Rumah Makan Kok Pakai Gas Melon, Terciduklah...


Petugas gabungan Pertamina, Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM serta Polres Demak saat sidak dan menemukan tumpukan tabung melon di bagian dapur rm sop balungan di Mranak, yang mestinya mengginakan tabung elpiji ukuran minimal 5,5 kilogram. Foto : sari ja

DEMAK - Tak sedikit pengusaha rumah makan di Kota Wali 'terciduk' menggunakan elpiji tiga kilograman. Alasan klise demi pengiritan  pun dilontarkan, ketika tim gabungan dari Pertamina, Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM serta Kepolisian inspeksi mendadak (sidak) dan menemukan tumpukan tabung 'melon' di bagian dapur.

Seperti disampaikan Sucipto, warga Mranak pemilik rumah makan menu sop balungan. Awalnya dia berdalih memakai elpiji tiga kilograman karena kecewa, setelah menjadi korban pengecer atau agen nakal, yang menjual elpiji tabung besar namun sudah dikurangi isinya.

"Masa baru dipakai sebentar elpiji besar (12 kilogram) sudah langsung habis. Padahal lamanya memasak dan jumlah yang dimasak sama, dengan ketika masak dengan elpiji kecil (3 kilogram)," ujarnya, Rabu (29/8).

Maka ketika ada bakul atau pengecer menawarkan jasa pemasokan elpiji, Sucipto langsung menyambutnya. Apalagi dengn fasilitas peminjaman tabung. Hingga total petugas gabubgan menemukan  38 tabung.

"Yang 10 tabung memang milik saya, namun yang 28 punya bakul. Tentu saja kami lebih milih model penjualan begini, lebih irit dan tidak susah mencari karena sudah ada yang menyetori," dalihnya.

Kondisi serupa juga ditemui di salah satu rumah makan besar di jalur lingkar Jebor - Jogoloyo. Empat tabung elpiji warna hijau terpasang di kompor-kompor yang ada di bagian dapur.

Ketika petugas menkonfirmasi penggunaan elpiji bersubsidi yang mestinya diperuntukkan rumah tangga miskin dan UMKM, pelayan warung berkelit tidak tahu menahu. Sebab semua kebutuhan warung termasuk elpiji yang belanja adalah pemiliknya langsung.

Sehubungan itu Sales Eksekutif Elpiji Wilayah Demak PT Pertamina Unggul Adi Wibowo menuturkan, sidak dalam rangka mencegah penggunaan elpiji tiga kilograman yang tidak tepat sasaran. Sebab sesuai Permen ESDM Nomor 13/2018 tentang penyaluran BBM, BBG dan LPG,  elpiji tiga kilograman hanya diperuntukkan  warga miskin dan UMKM.

"Selain dua kelompok tersebut wajib menggunakan  elpiji ukuran tabung 5,5 kilogram ke atas. Jika tidak, akan ada sanksi asministrasi bagi pelanggarnya," kata Unggul.

Maka itu selain pengawasan juga dilakukan trade ini atau penjualan langsung. Yakni dengan menukar dua tabung melon kosong, dengan tabung pink ukuran 5,5 kilograman.

"Sebab dengan asumsi rumah makan besar butuh elpiji sepuluh tabung hijau sehari, maka sebulan dia bisa menghabiskan 300 tabung. Artinya para pengusaha besar itu telah mengambil hak 75 KK, yang tiap bulanya membutuhkan dua hingga tiga tabung ukuran tiga kolograman," urainya.

Mengenai kegiatan sidak acak penggunaan elpiji tiga kilograman  di 10 rumah makan besar, Kabid Perdagangan Sri Sasongko berharap, kedepan penggunaannya bisa sesuai target  peruntukan. Elpiji tabung melon sesuai peraturannya diberikan kepada warga miskin dan pelaku UMKM.

Sedangkan berdasar data pertamina, kebutuhan elpiji per hari di Demak adalah 83 ton. Atau setara dengan 27 ribu tabung ukuran tiga kilograman.

 

 

Penulis : ssj
Editor   :