Kekeringan, Warga Konsumsi Air Keruh


Mbah Sodikromo (74), warga Katelan, Kecamatan Tangen, harus berjalan kaki sejauh kuranglebih 5 kilomter dari rumahnya, untuk bisa mendapatkan air bersih. Itpun air tetap berkeruh. (Foto: Sutiyatmoko W)
SRAGEN – Musibah kekeringan sudah melanda beberapa wilayah di Sragen bagian utara. Sedikitnya 200 KK di Desa Katelan dan Desa Dukuh,  Kecamatan Tangen, terpaksa mengonsumsi air keruh, atau membeli air bersih dalam jeriken. Hal ini lantaran sumur warga yang berada di Dusun Grabagan, Dusun Brakbunder, Desa Katelan, mulai mengering pada musim kemarau ini. Pada sisi lain, sumber air dari Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas), tidak mampu memenuhi kebutuhan air warga. Sedangkan untuk bantuan pengiriman air bersih, jadwalnya juga tak menentu.
Wahono, (59), salah satu warga Katelan RT 10, Kecamatan Tangen mengatakan, sudah satu pekan ini, warga kesulitan air, untuk bisa mendapatkan air bersih. "Sebelumnya, kami mengandalkan air dari Pamsimas, namun airnya sudah tak mengalir, karena airnya sudah mengering. Begitu juga kalau mengambil air sumur tetangga, sudah mengering, sedang bantuan air juga tidak menentu," kata Wahono kepada wartawan, Selasa (29/8).
Oleh karena itulah, sejumlah warga ada yang terpaksa mengonsumsi air, meski keruh. Padahal, untuk membeli air bersih, satu tangkinya mencapai Rp 500.000. Hal senada disampaikan warga lainnya, Ny Suparni (48), yang mengeluhkan sulitnya mendapat air bersih, untuk kebutuhan sehari-hari, sehingga keluarganya harus menghemat saat menggunakannya. Karena untuk membeli air bersih, satu jeriken berisi 10 liter, harganya Rp 4.000.
"Air yang kami beli itu pun sebatas jatah satu hari untuk memasak. Sedangkan untuk mandi, menggunakan air seadanya. Keruh tak masalah, daripada tidak mandi," tuturnya. Menurut dia, sudah sepekan ini tak ada bantuan air, sehingga warga terpaksa membeli. Terakhir kali bantuan air bersih berasalal dari Polres Sragen, setelah itu belum ada lagi bantuan air bersih yang datang. Hal yang sama juga dialami warga Desa Gumantar, Kecamatan Mondokan, yang sudah mengalami kekeringan sejak tiga bulan terakhir ini.
Untuk bisa mendapatkan air bersih, warga terpaksa mencari ke sumur yang jaraknya sekitar lima kilometer. Sedangkan bantuan dari Pemkab Sragen, yang ditunggu-tunggu belum kunjung datang. Sri Suparmi (39), salah satu warga mengatakan, untuk mendapatkan air, warga terpaksa mengambil air sumur yang jaraknya lima kilometer. “Untuk membeli air bersih, kami keberatan karena harganya tak murah," tuturnya. Krisis air bersih akibat kemarau ini, tak pelak memuat warga Gemantar selalu menyerbu, bila ada bantuan air bersih datang.
 

Penulis : sw
Editor   :