Sastra Jawa Jangan Sekadar Diunggah di Media Sosial'

53

Pembicara dalam Sarasehan Kepengarangan Sastra Jawa yang digelar Yayasan Podhang di Grand Wahid Hotel Salatiga, akhir pekan lalu. Foto : Ernawaty

SALATIGA - Sastrawan, Triyanto Triwikromo menandaskan, karya sastra Jawa tidak sekadar diunggah di media sosial. mMemanfaatkan link atau web kreatif serta diunggah pula dalam program komputer menjadi alternatif pilihan dalam mengembangkan sastra Jawa.

"Perkembangan sastra jawa ke depan harus bisa masuk dan memanfaatkan dunia maya (virtual) berbasis internet," kata Triyanto Triwikromo saat berlangsungnya Sarasehan Kepengarangan Sastra Jawa yang digelar Yayasan Podhang di Grand Wahid Hotel Salatiga, akhir pekan lalu.

Tampil lembicara lainnya, Budayawan Bambang Sadono, dosen Fakultas Ilmu Budaya Undip Redyanto Noor, dan Budayawan Salatiga Djisno Zero, serta moderator Iriyanto. Hadir pula Ketua Yayasan Podhang Yulistyo Suyatno.

Disampaikan Triyanto Triwikromo, banyak cara dalam memperkaya imajinasi dan pemahaman penikmat sastra jawa. ''Contoh sederhana memasukkan novel berbahasa jawa, puisi jawa, geguritan, dan lainnya ke medis sosial. Ini yang dinamakan hiperteks, yakni sekadar mengunggah sastra di media sosial,'' kata Triyanto.

Dengan kondisi tersebut, disebutkannya, mau tidak mau, para sastrawan jawa, harus bisa akrab memanfaatkan teknologi informasi. Ada pula, cara tercanggih yakni memanfaatkan bahasa program dalam menggunggah sastra jawa di dunia maya, melalui link atau web.

Dengan bahasa program, maka bisa dipadukan sastra jawa (tulisan) dengan video, audio, musik, dan lain sebagainya.  Dengan cara ini maka sastra jawa menjai alih wahana, dari sekadar teks menjadi sastra jawa dalam bentuk lain.

"Bahkan dengan program komputer yang ada, tulisan sastra jawa dibuat berwarna-warni, diberi gambar, dan lainnya. Tentunya bentuk lain sastra Jawa itu lebih lengkap penyajiannya,'' tegas Triyanto.

Sementara itu, Budayawan Bambang Sadono sedikit mengenang bahwa saat dirinya menjadi Wakil Ketua DPRD Jateng, dia ikut berperan terhadap lahirnya Perda Bahasa Jawa.

"Saat itu, di Jateng diwajibkan pada hari tertentu bertutur jawa di dinas dan instansi. Dengan Perda itu, maka bahasa jawa menjadi pendidikan wajib dan tidak boleh disepelekan," pungkas Bambang Sadono.

Selian itu, lanjutnya, bahasa dan sastra jawa menjadi sarana membangun karakter dan budaya.

Lembaga universitas pun kala itu  meluluskan guru bahasa jawa, dan lainnya.  "Yang pasti, Bahasa Jawa merupakan aset budaya di Jawa Tengah yang sangat potensial," tandasnya.

Ekspresi Sosial

Dalam kesempatan itu, dosen FIB Undip Redyanto Noor menerangkan, sebagai media ekspresi sastra harus memenuhi fungsi kemanusiaan dan keberadaan. Sehingga, sastra adalah salah satu wujud aktualisasi.  "Sastra itu adalah sebuah ekspresi sosial-individual yang penciptaan dan penyebarluasannya nyaris tanpa syarat," sebutnya.

Terpisah, Djisno Zero Budayawan asal Salatiga memaparkan perkembangan sastra jawa tersendat. Banyak hal yang membuat sastra jawa tersendat.  "Banyak kelompok atau sanggar yang mengajari bahasa dan sastra jawa, tetapi hasilnya belum optimal. Ia mencontohkan beberapa kali kelompok masyarakat (dinas atau instansi yang diwajibkan berbahasa jawa) dilatih bahasa Jawa. "Namun kenyataannya tidak dipakai lagi," imbuhnya.  

 

 

Penulis : ern
Editor   : wied