Serempetan di Jalan, Mulyadi Divonis 3 Bulan Penjara

2.2K

 Mulyadi saat bersimpuh usai pembacaan pledoinya di hadapan majelis hakim. Foto: Ali Bustomi

KUDUS – Mulyadi (46), warga Singocandi, Kecamatan Kota ini hanya terunduk lemas saat majelis hakim PN Kudus membacakan vonis untuk dirinya dalam sidang Rabu (12/12). Buruh pabrik dengan penghasilan 40 ribu/hari ini divonis 3 bulan penjara dan denda Rp 5 juta atas kasus kecelakaan lalu lintas berupa serempetan kecil.

Dalam vonis tersebut, majelis hakim berpendapat Mulyadi telah terbukti bersalah dan meyakinkan melanggar pasal 310 ayat 3 UU Lalu Lintas. Vonis tersebut lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum dengan 10 bulan penjara dan denda Rp 5 juta rupiah. Namun, tetap saja Mulyadi merasa vonis tersebut jauh dari rasa keadilan yang diharapkan. ”Terus terang, vonis ini saya rasa masih belum adil,” kata Mulyadi usai sidang.

Ya, kasus Mulyadi sempat menarik perhatian masyarakat Kudus akhir-akhir ini. Kasus tersebut, oleh banyak kalangan sebagai bentuk hukum tajamnya hanya ke bawah dan tumpul ke atas.  Kasus tersebut bermula ketika mengalami kecelakaan pada 30 Agustus silam, dengan menyerempet pengguna jalan lainnya Sulasih.   Sulasih, yang menjadi korban sempat dirawat di RS. Mulyadi pun bertanggung jawab dengan menanggung biaya pengobatan korban sebesar Rp 1,5 juta. Dan saat ini, korban Sulasih pun sudah sembuh.

Namun, tanpa disangka, pihak penyidik Satlantas Polres Kudus malah melanjutkan kasus Mulyadi. Bahkan, tanpa diduga, Mulyadi kemudian ditahan Kejaksaan Negeri Kudus dan berlanjut saat kasusnya sudah masuk ke pengadilan.

Berkali-kali pihak kuasa hukum sudah mengajukan permohonan penangguhan penahanan, tak juga dikabulkan majelis hakim. Bahkan, pihak korban Sulasih pun dalam persidangan juga ikut mengajukan permohonan penangguhan penahanan. Hanya saja, hingga vonis dibacakan Mulyadi tetap mendekam di penjara.

Kuasa hukum Mulyadi, Slamet Riyadi mengatakan, ada yang aneh dan janggal terhadap kasus Mulyadi. Bahkan ia menduga ada upaya mengkriminalisasi Mulyadi dalam kasus kecelakaan beberapa waktu lalu. “Padahal, kedua belah pihak sudah berdamai dan saling memaafkan. Bahkan korban ibu Sulasih menyatakan sudah memaafkan pak Mulyadi sejak awal, dan bersepakat damai,” tandasnya.

Slamet juga tidak memahami bagaimana penyidik tetap memproses kasus itu hingga ke meja pengadilan. Padahal, kata Slamet banyak kasus kecelakaan lain yang lebih besar dan memakan korban jiwa, pelakunya bisa bebas. ”Saya menduga pihak penyidik Satlantas ini hanya kejar target,” kata Slamet.

Ditambahkan, kasus Mulyadi ini bukan persoalan kriminal. Jadi, semestinya ada rasa keadilan yang diberikan hakim dalam memberikan vonis. ”Sebuah kecelakaan yang tidak diharapkan, dan kedua pihak sudah sepakat damai dan memaafkan. Mengapa harus dipaksakan untuk diadili hingga pelaku harus divonis 3 bulan penjara,” tandasnya.

 

 

 

Penulis : as
Editor   : wied