Antara Kretek dan Ayam Bakar

614

Aulia A Muhammad memberi pengantar diskusi didampingi penulis buku Edy Supratno, pengusaha Heru Karyanto, dan sejarawan Rukardi.

Sejarah adalah sebuah bidang yang terus berproses, sehingga kemunculan suatu karya penelitian sejarah akan selalu terbuka untuk dibedah dan diperdebatkan. Dan itu diperkuat dengan pernyataan bahwa sesuatu disebut sebagai sebuah kebenaran bila hal itu belum terbukti keliru. Maka memperbincangkan sejarah sesungguhnya adalah membincangkan proses itu sendiri.

Hal tersebut terungkap dalam acara diskusi bertajuk “Lika-liku Mencari Djamhari” yang digelar di Library Cafe John Dijkstra Institute (JDI), Jl. Taman Srigunting nomor 10 di kawasan Kota Lama, Semarang, Sabtu 25 Maret 2017 . Sebagai topik diskusi adalah buku Djamhari: Penemu Kretek karya sejarahwan asal Kudus, Edy Soepratno, yang diterbitkan oleh Pustaka Ifada, Yogyakarta.

Dihadiri sekitar 50 peserta, acara diskusi dibuka pukul 13.00 WIB oleh redaktur Harian Wawasan yang juga pegiat Lembaga Studi Pers & Informasi (LeSPI), Aulia A Muhammad. Selain menghadirkan penulis bukunya, diskusi juga menampilan jurnalis Rukardi, pengusaha Heru Karyanto, dan tokoh kretek Suwarno M Serad.

Paparan materi paling menarik datang dari Rukardi. Mantan pemimpin redaksi tabloid Cempaka  itu menyorot kualitas buku Djamhari: Penemu Kretek tak hanya dari segi penulisannya, melainkan juga metode penelitian sejarah yang digunakan Edy Supratno. Salah satu yang ia beri penekanan adalah masalah validitas sumber.

Misalnya mengenai penyebutan kali pertama nama H. Djamhari sebagai penemu kretek oleh sejarahwan Belanda, B. van der Reijden, Rukardi mempertanyakan kualitas sumber informasi yang diterima Van Der Reijden sehingga ia bisa menyebut nama tersebut. Menanggapi pertanyaan tersebut, Edy memaparkan bahwa bukunya, sebagaimana karya-karya sejarah lain, terbuka untuk digugat dan diperdebatkan. Karena hanya dengan begitu penelitian sejarah mengenai suatu topik dapat terus diperdalam dan diperluas.

Dalam kesempatan yang sama, Aulia menyampaikan pertanyaan beberapa netizen lewat media sosial yang menyamakan “penemuan” kretek dengan hal sama yang terjadi pada cara mengolah makanan sebagaimana resep ayam bakar. Kretek bukanlah sebuah penemuan (invention) yang sesungguhnya seperti penemuan bola lampu atau gramofon oleh Thomas Alva Edison. Mirip penemuan terhadap cara memasak ayam bakar, penemuan kretek tak bermuara dari sebuah pengembaraan ilmiah, melainkan  lebih kepada kecelakaan.

Dengan begitu, arti penting H. Djamhari terhadap kretek semestinya tak perlu mendapat sorotan berlebihan, karena bisa saja ia menghasilkan resep ampuh meracik tembakau dan cengkih semata karena kebetulan. Terhadap argumen tersebut, Rukardi menyampaikan bahwa penemuan kretek tetap harus diberi penghormatan tersendiri, karena dampak keberadaannya ternyata sanggup melahirkan sebuah industri besar yang kini berskala internasional.

Buku Djamhari: Penemu Kretek sendiri merupakan hasil pelacakan panjang Edy terhadap sosok Djamhari yang selama ini kerap dianggap mitor, bahkan tak jarang dicap hanya sekadar karakter fiktif. Sempat hendak diberi judul Mencari Djamhari, Edy melakukan pelacakan hingga Den Haag dan Leiden di Belanda untuk mewawancarai belasan narasumber dan meneliti dokumen-dokumen dari masa kolonial.

Ia diperkuat oleh tim peneliti yang terdiri atas Hasan Aoni Aziz (Sekjen GAPRI atau Gabungan Pengusaha Rokok Republik Indonesia), Bandelan Amaruddin, Basuki Sugita, dan juga Yohannes Suparmin. Penerjemahan arsip-arsip kuno berbahasa Belanda dibantu oleh penulis sejarah asal Delft, Olivier Johannes Raap. Selanjutnya, budayawan Mohamad Sobary memberikan kata pengantar yang berjudul Bersembunyi di Balik Jasa Besarnya.

Acara diskusi yang digelar LeSPI bekerjasama dengan Forum Kamis Legen (Kalen) ini juga menghadirkan dua narasumber lain, yaitu tokoh kretek Suwarno M Serad dan pengusaha Heru Karyanto. Keduanya lebih banyak membahas soal lika-liku dan etos kerja dunia industri rokok di Kudus, yang lahir sebagai hasil dari penemuan kretek oleh H. Djamhari.

Selain para narasumber utama, beberapa tokoh lain yang ikut menghadiri acara diskusi berkesempatan menyampaikan pandangan masing-masing mengenai kretek. Dua di antaranya adalah Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Industri Hasil Tembakau (LSP-IHT) Warsono dan Hasan Aoni Aziz. Mereka sama-sama memaparkan bahwa hasil akhir industri tembakau sebagai konsekuensi dari penemuan kretek oleh H. Djamhari tak semata hanya berupa rokok, yang oleh mayoritas masyarakat dunia dianggap sebagai produk yang berkonotasi negatif.

Hasan mengungkap bahwa tembakau justru sangat efektif digunakan di dunia pengobatan. Ia menuturkan pengalamannya mengelola klinik pengobatan alternatif Griya Balur Muria yang berlokasi di Kecamatan Bae, Kudus, dengan menggunakan kopi dan rokok kretek kesehatan yang disebut divine kretek. Ribuan pasien berhasil disembuhkan di klinik tersebut, termasuk penderita penyakit berat seperti lupus dan kanker.

Ini menunjukkan bahwa sesungguhnya masih cukup terdapat banyak sisi wajah lain dari tembakau selain rokok yang sudah kadung dicap sebagai pembunuh dan perusak organ dalam manusia. Dan itu sangat perlu diungkap ke permukaan, sehingga gairah untuk mematikan total kretek adalah sama saja dengan memusnahkan salah satu ciri budaya yang sangat khas Indonesia.

Sebelum acara di Semarang, diskusi buku Djamhari: Penemu Kretek sudah pula dilangsungkan di Kudus pada hari Rabu (22/3). Dalam kesempatan itu, hadir pemerhati kretek Djoko Heryanto, wartawan Suara Merdeka Prayitno, dan akademisi STAIN Kudus Moh Rosyid sebagai pembicara mendampingi Edy Supratno.

Penulis : ww
Editor   : awl