam program IB ini, bibit yang diberikan adalah bibit bagus. Karena berpengaruh pada keberhasilan dan gentika dari sapi itu sendiri. Serta menambah populasi sapi, harga jual ternak IB lebih tinggi dari kawin alam serta meningkatkan kesejahteraan peternak.

Jika setelah mendapatkan pelayanan IB belum bunting, terangnya, maka 21 hari setelah birahi harus disuntik IB lagi. Setelah IB kedua belum bunting lagi maka harus dilakukan penanganan ke gangguan reproduksi terlebih dahulu.

“Untuk ke depan nantinya, IB akan ada program sinkronisasi birahi dengan gangguan reproduksi. Harapannya gangguan reproduksi ini bisa ditangani sehingga bisa mengalami kebuntingan. Kalau sudah sembuh dan birahi lagi, maka harus IB lagi. Namun jika tidak bunting lagi alias majer maka disarankan untuk diafkir (dipotong) karena sudah tidak produktif lagi,” terangnya.

Penulis : fww
Editor   : wied