Hambar, Pemilu Minim Rapat Umum

1.2K

(Tulus Premana  Edi, S.H., wartawan Wawasan.co, yang tinggal di Wonogiri)

Tanpa terasa,  tahapan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) nyaris usai. Tinggal menunggu penghitungan final yang dilakukan KPU Jawa Tengah. Padahal, sesuai PKPU Nomor 4 Tahun 2017 tentang Kampanye Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota,  kampanye Pilkada tahun ini  waktunya lebih lama 10 hari dibanding   Pilkada lima tahun lalu. Kalau Pilkada lalu  kampanye hanya 119 hari,  tapi dengan adanya regulasi PKPU Nomor 4 tahun 2017,  masa kampanye  jadi 129 hari.

Walau ada penambahan masa kampanye, Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun ini boleh dibilang cukup sepi sebab para calon dan tim suksesnya hanya menggelar rapat-rapat terbatas.  Kesempatan menggelar rapat umum sebanyak 2 kali seperti yang diamanatkan  pada PKPU nomor 4 tahun 2017, khususnya pada pasal 42 (5) poin a,  tidak bisa mewarnai indahnya pesta demokrasi pada masa kampanye. Sehingga selama masa kampanye nyaris tidak ada pergerakan massa, tanpa ada pengumpulan warga di tempat-tempat umum seperti Pilkada sebelumnya.

Bahkan,  masih dalam regulasi yang sama, tanda gambar pun, dilakukan dan diatur oleh KPU. Baik jumlahnya, ukurannya dan tempat pemasangannya. Dengan adanya aturan tersebut, tentunya menekan biaya bagi calon gubernur dan wakilnya, calon Bupati dan wakilnya atau, calon Walikota dan wakilnya.

Dampak yang dikhawatirkan bila digelar rapat umum, dapat menyulut keributan,  membuka peluang tindak anarki dan lainnya.

Namun bukan berarti kalau meniadakan rapat umum tidak muncul masalah. Buntutnya, warga jadi apatis tehadap penyelenggaraan Pilkada dan kurang bisa ikut berperan aktif dalam penyelenggaraan sebuah pesta demokrasi. Tak heran bila  tingkat partisipasi masyarakat tidak bisa mencapai target.  Pada Pilkada tahun  ini  partisipasi masyarakat secara nasional  dipasang target 77 persen.  Namun Wonogiri  hanya mencapai 69 persen.  Mestinya, rapat umum tetap saja digelar sebagai simbol sebuah pesta demokrasi, hanya saja kemasannya dibuat lebih indah sehingga tidak menyulut emosi masyarakat.

 

 

Penulis : tpe
Editor   :