Ibu, Mengapa Kita Mendapatkan Luka yang Sama?

1.0K

Barangkali tak ada masa yang paling menegangkan sekaligus menyenangkan bagi seorang perempuan kecuali saat menunggu pernikahan. Aku pun begitu, masa menunggu pernikahan ini membuatku seperti memiliki cadangan energi kegembiraan yang berlimpah. Semua menjadi indah di mataku. Semua menjadi senyum dan tawa di bibirku.

Tapi, sebulan lalu, keindahan dan tawa itu berubah jadi tangisan. Masa menunggu ini pun cuma menjadi siksaan. Kalau bunuh diri bukan dosa besar, aku mungkin telah melakukannya.

Panggil aku Murni (28), anak tunggal. Sejak tamat kuliah, aku langsung bekerja di sebuah perusahaan furniture, di pinggiran Semarang. Kini hampir lima tahun aku bekerja, dan gaji yang kuterima termasuk besar jika dihitung dengan pengeluaranku sehari-hari. Apalagi di rumah nyaris semua tersedia. Ibu membuka toko klontong kecil, dan ayah karyawan perusahaan kontraktor.

 Sebagai anak tunggal aku tidak terhitung manja. Ibu yang terutama mendidikku untuk mandiri. Ayah pun tampaknya tak terlalu memanjakan aku. Beliau lebih memilih membaca koran atau main catur di komputer daripada ngobrol denganku atau ibu. Dalam kondisi itulah rumah terbiasa sepi. Ibu berada di bagian belakang rumah yang merangkap toko yang menghadap jalan kecil, dan ayah di ruang depan atau di ruang belajar, asyik dengan teve, koran atau komputernya.

Barangkali keluarga kami termasuk dingin. Makan pun jarang bersama. Dengan ibu aku cukup dekat, dan biasa kalau hari minggu bepergian berdua, ke mall atau menonton film, atau makan. Ayah selalu tak bersedia ikut. Macam-macam alasannya, mulai masuk angin, malas, sampai ada temannya yang mau datang. Karena sejak lama telah begitu, aku merasakan ini bukan bagian dari keanehan. Ibu pun selalu diam, tak tak pernah mengeluh atas sikap ayah. Meski saat mulai dewasa, aku agak tahu, ada "pagar" halus antara ayah dan ibu. Tapi entah apa.

Nah, 17 bulan lalu, keadaan itu berubah. Sebabnya satu, ketika aku mengenalkan Mas Beni (30) kepada ayah dan ibu. Mas Beni ini kekasihku. Aku mengenalnya lewat seorang teman kantor. Dan, meski bagiku orangnya terlalu halus dan tidak tegas, tapi dia baik. 4 bulan dekat, kamu memutuskan berpacaran, dan enam bulan sejak perkenalan, aku bawa dia ke rumah. Aku sudah merasa matang, tak ingin pacaran berlama-lama, dan juga ingin melihat reaksi ayah-ibu, apakah mereka setuju atau tidak. Jika tidak, ya selesai, aku akan berpikir ulang.

Selama di rumah Beni cepat sekali berbaur. Ia "masuk" dengan ibu, ngobrolin masakan sampai harga-harga bahan baku di took klontong. Mereka bahkan bisa tertawa bersama. Dengan ayah, dia juga cepat sekali masuk. Ayah yang biasa dingin, pelan-pelan jadi hangat, terutama saat tahu Beni juga suka main catur. Hari pertama ke rumah, mereka main, dan posisi 1-1, alias seri. Dan untuk pertama kalinya kami makan bersama di satu meja, dengan suasana yang hangat. Ini menyenangkanku.

Selanjutnya Beni jadi rutin ke rumah. Dari yang cuma Sabtu malam, kian lama menjadi Rabu dan Sabtu. Dan ketika 6 bulan lalu kami resmi bertunangan, Beni bebas ke rumahku, kapan saja, meskipun ketika aku tak ada. Tujuannya satu, kalau tidak ngobrol dengan ibu, ya main catur dengan ayah. Anehnya, meski ibu tampak suka dengannya, tapi saat aku mengatakan ingin bertunangan, ibu malah tidak setuju.

"Apa sudah kamu pikir matang-matang," tanya ibu.

Aku kaget juga. Apa yang kurang dari Beni. Kerjanya di bank cukup menjanjikan. Pekertinya baik. Meski tidak terlalu tampan, dia cukup manis dengan kelembutannya. Apa yang kurang? Tapi ibu memberiku satu pertanyaan aneh. "Ibu kurang sreg dengan kehalusannya dan kedekatannya dengan ayahmu." Saat kutanya kenapa, ibu hanya menggeleng. "Ini cuma perasaan ibu saja..." Dan beliau pergi. Aku mengernyitkan dahi.

Pertunangan pun tetap terjadi. Ibu merestui, dengan agak berat hati. Ayah sendiri sejuta persen setuju. Barangkali persetujuan ayah bukan karena apa-apa selain kepentingannya untuk mendapatkan teman hebat bertanding catur. Dan setelah pertunangan itu, intensitas pertandingan catur pun meningkat. Mereka bisa setengah harian bermain kalau hari minggu, dan berhenti untuk makan. Aku dan ibu kadang dicuekin. Beberapa kali, malah aku dan ibu yang pergi jalan-jalan, dan mereka memilih di rumah. Waktu aku protes ke Beni, dia malah menyalahkan ayah.

