Supir Angkot dan Taksi Tolak Go-Jek, Salatiga Lumpuh!


Ratusan angkutan konvensional di Salatiga menggelar demo da memarkirkan kendaraan mereka di jantung kota tepatnya di Bundaran Taman Sari, Salatiga sambil menuntut agar transportasi berbasis online yakni Go-jek khususnya, dilarang beroperasional di Salati

SALATIGA - Setelah sempat menggelar aksi mogok di awal bulan Agustus lalu, kembali ratusan angkot, prona, dan taksi di Salatiga sekitarnya mogok beropersional, Senin (21/8) pagi.

Praktis, kondisi Salatiga lumpuh. Semua ruas jalanan Salatiga sepi keberadaan angkot serta prona termasuk taksi. Demo diikuti paguyupan angkutan, Perwakilan IPAS, Organda, Angkudes, Prona dan Taksi nyaris melumpuhkan jantung kota Hati Beriman tersebut.

Ratusan angkutan konfensional Salatiga tersebut melakukan titik kumpul di bundaran Taman Sari, Salatiga hingga siang hari. Jalur menuju Jalan jenderal Sudirman Salatiga ditutup total. Sejak pukul 09.00 WIB semua angkot dan prona memarkirkan kendaraan tepat di depan Rumah Dinas Walikota.

Perwakilan IPAS, Organda, Angkudes, Prona dan Taksi akhirnya mendatangi Walikota di Rumdin. Turut hadir dalam pertemuan dadakan tersebut Ketua DPRD Salatiga Teddy Sulistio, Wakil Walikota Muh Haris, Forkopinda Salatiga, Kepala Dishub Salatiga Serta para pihak terkait lainnya.

Sementara, mereka yang tidak mengikuti pertemuan melakukan orasi serta berteriak menyuarakan aspirasi meminta agar transportasi berbasis online per Senin (21/8) harus benar-benar tutup.

"Hari ini harus selesai dan tuntas. Kalau tidak selesai kami akan terus menggelar mogok dan tidak menarik penumpang," ungkap sejumlah sopir dan kenek dengan berteriak, di depan Rumdin Walikota.

Sementara, Ketua IPAS Agus Siswanto dalam pertemuan di Rumdin Walikota menyebut  Pemkot selama ini dianggap kurang tegas.

Meski sudah ada larangan tapi harusnya tidak boleh membuka cabang. Karena nyatanya ada yang buka cabang.

"Kalau ada pembiaran terus paraturan itu tidak perlu dipatuhi. Kami pun bisa melakukannya. Dan kita kesehariannya sudah tertib meski kami sudah sepakat restribusi tidak bayar, kir tidak dilakukan," ungkapnya.

Pada intinya, tanda Agus, seluruh perwakilan paguyupan angkutan kota di Salatiga dan sekitarnya meminta Pemkot tegas melarang transportasi berbasis online beropersional di Salatiga karena dianggap mengurangi pendapatan para sopir/kenek angkutan konfensional. 

 
 

Penulis : ern
Editor   : awl