Pantai, Kehilangan, dan Serakan Kenangan

545

''AKU suka pantai,'' katanya, dalam pertemuan kesekian, di siang yang basah, sembari menata langkah menuju air terjun Curuklawe, di Ungaran. ''Tiap berada di pantai, aku mendapatkan dua hal secara bersamaan, kegembiraan dan kesedihan, kehilangan dan kenangan.''

Gadis itu, Lia Chandra, lalu bercerita, pantai adalah lokasi yang kerap dia datangi bersama ibunda. Sejak kecil, dia suka sekali merasakan air yang berjalan di sela-sela jemari kakinya, seperti menggelitik. Ia juga tak selalu tahan menahan godaan buih ombak, memburaikan pasir, atau menangkap hewan-hewan kecil. Tapi, semua itu hilang ketika sang ibu berpulang. Di pantai, dia memang masih mendapatkan kegembiraan yang sama tapi dengan penerimaan yang berbeda. Di pantai, keriangan itu selalu hadir dengan perasaan kehilangan, dan serakan kenangan.

''Aku kehilangan tempat bersandar, teman curhat, dan senyum yang selalu menyetujui pilihan-pilihan hidupku,'' tambahnya.

Tapi air, batu-batu besar, dan matahari yang dipenjarai rindang pepohonan di Curuglawe, dapat membuatnya lepas dari kenangan itu. Berkali-kali dia menggulung celana, dan bertanya-tanya tempat yang mungkin tersedia agar dapat berganti busana. Dia ingin nyebur...

Lia, bagaimanapun, memang masih remaja. Keinginan dan ucapan-ucapan spontannya, acap menunjukkan kebeliaan itu. Tapi, di luar kespontanan itu, dia terlihat amat menjaga diri, berpikir panjang sebelum menjawab, dan cenderung pendiam. Dara kelahiran Semarang 28 Juli 1998 itu mengaku selalu menahan diri untuk tak mencoba memasuki kehidupan orang lain jika tidak diminta.

''Aku suka memiliki teman, aku suka bersinggungan dengan banyak orang. Tapi untuk hal-hal pribadi, aku menjaga...''

Menjaga hal-hal pribadi tidak membuat dia jadi sosok yang tertutup. Jika merasa nyaman, Lia akan membuka dirinya, menceritakan hidupnya, juga mimpi-mimpi kecilnya. Ia misalnya, tak pernah merasa cantik. Pemilik tubuh 162/50 ini juga tak merasa seksi. Itulah sebabnya, ketika banyak fotografer yang menawarinya berpose sensual, dia menolak. Meski, ''Aku suka bagian kaki dan dadaku...'' bisik pemilik ukuran 27/36 untuk pinggang dan dada itu.

Lia juga akan bercerita tentang pria idamannya. Dan pilihannya cukup mengejutkan. Mantan siswi SMK 6 Semarang ini lebih tertarik pada pria yang terbiasa mandiri, dan tidak berlindung di balik harta atau nama orang tua. ''Aku selalu terpesona pada lelaki yang apa adanya, sederhana dan mandiri. Aku agak tak nyaman dengan pria kaya, apalagi yang suka bercerita tentang barang-barang kepunyaannya. Rasanya aneh....''

Berpacaran sejak kelas 2 SMP, Lia merasa cukup tahu jalan pikiran lelaki. Itu juga yang membuatnya dapat membaca situasi. Dia tak mudah tergoda puji-puja, apalagi imingan sesuatu, yang dia tahu pada akhirnya bermuara pada keinginan yang tak akan dapat dia penuhi.

''Satu pesan ibu yang selalu aku ingat, untuk menjaga diri, untuk hidup tanpa tercemari,'' bisiknya, sembari membelalakkan matanya untuk sesi akhir di bawah pohon-pohon tua.

Bagi Lia, mematuhi pesan ibunda adalah cara termudah agar dia selalu terhubung, tersambung, dan tetap merasa ibu hadir dan menjaganya, selamanya. ''Meski tentu, kami selalu terkoneksi di dalam doa,'' ucapnya, lalu berpamit untuk berganti busana.

Penulis : lbl
Editor   :