Penulis Harus Taat Bahasa


Seorang penulis harus selalu taat bahasa. Tidak bisa seorang penulis mengabaikan hal-hal yang, mungkin meski dianggap elementer, berkaitan dengan kebahasaan.

Hal itu dikuatkan budayawan Triyanto Triwikromo ketika memberi jawaban atas pertanyaan Guspar dalam acara bedah buku Roda Kehidupan karya Gayatri di Hotel Candi Indah Semarang, Selasa (28/3). Triyanto menekankan bahwa kebahasaan adalah aspek paling utama dalam kerja kepenulisan. ''Jadi tidak bisa seorang penulis menyerahkan soal bahasa sebagai urusan editor,'' tegasnya.

Selain menjelaskan soal bahasa, dalam acara itu Triyanto juga mengungkapkan problem dalam tiap proses membaca novel. Apalagi, Gayatri menyatakan bahwa novel Roda Kehidupan adalah novel kenangan.

''Sebagai novel kenangan, sebagaimana yang biasa ditulis NH Dini, saya meragukan hal itu. Sebab, novel kenangan biasanya sesuatu yang langsung ataupun tidak langsung dialami oleh pengarangnya. Lha, dalam buku ini kan ada adegan seks yang luar biasa. Nah, saya ragu, rasanya tidak mungkin bila Bu Gayatri hahahaha...'' ucapnya berderai tawa.

Triyanto lalu lebih meyakini bahwa Roda Kehidupan adalah novel moral atau bertendens sebagaimana yang dijelaskan di bagian akhir. Dan ciri-ciri sebagai novel moral, ujar Triyanto, telah secara jelas diwujudkan dalam novel karya pengarang bernama asli Hj Sri Kartini itu.

''Novel moral atau bertendens itu tidak begitu hirau dengan tokoh. Hal itu yang kita temukan dalam Grotta Azura Sutan Takdir Alisyahbana. Roda Kehidupan juga semacam itu. Yang diutamakan adalah pesan moralnya, tujuannya tercapai lewat apa yang dikatakan tokoh-tokohnya,'' terang Triyanto.

Penulis :
Editor   : awl