Kolaborasi Apik Dramatisasi Puisi dan Monolog


Monolog “Dari Tiga Kamar” dimainkan oleh Dias Larasati dari Teater Brankas SMAN 2 Purbalingga, dalam pementasan di Pendapa Sangalikuran, Kamis (5/7) malam. (Foto :Joko Santoso)

PURBALINGGA-Komunitas Teater Sastra Perwira (Katasapa) melakukan improvisasi dalam pementasan Teater Dua Generasi, Kamis (5/7) malam. Pementasan yang digelar secara sederhana di Pendapa Sangalikuran Perumahan Griya Abdi Kencana mendapatkan apresiasi dari penonton. “Kami sengaja memadukan pentas dramatisasi puisi yang dilanjutkan dengan monolog,” pegiat Katasapa Ryan Rachman, di sela-sela pementasan.

Tiga personel  masing-masing Ryan Rachamn, Trisnanto Budidoyo dan Agustav Triono memainkan dramatisasi puisi “Sajak Potret Keluarga” karya WS Rendra. Ketiganya tampil prima dan saling mengisi.  Mereka memainkan kata demi kata puisi dari buku Potret Pembangunan dalam Puisi terbitan 1975 secara rancak dan kompak. “Puisi ini menceritakan ayah, ibu dan anaknya serta keluarganya yang berantakan. Padahal sang ayah adalah pejabat yang kaya. Namun mereka hidup tidak rukun. Akhirnya sang anak memilih pergi dari rumah,” ujar Ryan.

Pementasan selanjutnya adalah monolog berjudul “Dari Tiga Kamar” yang dimainkan oleh Dias Larasati dari Teater Brankas SMAN 2 Purbalingga.  Dia memerankan seorang gadis muda nyampah asyik Masyuk berkutat dengan tumpukan karya sastra. Sesekali dia membaca puisi. Keinginannya saat masih pelajar menjadi seorang sastrawan sangat kuat.

 

Dengan menjadi sastrawan dia menemukan arti hidup. Menjalani usia remaja dengan sesuatu yang berbeda. Tidak seperti teman sebayanya yang berpacaran, bermain sosial media, berswafoto atau melakukan hal-hal konyol ala anak muda zaman sekarang.

 

Hingga suatu saat dia menjadi dewasa, garis hidupnya ditakdirkan menjadi orang yang tidak sukses. Orang terdekat termasuk keluarganya menyesalkan mengapa gadis itu tidak mau menuruti keinginan orang tuanya untuk kuliah dan bekerja kantoran hingga jadi orang sukses. Sampai di usia senjanya, gadis itu menjadi orang tua, seorang penulis produktif yang naskahnya ditunggu oleh sutradara film layar lebar dan televise. “Hidup ini pilihan. Itu pesan yang ingin disampaikan dari monolog tersebut,”kata Dias usai pementasan.

Penulis : Joko Santoso
Editor   : jks