Novel yang Tenggelam Bersama Waktu

202

Banyak kritik yang diungkapkan Asrida Ulinuha dalam acara ''Sedekah Budaya: Bedah Novel Roda Kehidupan'' karya Gayatri. Ulin, panggilan akran Asrida, misalnya menyayangkan penyebutan tipe Avanza dalam cerita. Penyebutan merek itu, katanya, membuat dimensi waktu di dalam novel itu jadi tidak jelas.

''Alangkah baiknya jika cuma disebutkan mobil toyota saja, tanpa tipenya, sehingga tidak membingungkan dimeski waktu.''

Selain kritik, Ulin juga mengagumi kepiawaian Gayatri merangkai kisah. Untuk penulis berusia 83 tahun dan mengaku baru belajar menulis novel, Ulin tidak menemukan banyak kesalahan. Meski, dia merasa bahwa menu utama novel, konflik, tidak tersajikan dalam Roda kehidupan. Novel itu terasa datar, mengalir lambat.

''Karena itu, novel ini tidak cocok dibaca bagi mereka yang ingin mengisi waktu. Karena novel ini lebih cocok untuk mereka yang mau tenggelam bersama waktu. Sebabnya apa? Novel ini amat lambat alurnya, dan tidak ada konflik. Malah ada adegan seks yang woww,'' ucapnya, tersenyum.

Beberapa kesalahan berbahasa, menurut Ulin, bukan hal yang perlu untuk dimasalahkan. Meskipun akan lebih baik jika penulis memberikan keterangan atau catatan kaki, terutama yang menyangkut bahasa daerah.

''Karena ceritanya, saya bisa abai dengan beberapa kesalahan tersebut. Tidak mengganggu ketika kita membaca,'' yakinnya.

Keyakinan Ulin itulah yang kemudian memancing Triyanto untuk mengulas lebih jauh tentang beberapa salah logika bahasa di dalam novel itu, yang membuat suasana jadi lebih cair dan banyak tawa. Termasuk aksi Triyanto yang turun dari panggung dan meminta ''sungkem'', meminta maaf, kepada Gayatri karena ''terpaksa'' mengatakan kekurangan novel tersebut.

Penulis :
Editor   : awl