Selama Ramadhan, Ini Permintaan KPID ke TV dan Radio


SEMARANG – Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah meminta kepada Lembaga Penyiaran televisi dan radio agar tetap terus berhati-hati dalam menayangkan siaran menyusul datangnya bulan puasa Ramadhan tahun ini. Ketua KPID Jawa Tengah Budi Setyo Purnomo menyatakan datangnya bulan Ramadhan biasanya akan mengubah pola keseharian warga sehingga lembaga penyiaran juga akan ikut mengubah pola siarannya.  

“KPID meminta kepada lembaga penyiaran agar tetap menanyangkan konten-konten yang menyejukan, keindahan, pluralitas serta tidak menayangkan siaran yang mengandung konten mempertentangkan SARA, mengandung konten saru, serem dan sadis,” kata Budi di Semarang, Rabu (16 Mei 2018). 

Budi juga mendesak lembaga penyiaran senantiasa mematuhi pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran (P3SPS) KPI tahun 2012. 

Selain itu, KPID Jawa Tengah meminta agar lembaga penyiaran melakukan penambahan durasi dan frekuwensi untuk program dakwah Ramadhan.

“Mengedepankan prinsip perlindungan anak dan remaja pada seluruh jam siaran karena mempertimbangkan perubahan pola menonton pemirsa pada bulan Ramadhan,” kata Budi.

Budi menyatakan hari puasa dan idul fitri tahun ini juga istimewa karena di masa itu juga merupakan masa kampanye pilkada serentak 2018. KPID Jawa Tengah mewaspadai adanya lembaga penyiaran yang menayangkan iklan terselubung pasangan calon pilkada di masa hari-hari puasa dan hari raya idul fitri. Budi menyatakan iklan paslon pilkada hanya boleh yang difasilitasi oleh KPU daerah masing-masing.  

Untuk itu, lembaga penyiaran diwajibkan untuk tetap memperhatikan surat edaran KPI Nomor 68/K/KPI/31.2/02/2018 tertanggal 12 Pebruari 2018 tentang edaran penyiaran masa pilkada 2018 karena pelaksanaan iklan kampanye pilkada di lembaga penyiaran berlangsung pada akhir Ramadhan dan awal Idul Fitri (10-23 Juni 2018). 

Budi juga menghimbau kepada televisi di Jakarta yang berjaringan di daerah untuk menyesuaiakan jam lokal pada saat menanyangkan adzan magrib yang merupakan waktu berbuka puasa dan jam lokal untuk imsak. Jangan sampai lembaga penyiaran menanyangkan adzan magrib di Jawa Tengah tapi jamnya adalah waktu untuk wilayah Jakarta. Sebab, jam adzan masing-masing wilayah tidaklah sama.

Penulis :
Editor   :