Itikaf di Masjid Agung Daarussalam, Mengharap Maghfirah di Penghujung Ramadan


Peserta Itikaf di Masjid Agung Daarussalam Purbalingga memanfaatkan waktu dengan membaca Alquran. Itikaf dilaksanakan rutin setiap penghujung Ramadan. (Foto :Joko Santoso)

 PURBALINGGA- Di tengah hiruk-pikuk persiapan merayakan Idul Fitri, sebagian orang yang memilih menyepi dan berdiam di masjid melakukan Itikaf. Mereka mengharapkan maghfirah di penghujung Ramadan ini. Salah satunya di Masjid Agung Daarussalam Purbalingga.

Suasana masjid di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan lain dari biasanya. Setiap tengah malam lantunan ayat-ayat suci Alquran berkumandang lirih. Di ruangan masjid nampak beberapa orang sedang tafakur dan khusyuk berdoa.

Mereka yang berdiam di masjid itu adalah para peserta kegiatan Itikaf. Takmir Masjid Agung Daarussalam di penghung Ramadan memang menggelar kegiatan Itikaf. Takmir Masjid Agung Daarussalam  Nur Isya   mengatakan bahwa Itikaf merupakan kegiatan dengan bentuk berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. "Segala hubungan dengan dunia  dunia luar dihindari. Peserta memilih berdiam di masjid sambil berzikir dan beribadah yang lain. Mereka berharap mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan melakukan itikaf,” ujarnya.

Kegiatan Itikaf dilaksanakan pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadan. Peserta yang mengikuti puluhan orang. Mereka berasal dari Banyumas, Purbalingga dan Banjarnegara. Kegiatan itu rutin dilaksanakan setiap Ramadan. "Ibadah Itikah merupakan ibadah yang rutin dilakukan Nabi Muhammad SAW. Ajaran itu diturunkan kepada umatnya sampai sekarang ini," ujarnya.

Banyak manfaat yang didapatkan dari Itikaf. Menurutnya  selama Itikaf peserta menyendiri di sudut-sudut ruangan masjid. Di sela-sela kesendirian tersebut mereka bemunajat dan memohon berkah kepada Allah. Itikaf menurutnya juga bisa dijadikan sarana introspeksi atas kehidupan yang sudah terjadi selama ini. "Dalam keheningan biasanya peserta Itikaf akan mendapatkan banyak pencerahan,” katanya lagi.

Kegiatan Itikaf dimulai dari terbit fajar hingga malam. Setelah melakukan shalat Subuh peserta lalu mengikuti kegiatan amalaiyah yang lain. Mulai pengajian, membaca Alquran hingga melaksanakan salat sunat. Selama sekitar 10 hari penuh para peserta tak pulang dan selalu bermalam di masjid. "Setelah salat zuhur dan Asyar kegiatan dilanjutkan lagi hingga magrib. Malamnya melakukan salat tarawih dan setelah itu lalu tadarus Alquran,” ungkapnya.

Guna memberikan pencerahan dan tambahan wawasan keIslaman, panitia juga menghadirkan sejumlah ulama. Mereka memberikan pengajian dan tauziah kepada peserta Itikaf. "Banyak manfaat dan faedah yang diperoleh dari ibadah Itikaf. Di antaranya adalah untuk penyucian jiwa dari berbagai kotorannya," ujarnya.

Selain itu Itikaf juga dilaksanakan guna mencari malam Lailatul Qadar. Malam tersebut datang di sepuluh hari terakhir Ramadan. Dipercaya merupakan malam istimewa untuk melaksanakan ibadah. "Karena malam itu lebih mulia daripada seribu bulan lainnya. Barang siapa beribadah di malam itu maka pahalanya sama dengan beribaha selama seribu bulan," terangnya.

Ditambahkan orang yang melakukan Itikaf adalah juga orang yang meraih bagian terbesar dari kebaikan-kebaikan malam yang penuh berkah tersebut.

 

 

Penulis : Joko Santoso
Editor   :