"Aku tidak enak menolak ajakan ayahmu. Lagipula, masa dia sendirian di rumah? Biarlah ayah punya teman, sekalian aku mengambil hatinya..."

Huh! Sebenarnya Beni pacaran sama ayah atau sama aku sih?!

Sejak Beni akrab dengan ayah, sikap dingin ayah memang berubah. Ia mulai mau bertanya-tanya tentang kerjaku, rencana ke depan, dan mengusulkan agar aku tetap di rumah setelah menikah, karena rumah ini terlalu besar untuk ibu dan ayah.

"Kasihan ibumu kalau kalian nanti pindah," katanya.

Anehnya lagi, ibu justru menganjurkan aku pindah begitu menikah. "Pindahlah, Nduk. Itu akan baik untuk kamu dan suamimu. Soal ibu, kan bisa setiap minggu ibu datang atau kamu yang datang ke mari."

Aku bingung. Mengapa dua orangtuaku selalu bertentangan?

Jawaban itu terjadi sebulan lalu. Hari minggu, dan Beni datang pukul 9 pagi. Setelah sarapan, dia memanaskan mobil rumah. Kami berencana akan pergi untuk menonton. Ada  film yang aku ingin sekali melihatnya. Beni juga. Namun, ketika akan pamit, ayah memanggil Beni, dan akhirnya, gelengan kepala yang aku dapatkan.

"Dengan ibumu saja kenapa, Mur? Biar Beni menemani ayah, lagian ayah masih kalah dua papan nih, kapan lagi ayah membalasnya?"

Aku cuma berpandangan dengan Beni, dan dia hanya mengangkat bahu. Dengan kesal, marah, kecewa, kutarikkan ibu yang berencana pergi memenuhi undangan tetangga, kugas mobil dengan suara menderit, biar mereka tahu kemarahanku. Sampai di mal, lama aku duduk di dalam mobil di parkiran, sampai ibu menarikku ke luar.

"Itulah kenapa ibu minta kalian pindah jika sudah menikah nanti, tidak akan baik untuk suamimu. Ibu takut ayahmu lebih berhasil menaklukkan Beni daripada kamu," kata ibu.

Mungkin karena marah atau tergesa-gesa, sesampai di bioskop malah aku tak membawa dompet. Dengan tergesa kami bergegas kembali ke rumah. Ibu kuminta menunggu di mobil, dan segera aku masuk melalui dapur.

Rumah sepi. Tak ada suara Beni dan ayah yang biasa meneriakkan "skak!" Ke mana mereka? Penasaran, kulangkahkan kaki, mengendap, tak ada mereka di ruang belajar. Papan catur tergeletak, belum disentuh. Tapi, telingaku menangkap suara dari kamar tamu, beringsut aku ke sana. Dan, dari pintu yang tak tertutup sempurna, dari celah yang kecil itu, mataku melihat pemandangan yang memukul jantungku. Mulutku terkunci, airmataku seperti berloncatan ke luar, dan tanpa sadar, aku seperti terbang, berlari ke luar.

Kumasuki mobil seperti dikejar setan, dan di dada ibu, tangisku tumpah. Tumpah, tumpah….

Tak kuhiraukan seruan ibu, pertanyaannya, dan sejuta kebingungannya. Aku hanya ingin menangis, menangis, dan mati. Ketika ibu ingin turun dari mobil, kutahan dia, dan segera kularikan mobil secepatnya. Di jalan raya di Erlangga yang sepi, kuparkirkan mobil, dan kembali tangisku pecah. Mataku seperti melihat kembali tayangan di kamar tamu itu. Ayah yang menindih Beni, Beni yang berteriak, keduanya telanjang. Tuhan... Ada apa dengan ayahku, ada apa dengan Beni? Gilakah mereka?

"Ibu, apakah ayah punya kelainan?" tanyaku, di sela-sela tangis.

"Apa? Apakah mereka melakukannya? Apakah mereka melakukannya? Ya Tuhan...." Ibu tiba-tiba memekik, airmatanya berjatuhan. Aku pun tahu jawabannya. Aku pun tahu semua rahasia sikap ibu dan ayah. Aku pun tahu, aku tidak sendirian menghadapi penderitaan ini. Ibu telah mengalaminya, lebih lama daripada aku.

"Maafkan ibu, Nak. Maafkan.... Ibu kira Beni akan mampu menjaga diri. Ibu kira ayahmu tidak akan begitu lagi... Ibu yang salah, ibu yang terlalu menjaga rahasia ini, sampai mengorbankanmu. Ibu yang salah..." teriaknya sambil merangkuliku. Aku menangis, merangkulnya. Jalan Erlangga itu terasa lengang sekali, mengecil, kian kecil, seperti menghimpit kami.

Setelah lega bertangisan kami pulang. Dan di rumah, kami disambut dengan wajah-wajah sumringah, wajah puas bercinta, yang menyapa kami dengan sangat manisnya. Mereka tidak tahu, kami tahu siapa bajingan berwajah manis di depan kami ini. Aku serasa mau muntah. Tapi ibu lebih parah, dia muntah-muntah, dan harus kubopong ke kamar mandi. Tuhan... Aku tak tahu lagi, bagaimana dengan masa depanku, juga masa depan ibu....

 

Penulis : Administrator