SALATIGA - Tiga hari sejak berlangsungnya mogok massal angkutan kota di Salatiga banyak bermunculan relawan yang secara suka rela melakukan aksi antar-jemput pelajar dan masyarakat yang membutuhkan transportasi. Namun, keberadaan relawan ini ternyata juga membuat 'gerah' para sopir angkot yang mogok. Buntutnya, para relawan turut kena imbasnya. Mereka di-
sweeping oleh para sopir angkot yang tak senang aksi kemanusiaan tersebut.
Sebelumnya, sejak hari kedua mogok massal angkutan e di Salatiga kendaraan gratis di Kota Salatiga mulai merebak untuk mengantar penumpang. Terlihat, puluhan motor berada di Bundaran Tamansari yang biasanya untuk ngetem angkota, selain itu juga banyak di beberapa kawasan untuk saling menolong. Tak hanya kendaraan relawan, ada pula armada yang kerahkan pihak TNI-Polri serta Dishub Kota Salatiga termasuk Satpol PP.
"Saya relawan antar gratis penumpang untuk menolong orang lain karena aksi mogok angkota di Salatiga," ujar Dewi, warga Salatiga salah satu relawan mengaku tergerak melakukan aksi kemanusian tersebut didasari kasihan terhadap para pelajar yang terlantar sejak mogok massal angkutan di Salatiga.
Sementara itu, aksi
sweeping terus dilakukan oleh kelompok kru angkutan kota hingga siang hari. Untuk menghindari aksi anarkis, armada milik TNI-Polri yang memback-up. Para pedagang terutama pelajar yang telantar diangkut oleh truk TNI. Beberapa angkutan umum dari arah Kopeng, Kabupaten Semarang dicegat di pasar sapi tidak boleh masuk jalur kota agar tidak mengangkut penumpang.
Dari pantauan
Wawasan.co, sementara itu angkutan umum atau angkutan desa (angkudes) trayek Salatiga-Bringin (Kabupaten Semarang) yang mengangkut penumpang dari Kota Salatiga keluar wilayah Salatiga arah utara mulai operasional dan ngetem di Jalan Patimura Salatiga. "Kami tetap operasional, meskipun angkutan kota mogok. Kami menunggu penumpang di kawasan ini di Jalan Patimura Salatiga ini. Kami mau cari makan dan tidak melanggar aturan,” ujar Prayitno (32) sopir angkutan umum warga Bringin, Kabupaten Semarang, Rabu (23/8).
Wali Kota Salatiga, Yuliyanto saat ditemui wartawan di Salatiga menegaskan, pihaknya tetap tidak akan mencabut suratnya mengenai larangan Go-Jek di Salatiga, meski ada informasi Permenhub Nomor 26 Tahun 2017 tentang transportasi
online telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung (MA). "Sikap saya jelas, ini semata-mata untuk menyelamatkan warga Salatiga jangan sampai ada bentrok di lapangan. Apapun mereka adalah warga kami yang harus sama-sama dilindungi. Harus ada kesepakatan antara kedua belah pihak," ujar Wali Kota.
Operasional LagiKetua Induk Paguyuban Angkutan Kota Salatiga (IPAS), Agus Siswanto kepada wartawan di kantor Organda Salatiga mengungkapkan seluruh angkutan kota berbagai jalur di Kota Salatiga akan operasional lagi melayani penumpang. Sebab, izin untuk mogok jalan selama tiga hari.
Tercatat, mulai Kamis (24/8) hari ini seluruh paguyuban sepakat kembali mengoperasikan kembali armada mereka. "Setelah tiga hari mogok jalan buntut aksi protes mereka keberadaan ojek online (Go-Jek) di Salatiga, besok kami sepakat akan beropersional kembali," tandas Agus Siswanto, kemarin siang.
Ia memaparkan, izin mogok jalan para angkutan sudah habis. "Kami semua akan operasional lagi melayani penumpang ke tujuan berbagi jalur termasuk melayani para pelajar kembali," ujar Agus.
Terkait keberadaan trasnportasi
online, ia tetap menegaskan pihaknya menolak keras adanya Go-Jek di Salatiga. Wilayah Salatiga sempit dan alat transportasi sudah cukup dan tidak ada keluhan kekurangan transportasi. Namun nyatanya, kondisi berbanding terbalik. Dukungan warga di Salatiga terhadap keberadaan transportasi online, khususnya Go-Jek terus meningkat.
Kecaman terhadap mogok angkutan kota dinilai sikap yang kurang dewasa dalam mencermati perkembangan jaman. "Tidak ada angkota malah jalan jadi rapi dan tidak ruwet. Eranya
online 'ya' wajar, kita harus bisa menerima," tutur beberapa warga di wilayah Kecamatan Sidorejo, enggan dikorankan identitasnya.